MEMFUNGSIKAN PESANTREN SEBAGAI COMMUNITY LEARNING CENTER


MEMFUNGSIKAN PESANTREN SEBAGAI
COMMUNITY LEARNING CENTER

ABSTRACT :
            Masyarakat Islam adalah satu komunitas yang berada di tengah luasnya system social yang besar. Mereka memiliki satu lembaga yang khas dengan karakter pendidikan Islamnya yakni lembaga pendidikan Pondok Pesantren. Tetapi dalam memenuhi kebutuhan pendidikan yang hingga saat ini diperlukan oleh masyarakat Islam itu sendiri, diperlukan suatu penambahan muatan-muatan bentuk pembelajaran yang komprehensif dan mampu melayani mereka sepenuhnya berlandaskan need assessment yang maksimal. Maka sangatlah perlu jika Pesantren dijadikan Community Learning Center. Dan lebih dari itu, Community learning Center dalam pesantren hendaknya berisi kegiatan-kegiatan yang menjawab need assessment tadi. Dan tidak membatasi diri pada segelintir kegiatan saja melainkan memberikan pembelajaran kepada masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan dalam berbagai aspek kehidupannya.
            Islamic community is a community lies among huge social system. They have one institution that has exclusive Islamic education system called Pesantren. After that, in filling education need which it still run until now is needed by Islamic community themselves, it is needed that one range of adding multi contents comprehensif educational form and can provide them based on maximal need assessment. Then, its necessary to make it become a Community Learning Center. And more than that, Community Learning Center in the Pesantren consist activities which answer all the need assessment. And is not limited it self to a little of activities only but give them learning activities in the way to solve ptoblems in their whole living aspects.
Keyword: Pesantren, Community Learning Center, Community Learning Center Programs.

A.    PENDAHULUAN
      Masyarakat Islam merupakan satu system mikro yang hidup di tengah-tengah populasi dunia yang besar. Oleh karena itu masyarakat islam memiliki kecenderungan tinggi untuk bisa terpengaruhi oleh system yang lebih besar darinya. Apakah itu dalam hal ekonomi, social maupun politik. Yang menyebabkan adanya militansi-militansi bahkan gdegradasi moralitas di beberapa kalangan komunitas masyarakat islam itu sendiri. Dan lebih jauh lagi hal itu akan muncul pada saat komunitas masyarakat islam berada di dalam skala kesenjangan yang tinggi antara kemiskinan dan ketidakberdayaan dengan kesejahteraan dan kemajuan.
      Keempat istilah tersebut sangat menentukan apakah suatu komunitas mampu untuk hidup layak atau tidak. Kemiskinan dan ketidak berdayaan menunjukkan kondisi di mana suatu masyarakat tidak mampu untuk berbuat banyak terhadap kehidupannya. Tidak memiliki sumberdaya untuk bergerak maju dan bersaing dengan masyarakat lainnya. Sehingga menyebabkan tidak tercukupinya beberapa kebutuhan yang utama misalnya kesehatan dan pendidikan. Apalagi saat ini biaya kesehatan dan pendidikan begitu tingga dan berkesan bahwa kualitas dari pendidikan dan kesehatan yang bagus hanya diperuntukan bagi mereka yang mampu.
      Sedangkan kesejahteraan dan kemajuan menunjukkan kondisi bahwa suatu masyarakat mampu untuk melakukan segala apa yang diinginkannya dan bergerak secara dinamis menuju perubahan. Sehingga segala kebutuhan termasuk kebutuhan tambahan pun mampu untuk dipenuhi.  Ini dikarenakan mereka memiliki sumber daya tinggi secara financial maupun sumber daya yang ada di dalam dirinya secara emosi.
      Kondisi lembaga pendidikan islam khususnya pesantren hingga saat ini meskipun masih eksis dan berada di tengah-tengah lingkungan pendidikan modern, selalu menyesuaikan diri dengan apa yang menjadi tuntutan atau dengan kata lain kebutuhan masyarakat. Di mana kebutuhan masyarakat tersebut begitu kompleks dan menuntut adanya kepedulian yang serius untuk ditangani. Tentunya kebutuhan masyarakat ini tidak dalam wujud permintaan dari masyarakat secara langsung melainkan bagaimana pesantren mampu melihat dan mengantisipasi segala perubahan yang sedang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat itu sendiri.
      Sebagai lembaga pendidikan yang menawarkan pendidikan spiritual secara spesifik, maka pendidikan yang dijalankan oleh pesantren harus mampu menjawab segala bentuk tantangan zaman khususnya pengaruh dari luar. sehingga eksistensi dari lembaga pendidikan pesantren tersebut mampu dierhitungkan sebagai lembaga pendidikan alternatif dan sebagai jalan keluar dari segala permasalahan yang saat ini selalu saja ada di dalam masyarakat.
      Pendidikan sebagai satu-satunya cara untuk mencapai cita dan impian seseorang, hingga saat ini semakin berkembang dan terus menerus secara dinamis memperbaiki dirinya ke arah system yang semakin meningkat dalam hal metodologi yang beriringan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini, pesantren harus mampu dan berani berubah tanpa menghilangkan nilai-nilai esensial yang sejak dahulu tertanam di dalam jiwa pesantren tersebut.
