Gaulilah Lingkungan Dengan Penuh Cinta dan Kasih Sayang
Gaulilah Lingkungan Dengan Penuh Cinta dan Kasih
Sayang
Akhir dawarsa
ini, masyarakat dunia sedang dilanda oleh kecemasan yang mungkin tidak akan
berujung terkait dengan adanya fenomena pemanasan global yang dirasakan oleh
seluruh populasi dunia. Di seluruh pelosok daerah di Indonesia saja misalnya, sudah
terasa perubahan iklim yang tidak biasa lagi. Sangat berbeda dengan sepuluh
tahun yang lalu pada saat udara masih terasa segar meski di siang hari. Tetapi, sekarang ini, tinggal di kota
ataupun di desa tidak ada bedanya.
Berkaitan dengan lingkungan, adalah sangat berhubungan erat dengan alam
sekitar dan sumber daya alam itu sendiri. Di samping itu berhubungan juga
dengan dampaknya yang kita rasakan terkait dengan perlakuan apa yang kita
berikan kepada lingkungan alam sekitar kita. Entah bagaimana pun efek yang
terjadi, secara langsung kita sendiri yang harus menerima konsekuensinya itu.
Sebenarnya apa yang telah kita lakukan dan apa yang akan kita lakukan? Pertanyaan
ini sangatlah menyindir jika setiap individu di Indonesia mencoba memberikan
tanggapan terhadapnya. Selain menyindir, pertanyaan seperti ini sangat
menantang kita. Dan alangkah bodohnya kita jika kita tidak terusik oleh
pertanyaan ini, dengan kondisi lingkungan kita yang semakin parah. Bagaimana
tidak, para pegawai yang setiap hari berada di dalam ruangan yang sejuk dengan
air conditionernya, atau mobil-mobil dengan ac dan emisinya yang semakin
meningkat, dapat menyebabkan udara menjadi lebih panas.
Banyak yang telah kita lakukan dan banyak sekali perlakuan kita kepada
lingkungan tempat tinggal kita tidak berdasarkan-secara sadar atau pun
tidak-etika. Apalagi jika kita rajin menyaksikan tayangan-tayangan di televisi.
Bencana alam yang terjadi sebenarnya bukan hukum dari alam atas perbuatan kita.
Tetapi hukum dari diri kita sendiri yang tidak bisa mengontrol diri dalam
memperlakukan alam. Memandang alam sebagai tetangga. Sehingga memperlakukan
tetangga seperti kehidupan perkotaan saja yang tidak saling dalam berbagai hal.
Bahkan mengutamakan individualisme
diri masing-masing.
Jangankan dulu ke alam yang begitu luas ini. Halaman rumah kita pun tidak
begitu mendapatkan perhatian khusus sebagai penunjang keberlangsungan kehidupan
sekitar rumah sendiri. Kata orang arab, Ibda Binafsik, kita mulai dari
dalam diri setiap individu kita. Untuk melakukan perenungan atas segala yang
pernah kita lakukan terhadap lingkungan yang dulunya begitu ramah memperlakukan
manusia seperti layaknya raja yang disediakan segala kebutuhannya. Apa pun yang manusia mau, pasti ada di
alam raya ini.
Jadi, dimana salahnya?manusia adalah mahluk Tuhan yang terlalu rakus untuk
diberikan posisi sebagai pengemban amanat oleh-Nya. Bukannya Dia tidak
mengetahui, tetapi Tuhan lebih tahu apa yang akan terjadi dan apa yang ada
dalam diri manusia. Ternyata manusia diuji dengan diberikan posisi kekuasaan
untuk mengolah dan melestarikan alam ini. Hingga muncul sebuah kata hati bahwa
kiamat atau the end of the world adalah imbas dari perlakukan manusia sendiri
terhadap alam dan lingkungan sekitar mereka.
Makanya, kiamat atau apapun namanya tidak wajib terjadi bila manusia sejak
dulu mengakui ketidakmampuannya untuk mengolah dan melestarikan alam ini. Jika
demikian, maka amanat Tuhan akan diberikan kepada yang lain dan kita tidak akan
hidup bebas seperti ini, sekehendak perut saja.
Jika organisasi-organisasi lingkungan berupaya keras melakukan sosialisasi
kepada masyarakat untuk bisa menjaga kemurnian alam ini. Tidak hanya berkoar dengan tujuan untuk mencari
perhatian yang mungkin cenderung bersifat politis. Atau bahkan ada di antara
mereka yang melakukan aksi hanya dengan tujuan money atau artos. Meskipun
uang bukan segalanya tapi dengan uang, banyak yang bisa kita dapatkan. Jika
skala perbandingan antara uang dengan keinginan untuk melakukan aksi adalah
5:1, maka tidak ada salahnya jika menyisakan 2 atau 1 dari uang itu untuk
menumbuhkan keinginan yang hanya setengah saja.
Pemerintah pun perlu memberikan dukungan penuh dan maksimal dalam
pencapaian kelestarian lingkungan. Nampaknya di tingkat inilah adanya praktek
yang memang cenderung dan berpotensi untuk munculnya aksi lingkungan yang lebih
politis lagi. Meski demikian, tidak apa-apa asal program atau kebijakan
mengenai lingkungan lebih meringankan beban yang akan ditanggung oleh anak cucu
mereka nanti. Kebijakan mereka adalah sangat berpengaruh terhadap perilaku
konsumsi masyarakat dan bahkan terhadap pola produksi bahan-bahan yang diambil
dari sumberdaya alam.
Sehingga pada tahap selanjutnya, jika kebijakan lingkungan bisa
terdistribusikan ke seluruh elemen masyarakat, maka yang diperoleh adalah
keseimbangan alam dan linkungan. Dan perlu diketahui jika ada keseimbangan
alam, yang mendukung juga terhadap keseimbangan sosial-politik bahkan
perekonomian.
