Jangan takut memaafkan…
Renungan
Jangan takut memaafkan…
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang tahu apa yang
disebut dengan salah dan seperti apa yang disebut benar. Dengan pernyataan
seperti itu saja, semua makhluk Alloh selain manusia seperti hewan atau pun
tumbuhan, tidak tahu bahkan tidak akan pernah tahu salah dan benar. Karena
potensi yang dimilikinya itu, manusia dinilai sebagai mahluk yang memiliki akal
dan hati. Dua piranti yang dahsyat, yang dapat melahirkan segala hal yang wujud
dalam arti sekadar ukuran kemampuannya.
Berdasarkan potensinya itu, manusia ditafsikan bisa
memilah atau melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan keinginannya. Bila kita
coba menjelajah kamus, di sana
dapat ditemukan bahwa potensi memiliki makna sesuatu yang bisa muncul ke
permukaan tanpa batas. Jadi, seorang manusia memiliki kemungkinan untuk
bertingkah laku atau bertindak yang mengarah ke salah maupun ke benar.
Dari sana kita bisa merenungkan bahwa pada saat kita
berinteraksi dengan orang lain, apakah saudara kita sendiri, teman, tetangga bahkan
orang yang tidak kita kenal sekalipun, kita tidak tahu apa isi hatinya dalam
arti apa sesungguhnya yang ia hendak lakukan. Sehingga sangat wajar bila kita
memiliki teman misalnya, kita sudah menganggap dia saudara. Tetapi, ternyata
dia tanpa sepengetahuan kita, melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan.
Berakibat sakitnya hati kita yang meskipun yang ia lakukan adalah hal yang
sangat kecil tapi membuat hati sangat pedih.wajar karena kita adalah manusia.
Pada saat itulah kemanusiaan kita ditantang. Apakah
kita harus mempertahankan rasa dendam kepadanya ataukah kita berusaha melupakan
kesalahannya. Hanya ada dua pilihan, maafkan atau kita akan terjerembab ke
dalam jurang kenistaan yang tanpa kita tahu telah berada di dalamnya karena
berpegang teguh akan rasa dendam kita.
Coba kita renungkan betapa sulitnya terbebas dari
kesalahan. Dan hanya hewanlah yang tidak merasakan bahwa ia bersalah. Seekor
ayam tidak merasa bersalah pada saat membuang kotorannya di depan rumah. Tetapi
manusia sedikitnya akan merasa bersalah bila melakukan sesuatu yang menurut
orang salah. Seberapa gagahnya ia, hati nuraninya akan berkata bahwa yang ia
lakukan adalah salah.
Pentingnya rasa malu
Kalau tadi dikatakan bahwa hewan tidak memiliki rasa
bersalah, begitu juga ia tidak memiliki rasa malu. Lihat saja binatang piaraan
kita, ada tidak yang memakai baju?alangkah indahnya bila semua mahluk termasuk
hewan pun memakai pakaian seperti manusia.
Coba lihat diri dan hayati apakah kadar rasa malu yang
ada sudah sesuai dengan kemanusiaan kita. Bila kadarnya sedikit, maka tentu
status kita hamper menyerupai hewan. Alloh memberikan ketegasan bahwa manusia
kadang lebih parah daripada hewan. Dalam jiwa rakusnya, tidak malu, sombong dan
lain sebagainya.
Oleh karena itu, ada istilah over percaya diri.
Percaya diri cukup alakadarnya saja. Adapun bila seseorang sangat menggebu-gebu
dalam berbicara atau bertindak, ia mungkin memiliki motivasi tertentu untuk
melakukan hal itu. Karena ia memaksakan diri untuk melakukannya demi mencapai
obsesinya.
maafkanlahkah
Kata maaf bagi kita seorang manusia adalah sudah tidak
asing lagi. Kata maaf adalah sangat mudah dan ringan untuk dikatakan. Tetapi
untuk diucapkan dengan perasaan seorang manusia, semua pasti merasa berat.
Mengapa? Karena untuk mengatakannya diperlukan kebesaran jiwa dan kelapangan
dada sebagai seorang manusia biasa.
Alloh adalah Maha dalam segala hal. Memiliki semua
yang berada dan di bumi. Tetapi Alloh sangat pemaaf kepada mahluknya yang
bersalah apakah dosanya besar apalagi kecil. Maka sangat tidak pantas bila
manusia tidak mau atau enggan untuk memaafkan. Manusia hanya seorang mahluk
yang memiliki kelemahan yang tidak terbatas. Seperti memiliki apa-apa padahal
tidak memiliki apa-apa. Seperti besar padahal kecil. Seperti berkuasa padahal
hina dina.
Sebaliknya, pada saat seseorang memaafkan sesamanya,
maka ia terlihat kecil di mata manusia tetapi sangat mulia di hadapan Alloh.
Memaafkan merupakan tindakan yang dihargai sama halnya dengan seratus orang
mati syahid. Harga yang begitu mahalnya, manusia susah untuk melakukannya
karena terhalang oleh hijab kesombongan dalam dirinya. Merasa lebih dari yang
lain, padahal hanya merasa. Merasa besar dari yang lain padalah hanyalah
“merasa”.
Cukup satu hal yang harus kita lakukan agar kita
terbebas dari belenggu malu dan perasaan bersalah. Yaitu memaafkan. Memaafkan
sesama sama halnya membebaskan diri dan melapangkan jalan kehidupan sehingga
terbukalah pintu silaturahmi dan kedekatan dengan sesama yang menjadi modal seseorang
dalam hidup. Ingatlah bahwa dengan silaturrahmi, seseorang bisa menguasai
kehidupan dan tidak ditindas oleh kehidupannya sendiri. Apa yang dicita-citakan
di masa depan, apa yang diinginkan saat sekarang juga, bisa didapat dengan
silaturrahmi. Karena ia adalah investasi manusia dalam hidupnya.
Jika zaman sekarang ada istilah berani mati, maka
hanya manusia yang tidak takut akan mati yang memaksakan diri, melawan ego
dirinya, mengekang nafsu amarahnya dan tidak takut melapangkan dadanya untuk
memberikan kesempatan kepada sesamanya untuk berbuat baik dan membebaskan
mereka dari rasa bersalah. Artinya, orang seperti itulah manusia-manusia yang
bijak, yang sama nilainya dengan seratus orang mati syahid yaitu mereka
orang-orang yang mau memaafkan kesalahan sesamanya.
Janganlah merasa paling benar karena semua orang
selalu bersalah. Disadari ataupun tidak, semua orang pernah menyakiti hati
sesamanya. Sesungguhnya setiap manusia harus selalu memaafkan karena ia pun
harus dimaafkan.
Karena itu, maafkanlah ayah ibu, saudara, teman,
tetangga dan semua orang tanpa memilah-milah dan tanpa panjang berfikir, agar
kita bisa mencapai kebahagiaan di dunia
karena pada saat terpuruk, semua orang mau membantu. Dan di akhirat,
karena Alloh dan para Nabi menjamin untuk memberikan syafaat di akhirat
sehingga kita selamat mencapai keridloan-Nya..Amiin.
Comments
Post a Comment