      Menurut Soelaiman Yoesoef, bentuk-bentuk kegiatan Pendidikan Luar Sekolah itu salah satunya adalah PKB atau Pusat Kegiatan Belajar yang terdapat di dalam masyarakat Luas seperti Pesantren, perpustakaan, gedung kesenian, toko, rumah ibadah, kebun percobaan dan lain-lain(Yoesoef, 2004: 64). Ini memiliki makna bahwa pesantren harus bisa mengelaborasi serta memodifikasi sistem pendidikan yang ada. Lebih tepatnya mungkin menambah muatan-muatan lokal dengan kolaborasi lembaga pendidikan yang saat ini sedang digandrungi oleh masyarakat dan untuk mendukung keberhasilan program kebijakan yang dicetuskan oleh pemerintah. khususnya dalam cakupan Pendidikan Non Formal. Dengan menyerap segala bentuk kegiatan pembelajaran yang ditujukan bagi masyarakat yang include di dalam maupun di luar pesantren.

B.     LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM KEINDONESIAAN
      Indonesia adalah salah satu Negara yang nilai-nilai budayanya cukup diperhitungkan oleh dunia. Keragaman budaya yang terlahir dari luasnya wilayah Negara kesatuan RI memberikan kesan bahwa Indonesia adalah Negara yang begitu kaya raya dalam segala aspek kehidupan. Tentu saja, pertimbangan ini lahir karena Indonesia memiliki sejarah yang begitu agung hingga terwujudnya kemandirian bangsa ini. sejak ratusan tahun lalu Indonesia memiliki nilai budaya leluhur yang khas dan memiliki karakteristiknya tersendiri.
      Kekhasan dan karakter bangsa tersebut apakah itu dalam hal kehidupan sosial politik maupun potensi manusia-manusianya yang didukung dengan pendidikan yang khas menjadikan kehidupannya tersebut bagitu berbeda dengan bangsa yang lain. Jika kita menilik beberapa puluh tahun ke belakang, sejak Islam datang, kehidupan masyarakat Indonesia tidak seperti sekarang ini. di mana masyarakat Indonesia yang saat itu terdiri dari berbegai rumpun manusia, terbentuk ke dalam kehidupan yang didasari oleh system pemerintahan kerajaan yang memang cenderung kepada konflik yang mengarah kepada integrasi nusantara oleh gajah mada.
      Islam datang ke Indonesia dengan membawa angin segar perdamaian, kemaslahatan, dan persatuan antara sesama saudara yang melahirkan jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan antara sesama rumpun melayu nusantara. Ini pun tidak terlepas dari kuatnya pengaruh tokoh Islam yang mampu menciptakan integritas di antara mereka. Tokoh-tokoh muslim saat itu sebagai pembawa agama Islam adalah orang-orang yang sangat mumpuni dalam hal ilmu agama.
      Kemampuan tokoh muslim saat itu untuk menyebarkan agama diwujudkan dalam beberapa proses pembelajaran dan pendidikan kepada orang-orang pribumi. Segala keingintahuan mereka dijawab melalui jawaban-jawaban khas sesuai dengan apa  yang ada di dalam al-Quran dan Sunnah. Selain itu, mereka pun memberikan pengetahuan-pengetahuan yang dapat mendukung terhadap kehidupan orang pribumi saat itu.
      Berbicara mengenai pendidikan sangat berkaitan erat dengan bagaimana proses pendidikan yang berlangsung. Dan hal yang sangat dicoroti dalam bagaimana proses berlangsungnya pendidikan, ditenrukan oleh seperti apa pendidikan melembaga di dalam masyarakat. Jadi, lembaga pendidikan begitu mempengaruhi bagaimana proses berlangsungnya pendidikan tersebut.
      Sistem dan pola pendidikan pesantren yang melembaga dalam dunia pendidikan Islam sejak dulu berawal dari lingkungan kemasjidan. Atau dengan kata lain tidak seperti sekarang yang melembaga dalam bentuk formal atau sekolah. Dengan berpusat kepada kegiatan kemasjidan, para ulama mengajarkan ilmu-ilmu agama, sastra, bahasa dan lain-lain melalui pola pendidikan yang tidak formal. terkadang dilakukan di rumah-rumah ulama tersebut. Dalam sejarah, ini pernah berlangsung pada zaman periode Abbasiyyah di mana mesjid difungsikan sebagai sekolah (Hitti: 512).

[1] Dan menurut Pigeaud dan De Graff, masjid di posisikan sebagai jenis pusat pertama dalam Islam (Bruinessen, 1999: 16).
      Dan fenomena ini ada juga di lingkungan masyarakat Indonesia beberapa ratus tahun lalu. Sang kiayi memberikan pengajaran kepada anak didik melalui pola yang tidak formal. melalui metode bandongan atau kiayi membaca dan menjelaskan buku yang dijadikan sumber rujukan materi pelajaran yang diberikan.