Mengapa demikian? Salah satu contoh sederhananya, coba kita perhatikan
kehidupan di kota-kota besar yang tingkat cuacanya lebih panas dikarenakan
kepadatan penduduk dan ketidak teraturan tata kota, di sana cenderung munculnya
suatu kondisi di mana masyarakatnya berpotensi lebih besar untuk melakukan
tindakan deviant. Salah satunya adalah adanya individualitas yang tinggi di
antara masyarakat kota. Bagaimana tidak, dengan tetangga pun ngobrol pake
telpon.
Tetapi bandingkan dengan daerah-daerah yang masih sejuk dan segar udaranya.
Orang-orangnya cenderung memiliki solidaritas tinggi dan hidup berdampingan
dengan penuh toleransi serta keharmonisan yang tinggi. Mudah-mudahan mereka
tidak ”masih” seperti itu. Dengan kata lain, jika suatu saat sebuah
daerah dengan kondisi lingkungannya yang masih alamiah dan perilaku sosialnya
masih natural, menjadi sebuah kota besar tetapi penuh dengan nilai-nilai yang
berkaitan dengan penataan ruang dan sebagainya. Maka alangkah idealnya situasi
demikian itu jika mampu bertahan lama.
Di Amerika, banyak sekali LSM atau organisasi yang memang peduli terhadap
lingkungan. Dan di samping itu pula mereka sangat peduli dan reaktif terhadap
kondisi sosialnya. Mereka bisa menciptakan suatu pengkondisian lingkungan alam
sekitar mereka seimbang dengan kondisi lingkungan sosial manusianya.
Selanjutnya, saya fikir, ketimpangan-ketimpangan ini terjadi di negara kita
dikarenakan adanya proses ketergantungan kepada mereka. Terlalu memberikan apa yang kita miliki yang
imbasnya kepada kita sendiri. Termasuk juga menerima apa yang mereka beri secara mentah tanpa filterisasi
yang maksimal. Mereka datang kemari, dan pulang ke negrinya dengan membawa
sumber daya alam yang dihasilkan oleh tanah air kita sendiri.
Muncul pertanyaan lanjutan, kira-kira model pembangunan apa yang paling tepat
agar kita bisa menciptakan suatu lingkungan alam dan sosial yang seimbang,
kondusif dan sesuai dengan harapan kita semua?dengan kata lain, apa yang harus
dilakukan jika kondisi lingkungan alam sekitar kita dan lingkungan sosial kita
telah berubah seperti adanya saat ini kita rasakan?
Alangkah naifnya bangsa ini ketika mereka para pakar yang dengan lantang
dan penuh percaya diri menyuarakan model pembangunan yang diadopsi dari luar
yang secara langsung terasa akibatnya terhadap proses perjalalanan panjang
bangsa ini. Mayoritas mereka lebih percaya diri memperagakan konsep pembangunan
impor dari luar dan sedikit modifikasi di dalam. Apakah bangsa ini tidak
memiliki jati diri yang mungkin bisa diaplikasikan dalam upaya pembangunan dan
peningkatan keberdayaan masyarakat kita.
Sangat terasa sekali pada saat kita mengadopsi ideologi materialisme
misalnya, manusia yang ada di bawah naungan merah putih ini, semakin hari
semakin condong kepada pandangan kasat mata belaka tanpa menghiraukan
nilai-nilai yang ada dalam budaya ketimuran yang cenderung religiusitasnya
tinggi-atau tidak menitikberatkan kepada aspek materi belaka. Yang imbasnya
kepada sebuah pola hidup yang individualistis dan lain sebagainya. Lebih jauh
dari itu, semua yang ada di hadapannya habis tanpa peduli kelestariannya apakah
itu tenaga manusia sesamanya ataupun lingkungan sekitarnya yang secara disadari
atau tidak, dengan adanya ideologi ini, maka lambat laun, alam ini akan menjadi
punah.
Sudah saatnya di lima tahun mendatang dan seterusnya, kita mencoba
perubahan dengan menerapkan model pembangunan yang peduli terhadap mahluk
hidup (manusia dan lingkungan sekitarnya). Saya yakin bahwa apa yang ada
dalam benak para sejarawan adalah sesuatu yang ingin mereka apply ke dalam
kehidupan sehari-hari. Mereka memiliki pengetahuan bagaimana manusia-manusia
Indonesia ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu membangun bangsa ini.
Dan ini tidak bisa hanya dilakukan oleh segelintir orang saja melainkan harus
dilakukan oleh setiap elemen masyarakat alias oleh setiap individu yag memang
peduli kepada generasi penerus kita di masa yang akan datang.
Agar lebih objektif lagi, jawaban dari pertanyaan ini ada pada diri
masing-masing individu. Karena ini lebih menekankan kepada tataran nurani yang
bisa melahirkan jiwa-jiwa dan semangat yang berasal dari dalam lubuk hati
manusia itu sendiri dan bukan pada ranah discourse atau omdo. Bukan berada pada
para teoretis atau ahli berbicara. Tetapi jawaban yang hakiki dari
pertanyaan-pertanyaan ini ada pada orang yang bisa bertindak meskipun hanya
mengyingkirkan duri dari tengah jalan-sebagimana Nabi Muhammad
memberikan anjuran bahwa iman manusia yang terendah adalah menghilangkan duri
dari jalan. Karena itulah langah awal yang bernilai besar dari suatu tindakan
yang lebih berefek besar terhadap kehidupan manusia di alam jagat raya ini.
Selamat bertindak.
Comments
Post a Comment