      Sistem pendidikan pesantren yang ada saat itu tidak memiliki target pencapaian khusus dalam hal waktu. Sehingga anak didik atau santri yang mengikuti pembelajaran terkadang berlangsung selama  puluhan tahun lamanya. Dan memang kesan santri yang menjalani dalam waktu yang begitu lama dihargai sebagai santri yang sangat diakui kemampuannya dalam hal keilmuan agama. Sehingga sepulangnya dari tempat dia belajar, dia bermukim dan secara tidak langsung banyak dikunjungi oleh calon anak didik baginya.
      Pola pendidikan pesantren seperti ini dikenal dengan pola pendidikan islam tradisional. Yakni sistem pendidikan islam yang bertahan dalam pola dan bentuk seperti apa yang dilakukan oleh para ulama terdahulu.

C.    PENGARUH PEMIKIRAN ASING TERHADAP PESANTREN
      Pengaruh pemikiran asing yang dimaksud adalah perubahan sikap dan perilaku yang mewujudkan suatu tatanan budaya tertentu. sehingga jika kita berbicara mengenai hal ini, maka erat kaitannya dengan akulturasi dan difusi antar budaya asing dengan budaya lokal. Yang menyebabkan adanya perubahan yang signifikan dalam pola hidup orang lokal sendiri. Disadari atau pun tidak oleh mereka, perubahan tersebut jelas sekali terlihat dalam kehiduapan sehari-hari dan bahkan mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama.
      Pengaruh budaya dan pemikiran orang asing memiliki beberapa dampak yang negatif dan positif. Tentunya ini bisa kita lihat pada aspek-aspek kehidupan masyarakat kita yang hingga saat ini semakin kental dengan pola perilaku kebarat-baratan. Dan pengaruh atau dampaknya tersebut mampu menghancurkan daya tahan kebudayaan dan pemikiran kita yang tradisional. Yang lambat laun hal ini menyebabkan eksistensi identitas sebagai bangsa Indonesia yang religius dan cenderung kepada primordialismenya yang tinggi semakin menurun. Tetapi masih banyak dampak positif yang memang patut untuk diperhitungkan sebagai cenderamata dari mereka untuk diaplikasikan di negeri Indonesia.
      Setidaknya untuk beberapa dekade terakhir ada hal-hal yang menyebabkan mengapa masyarakat kita dipengaruhi oleh pemikiran asing yang terlihat dalam tatanan sistem sosial budaya;
      Pertama, sejak dulu, banyak pelajar dari Indonesia yang ditugaskan untuk belajar di luar negeri. Dan pada saat mereka pulang ada yang mencoba mengaplikasikan apa yang mereka dapatkan di sana ke dalam sistem masyarakat kita. Sehingga nilai-nilai sosial budaya yang sejak dahulu ada dianut oleh masyarakat kita lambat laun menjadi semakin menghilang karena tertindih oleh input-input baru dan secara tidak langsung terjadi difusi-difusi yang menyebabkan adanya perubahan sistem sosial budaya kita.
      Kedua, masyarakat kita yang cenderung gandrung terhadap media massa begitu kentalnya dengan kesan bahwa media memiliki fungsi sebagai pembentuk jati diri yang melahirkan kepribadian, perilaku dan gaya hidup masyarakat sesuai dengan media massa tersebut. Media yang bersifat global, artinya berisi tentang informasi-informasi dari seluruh penjuru dunia. Menyebabkan adanya sebuah trend setter yang dijadikan tolok ukur dalam ketiga hal di atas yakni kepribadian, perilaku dan gaya hidup tersebut.
      Dari media tersebut masyarakat kita melihat adanya sesuatu yang mereka fikir mampu menjadikan kehidupan menjadi lebih baik meskipun terkadang hal itu adalah bebas nilai. Yang jelas, muatan-muatan negatif dan positif yang ada di dalam substansi informasi yang disebarluaskan oleh media massa mesti disaring lebih lanjut. Karena kita percaya bahwa apa pun yang menjadi pokok pembicaraan dalam media massa adalah sesuatu yang masih perlu dikaji ulang walaupun hal itu adalah sesuatu yang begitu positif.
      Ketiga, perubahan sosial dan budaya yang terjadi dalam masyarakat kita merupakan sesuatu yang dihasilkan dari akulturasi dan proses difusi super cepat melalui media. Tidak memerlukan adanya penentangan terhadapa isi dari media tersebut karena bersifat satu arah dan irreversible atau tidak bisa diulang kembali. Hanya dengan satu kali tayang maka pengaruh yang diberikan kepada audiens adalah sangat besar.
      Salah satu dampaknya adalah dalam sistem pendidikan Islam khususnya di Indonesia. Tentunya, karena sistem pendidikan kita memang dipengaruhi oleh sistem pendidikan barat, maka pesantren hingga saat ini masih ada juga yang tidak mengikuti trend tersebut. Tetapi di antaranya masih ada yang  bertahan dalam tradisionalismenya. Dan justeru mengembangkan pola pendidikan yang ada hanya dengan sedikit memodifikasi secara metodis maupun teknis.
      Adapun pesantren itu sendiri adalah sebuah lembaga yang murni keindonesiaan. Meskipun ada kemiripan sekaligus pengaruh dari lembaga pendidikan di luar negeri khususnya Makkah sebagai sumber awal dari adanya pesantren, tetapi ada banyak perbedaan dengannya. Ini sudah mengisyaratkan bahwa pesantren merupakan hasil dari difusi pemikiran asing(1999: 21). Sebenarnya banyak sekali pengaruh dari negara-negara asing selain negara dari wilayah timur tengah.
      Di samping itu, hingga saat ini banyak terlihat oleh kita bahwa pesantren sangat banyak dipengaruhi oleh pengaruh asing, terutama dalam hal adopsi sistem pendidikan khususnya dalam hal kurikulum. Misalnya, disebabkan oleh adanya penjajahan Belanda selama ratusan tahun lamanya, menyisakan banyak pengaruh terhadap sistem pendidikan pesantren khususnya sistem pendidikan indonesia sendiri. Jika pesantren hanya memberikan pengetahuan dan mendidik santri menjadi seseorang yang mumpuni dalam hal ilmu agama, maka sistem pendidikan Belanda memberikan suatu pencerahan tersendiri dimana santri sebagai anak didik diberi keahlian lain selain wawasan keagamaan (Nata, 2005: 94).
      Selanjutnya, seorang Kiayi bernama KH. Imam Zarkasyi memiliki alasan mengapa dia merubah sistem Pondok Pesantren Modern Gontor menjadi modern, karena pesantren tradisional hanya mengajarkan wawasan keagamaan, metodologi pembelajarannya kurang dapat memberdayakan lulusannya, dan manajemennya yang sentralistik, tertutup, emosional, dan tidak demokratis. Maka dia melakukan studi banding ke beberapa lembaga pendidikan Islam di beberapa negara seperti universitas al-Azhar di Mesir, Pondok Syanggit di Afrika Utara, Universitas Muslim Aligarch di India, dan Perguruan Shantiniketan yang didirikan oleh seorang filsof Hindu India (2005: 207).   
Salah satu dampak yang di
      Dalam data statistik lembaga pendidikan islam di indonesia, disebutkan bahwa berdasarkan tipe Pondok Pesantren, terdapat sebanyak 8.001 (37,2%) merupakan Pondok Pesantren Salafiyah, dan 3.881 (18,0%) Ashriyah, serta 9.639 (44,8%) sebagai Pondok Pesantren Kombinasi (Dirjen Pendis: 105). Bukan modern atau tradisional tetapi masalahnya adalah bagaimana pesantren mampu menjadi fasilitator atau wahana bagi masyarakat sekitar sebagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan tertentu dengan tujuan untuk melanggengkan education for all yang sesungguhnya.

D.    TANTANGAN MASYARAKAT ISLAM MASA DEPAN
      Sebagai bagian dari populasi dunia, masyarakat Islam terbentuk dari individu-individu yang juga sama dengan masyarakat yang lainnya. Memiliki potensi laten dalam dirinya yang cenderung untuk bisa dipengaruhi oleh gelombang perubahan yang tidak akan pernah berhenti dari waktu ke waktu. Yakni sebuah perubahan yang menghasilkan suatu pola perilaku dalam berbagai aspek kehidupan yang hingga saat ini menantang antisipasi dari para tokoh dan pemuka masyarakat islam itu sendiri.
      Wujud perubahan dalam perilaku pada intinya adalah dalam hal degradasi nilai yang mereka yakini selama ini. mungkin ini inti dari segala perubahan yang terlihat sejak bergulirnya perubahan social yang digiring oleh globalisasi. Dari tradisionalisme menuju modernisme, dari sosialisme dan altruisme kepada individualisme, dan dari spiritualisme menuju materialisme dan berakhir pada liberalisme. Ini semua adalah sebagian dari fenomena global yang mewakili kondisi masyarakat dunia di masa depan seiring dengan bergulirnya posmodernisme pada beberapa dasa warsa yang lalu.
      kondisi kedua selain degradasi nilai di atas yang juga bisa dianggap efek dari adanya degradasi nilai tersebut adalah adanya semangat kompetisi yang semakin tinggi. Yakni semangat kompetisi yang selalu mendorong manusia untuk saling mendahului dalam pemenuhan kebutuhan hidup apakah itu yang primer, sekunder maupun tersier. Yang memiliki imbas tersendiri yakni adanya poverty yang begitu meninggi dan kesenjangan sosial yang semakin meningkat.
      Ketiga, adanya fenomena hegemoni dari negara-negara besar yang menuntut suatu ketahanan bangsa yang harus dilandasi dengan ketahanan masyarakat dalam berbagai segi. Apakah itu dalam aspek intelektual, spiritual maupun emosional. Dan ini tidak bisa diraih melainkan melalui pemantapan kualitas kapasitas diri setiap individu dalam masyarakat dalam proses-proses pendidikan yang dikembangkan dan berkualitas. Karena jika tidak diupayakan untuk diadakan antisipasi, maka seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara dalam segi sosial maupun budaya akan tercerabuti dan kehilangan jati diri.
      Keempat, keterpurukan dan ketidak berdayaan yang mungkin saja dihadapi di masa depan disebabkan oleh ketidakmampuan masyarakat dalam mengatur dan mengendalikan potensinya. Ini akan menyebabkan kemiskinan dan ketertinggalan yang berlanjut dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, upaya pemberdayaan melalui pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan dalam menghadapi permasalahan kemiskinan dan ketertinggalan ini.
      Semua variabel di atas akan memiliki kemungkinan besar terjadi menimpa masyarakat yang tidak memiliki kualitas diri yang tinggi. Karena semakin tinggi tekanan bila menimpa sebuah masyarakat yang lemah dalam berbagai dimensi dirinya, maka hanya akan menyisakan kelemahan yang menjadikan mereka menjadi terpuruk, tertinggal dan hanya menjadi generasi pengikut yang tidak mempunyai harga diri. Diawali dengan pembangunan masyarakat desa yang ditumpukan kepada pengembangan kapasitas individu yang membentuk keluarga-keluarga yang  berprinsip dan normatif tentunya berpandangan dan berwawasan luas serta tanggap terhadap segala bentuk perubahan.


E.     MASYARAKAT ISLAM BERDAYA SAING SEBAGAI ORIENTASI
      Indeks Pembangunan Manusia atau Human Depelovment Index adalah satu bentuk standar yang mengklasifikasikan negara-negara berdasarkan tiga kriteria yakni Kesehatan, Pendidikan, dan Ekonomi. Ketiga aspek ini merupakan faktor pendorong kemajuan pembangunan di suatu negara dan sekaligus secara tidak langsung merupakan indikator bahwa suatu negara memiliki daya untuk bersaing yang rendah dengan negara lainnya.
      Dalam tulisan ini tidak akan dikaji bagaimana kesenjangan yang ada pada ketiga aspek di atas tetapi hanya akan menyoroti aspek pendidikan sebagai salah satu faktor priorotas pembentuk dan pembangun sumber daya manusia. Di mana kualitas sumber daya manusia tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas sistem pendidikan yang melembaga di dalam suatu negara. Yang secara relatif otomatis mampu mendongkrak kemajuan negara itu sendiri. Dengan tidak cenderung kepada satu sistem pendidikan apa pun juga, suatu negara mesti berpijak kepada bagaimana pendidikan mampu diberdayakan untuk memberdayakan pula kualitas kehidupan manusia.
            Dalam data statistik pendidikan tahun 2005-2007 yang dikeluarkan oleh UNESCO bahwa Indonesia memiliki jumlah populasi illiterasi terbanyak kedua setelah China yakni sebanyak 13.267.000 orang dewasa dan 1.432.000 anak-anak (Unesco, 2009: 189). Ini menunjukkan bahwa ;
    • Tingkat illiterasi di Indonesia terbilang cukup tinggi yang juga. Banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini muncul. Salah satunya adalah bahwa mereka memang tidak mampu untuk melanjutkan sekolah karena masalah biaya, karena tidak mau untuk melanjutkan, dan lain-lain.
    • Merepresentasikan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang masih rendah. Jika berbicara kualitas maka sangat berkaitan erat dengan bagaimana mereka menjalani kehidupan yang tidak sehat, tidak harmoni, dan lebih dari itu yaitu tidak mampu untuk hidup mandiri. Seperti dikemukakan di atas bahwa salah satu indikator yang ada di dalam IPM adalah tingkat pendidikan masyarakat. Maka pendidikan berfungsi sebagai satu-satunya pendorong kualitas sumber daya manusia.
    • Lebih dari itu, menandai pula adanya potensi ketertinggalan dan kemiskinan yang akan meningkat lagi jika dibiarkan. Antara literasi dengan kemiskinan dan ketertinggalan adalah sangat berkaitan erat. Karena orang yang tidak mampu membaca, pada zaman sekarang ini cenderung masuk ke dalam kategori manusia yang daya nalarnya di bawah rata-rata. Dengan pertimbangan bahwa membaca merupakan aktifitas manusia zaman sekarang.
    • Berpotensi terhadap ketidakmampuan masyarakat kita di dalam kompetisi dunia khususnya dalam bidang pendidikan.
      Selain menjadi sebuah tantangan yang harus ditanggapi secara responsif, ini pun harus menjadi satu pijakan bagi para praktisi pendidikan maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Bahwa di masa yang akan datang nanti, tujuan praktek pendidikan yang ada saat ini dengan hasil yang demikian adanya harus lebih ditingkatkan dalam faktor input, proses maupun outputnya itu. Karena apa yang akan dihadapai nanti adalah sesuatu realitas yang lebih dari apa yang kita hadapi saat ini.
      Alvin Toffler mengutip pernyataan seorang ahli psikologi yakni Herbert Gerjuoy: “The new education must teach the individual how to classify and reclassify information, how to evaluate its veracity, how to change categories when necessary, how to move from the concrete to the abstract and back, how to look at problems from a new direction—how to teach himself. Tomorrow's illiterate will not be the man who can't read; he will be the man who has not learned how to learn”.
      Di masa yang akan datang, pendidikan harus berperan dalam mendidik manusia-manusia agar bisa lebih mampu dalam mengklasifikasikan informasi, mengevaluasi kebenarannya, merubah kategori-kategori, bergerak dari yang kongkrit menuju sesuatu yang abstrak dan sebaliknya, melihat berbagai permasalahan dari satu cara pandang yang baru dan mampu mengajar dirinya sendiri. Karena orang yang tergolong kepada illiterasi di masa yang akan datang tidak akan menjadi orang yang tidak bisa membaca tetapi akan menjadi orang yang belum belajar bagaimana caranya belajar.
      Secara global, bisa diambil satu benang merah bahwa manusia yang akan hidup di masa yang akan datang harus memiliki beberapa karakter di bawah ini:
o   Memiliki kemandirian yang optimal
Yakni kemandirian yang didasari oleh kompetensi dan kapabilitas yang spesifik. Sehingga dia bisa mencukupi hidup dengan sendirinya tanpa mengandalkan dan bertumpu kepada tenaga orang lain. Tetapi dia bisa diandalkan dan berperan dalam membangun komunitasnya dengan sikap progressif dalam meningkatkan kualitas kapasitas mereka.
o   Memiliki maturitas dalam dirinya
Dalam hal ini manusia yang akan hidup di masa yang akan datang harus memiliki kedewasaan sehingga dia dalam menjalani kehidupan memiliki berbagai alternatif yang berbentuk solusi cerdas dan cemerlang, dilandasi oleh wawasan luas dan cara pandang yang jauh. Sehingga berbagai problematika hidup bisa diselesaikan dengan cara yang bijaksana dan tidak merugikan terhadap generasi selanjutnya.
o   Mampu menghadapi segala bentuk perubahan yang terjadi
Dalam arti mampu menyesuaikan diri dengan segala bentuk perubahan yang terjadi yang disebut oleh Toffler dengan istilah stability zone. Bukan berarti lingkungan merubah dirinya tetapi dia mampu menghadapi arus tanpa menyebabkan dirinya terlindas dengan tujuan mempertahankan keberlangsungan hidupnya dan generasinya.
F.     PROGRAM COMMUNITY LEARNING CENTER
      Community Learning Center dibentuk pada tahun 1998 yang ada dalam kerangka program Asia Fasifik Programme of Education For All (APPEAL). Adapun tujuan utamanya adalah untuk mengurangi angka illiterasi dan untuk menunjang berlangsungnya program pendidikan untuk semua terutama bagi mereka yang tidak beruntung dan miskin. Maksud adanya CLC ini adalah untuk memajukan pengembangan sumberdaya manusia melalui penyediaan kesempatan pembelajaran bagi semua orang (Unesco, 2008: 2).
      Adapun kegiatan yang diadakan di dalam CLC ini adalah meliputi kegiatan yang menyentuh beberapa aspek dalam program pengembangan komunitas seperti kesehatan, pertanian, pendidikan, kewirausahaan bagi anak-anak putus sekolah. Remaja, wanita, dan orang-orang yang berada di pedesaan termasuk di dalamnya mereka yang tidak mampu.
      The community learning centre (CLC) is defined as a local educational institution outside the formal education system, for villages or urban areas, usually set up and managed by local people to provide various learning opportunities for community development and improvement of people’s quality of life (UNESCO, 2001: 3). Yakni sebuah lembaga pendidikan yang berada di luar system pendidikan formal, untuk daerah perkampungan atau perkotaan, yang biasanya diatur dan dikelola oleh penduduk lokal untuk menyediakan beragam pembelajaran dengan maksud untuk pengembangan masyarakat dan peningkatan kualitas kehidupan manusia.
      Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26 ayat 4 tahun 2003 tentang Pendidikan Non Formal disebutkan bahwa satuan PNF itu sendiri mencakup kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, dan pusat kegiatan belajar masyarakat.[1] adapun Community Learning Center yang diprogramkan oleh UNESCO diartikan dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.
      Community learning center adalah sesuatu yang baru dan sejak beberapa decade terakhir, bentuk community learning center sudah ada di Indonesia dalam format pendidikan nonformal. Yakni dalam bentuk paket pendidikan kesetaraan atau yang kita kenal dengan program paket A (setara SD), paket B (setara SMP), dan paket C (setara SMA). Yang semuanya masuk ke dalam program PKBM tadi (2008: 44).
      Pada tahun 2005, program CLC ini disosialisasikan kepada beberapa Negara termasuk salah satunya Indonesia. Pada tahap selanjutnya setelah program ini dijalankan, maka pemerintah Indonesia memberikan laporan bahwa CLC mampu melayani masyarakat sebagai tempat untuk mendapatkan informasi-informasi berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Selain itu, di Negara-negara lainnya pun demikian, seperti di Vietnam, Thailand, dan beberapa Negara Asia dan Arab lainnya (2008: 2).
      Mengenai detil kegiatan yang ada di dalam program CLC, sebenarnya tidak tentu karena CLC sebagai suatu wadah, berfungsi untuk menerima aspirasi masyarakat dalam hal kebutuhan mereka. Apakah itu dalam memenuhi kebutuhan mereka dalam hal pendidikan, informasi tentang mata pencaharian mereka sebagai petani, atau untuk mendorong dan meningkatkan semangat kewirausahaan mereka, atau pun untuk memberikan mereka keahlian-keahlian tertentu untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka.
      Dan untuk keberhasilan program ini, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan yang terangkum di dalam perencanaan dan manajemen CLC sebagai berikut (UNESCO & APPEAL: 3):
1.      Struktur Organisasi atau siapa saja yang berwenang atau terlibat dalam menjalankan program ini.
2.      perputaran perencanaan dan manajemen terdiri dari;
o   penaksiran kebutuhan
o   merencanakan dan mengadakan kegiatan CLC
o   monitoring dan evaluasi
o   dokumentasi dan disseminasi hasil
3.      strategi pengembangan sumber daya berfokus kepada;
o   pengembangan materi
o   membangun kapasitas personel CLC
4.      Keberhasilan CLC bergantung kepada sumber pendukung internal dan eksternal yang dicapai melalui;
o   Mengerahkan dan mengatur sumber daya
o   Menciptakan jaringan dan link dengan organisasi-organisasi lainnya.
      Adapun program atau kegiatan-kegiatan yang bisa dilaksanakan di dalam sebuah CLC atau PKBM bergantung kepada kebutuhan yang telah diasses sebelumnya. Dan sebagai salah satu model ideal PKBM yang ada saat ini khususnya di Jawa Barat adalah PKBM Jayagiri yang memiliki beberapa program kegiatan sebagai berikut:
1.      Program Kejar Paket A, B dan C
            PKBM Jaya­giri mempunyai program kesetaraan yang teridiri dari kejar Paket A untuk tingkat SD kejar Paket B untuk SMP dan kejar Paket C untuk SMA dengan siswa lebih dari 20 orang. Para siswa adalah masyarakat sekitar Jayagiri dan Lembang yang putus sekolah.
2.      Keaksaraan Fungsional
            Program ini diselenggarakan untuk warga masyarakat buta aksara, dengan metode pembelajaran me­nge­nal aksara plus ketram­pil­an. Dalam hal ini PKBM Jayagiri be­ker­jasama dengan BP-PLSP Regio­nal II Jayagiri.
3.      TBM (Taman Bacaan Masyarakat)
            Sebagai sarana penunjang berlangsungnya pembelajaran Program-program di PKBM Jayagiri dan juga sebagai sarana penambahan wawa­san bagi warga masyarakat diling­kungan Desa. Di TBM ini antara lain menyediakan bu­ku-buku bacaan untuk umum, komik, buku pelajaran sekolah, buku dongeng anak, modul keterampilan., dll.
4.      Tata Rias Pengantin
            Untuk meningkatkan ke­wirausahaan bagi warga masyara­kat serta menumbuhkan motivasi untuk mendapatkan penghasil­an tambahan, dan membuka lapangan kerja sen­diri. Tingkat­an yang ditawarkan adalah : Ting­kat Dasar; Terampil dan Mahir.
5.      Senam Aerobik
            Dalam upaya memberikan pelati­h­an pendidikan jasmani dan rohani serta pengembangan bakat diadakan pula program senam aerobik yang di­laksanakan di PKBM Jayagiri de­ngan waktu 2 kali seminggu.
6.      Seni Tradisional
            Untuk meningkatkan kecintaan terhadap seni dan budaya diberikan pelatihan tari Jaipong sedangkan tari klasik akan diberikan setelah Warga Belajar menguasai minimal lima tarian Jaipong Kegiatan latihan dilakukan seminggu 2 kali.
7.      KBO Tae Kwon Do
            Kegiatan ini berada dibawah binaan PKBM Jayagiri dan telah menghasilkan beberapa prestasi. Waktu ke­giatan 2 kali seminggu di SMU Ne­geri Lembang.
8.      Kelompok Bermain Bunga Nusan­tara
            Kelompok Bermain Bunga Nusantara bekerjasama dengan KOICA Korea dalam pengadaan sarana belajar dan renovasi ruang belajar, serta proyek Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) dalam membantu me­nge­nalkan pendidikan secara dini ke­pada anak dengan motto “ Belajar sambil bermain “
9.      TPA/TKA ( Taman Pendidikan Al-Quran )
            Diberikan kepada anak-anak agar lebih mengenal pendidikan aga­ma sejak dini. Kegiatan berlangsung di gedung IQRA PKBM Jayagiri de­ngan jumlah warga belajar 169 orang­ dan dilakukan 5 kali dalam se­minggu.
            Di samping itu, adalah sangat mungkin jika dalam satu lembaga CLC tertentu diadakan berbagai pembelajaran dan pelatihan dalam memenuhi kecakapan serta skill yang lainnya. karena CLC adalah suatu lembaga yang tidak membatasi serta terpaku dalam satu bentuk pembelajaran tetapi merupakan suatu lembaga pusat pembelajaran yang di dalamnya ada berbagai macam pelayanan pembelajaran dan pendidikan yang diberikan kepada masyarakat, apakah itu pada tingkat anak-anak, remaja, dewasa atau pun lansia sekalipun. Tergantung kepada seberapa besar dan seberapa banyak kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh mereka.
G.    PESANTREN SEBAGAI COMMUNITY LEARNING CENTER
      Dari kondisi di atas berkenaan dengan kenyataan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan nonformal yang berkarakter keindonesiaan dan cenderung memiliki adaptabilitas tinggi terhadap situasi dan kondisi zaman sekarang, maka pesantren harus bisa menjadi satu lembaga yang menawarkan pendidikan yang berorientasi masa depan. Sebagaimana tantangan yang begitu berat di depan, pendidikan yang dijalankannya harus sangat holistic untuk menunjang kemampuan manusia dalam menghadapi permasalahan di berbagai aspek kehidupannya.
      Salah satu cara agar pesantren bisa menjadi memiliki karakter seperti itu adalah melalui upaya memfungsikannya sebagai community learning center yang tidak demikian kaku dalam pelaksanaan dan pangadopsian programnya. Melainkan segala bentuk program pengembangan diserap dan diaplikasikan dengan harapan tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat tetapi menambah dan memberi mereka beberapa alternative kemampuan mereka dalam meningkatkan kualitas kehidupannya.
      Masyarakat sekitar pesantren diberikan pendidikan kesetaraan, dan mengenai hal ini dalam data statistic pendidikan Islam dicatat bahwa Program Kelompok Belajar (Kejar) Paket A, B, dan C juga diselenggarakan oleh Pondok Pesantren. Hasil pendataan menunjukkan terdapat 338 Pondok Pesantren penyelenggara Paket A, 575 Pondok Pesantren penyelenggara Paket B, dan 902 Pondok Pesantren penyelenggara Paket C. Jumlah keseluruhan siswa yang mengikuti program Paket A, B, dan C adalah 94.994 orang siswa yang terdiri dari 13.540 orang siswa Paket A, 27.400 orang siswa Paket B, dan 54.054 orang siswa Paket C. Jumlah Tutor yang melayani program Paket A, B, dan C di Pondok Pesantren berjumlah 8.800 orang tutor yang terdiri dari 1.616 orang tutor Paket A, 3.951 orang tutor Paket B, dan 3.233 orang tutor Paket C (Pendis: 107).
      Ditambahkan pula pendidikan keaksaraan fungsional sebagai salah satu prioritas program. kemudian pendidikan dan latihan kerja teknis, pendidikan kewirausahaan, pelatihan ekstra kulikuler lainnya. Yang mana masyarakat diberi kesempatan untuk memilih mana potensi yang memang harus mereka kembangkan dan memilih pula keahlian lain sebagai alternatif mata pencahariannya. Karena jika mereka telah memiliki beragam keahlian, maka mereka memiliki kemungkinan untuk tidak bertumpu kepada satu lapangan kerja saja melainkan memiliki semangat yang tinggi dengan multi skill.
      Berdasarkan konteks tulisan ini, ada beberapa kecenderungan dalam memandang dan melihat potensi yang ada di dalam pesantren untuk dijadikan community learning center yang sesungguhnya. Di antaranya adalah sebagai berikut;
      Pertama, pesantren berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Eksistensi pesantren patut diperhitungkan karena memiliki posisi strategis. Di manapun, pesantren bergerak dalam pendidikan yang begitu kharismatik. Dengan kharismanya itu, pesantren mampu untuk memberikan pengaruh besar terhadap bagaimana cara masyarakat sekitarnya memandang kehidupan. Selain itu pula, pesantren mampu berfungsi sebagai sosial control bagi masyarakat. Sehingga selama sebuah pesantren eksis, maka masyarakat akan selalu terbina dan terdidik secara langsung ataupun tidak.
      Kedua, pesantren sebagai lembaga pendidikan nonformal yang fleksibel. Maksudnya adalah pergerakan pesantren dalam kegiatan-kegiatan pendidikan tidak begitu kaku meskipun sebagian cenderung kepada karakternya yang tradisional namun apa pun yang mereka pertimbangkan sebagai sesuatu yang bisa diandalkan untuk memberdayakan masyarakat khususnya santri sebagai anak didik yang mana pesantren dibebankan tanggung jawab untuk mendidik mereka.
      Ketiga, karena figur kiayi atau pemimpin pesantren, maka pemerintah begitu memberikan respek yang tinggi terhadapnya,sehingga menunjang kepada terserapnya beberapa program pemberdayaan yang mungkin saja bisa dijalankan. Dengan kata lain ada banyak dukungan yang diberikan oleh pemerintah kepada pesantren. Apakah itu dalam bentuk pengadaan sarana prasarana maupun dalam bentuk program-program yang dikolaborasikan dengan lembaga pendidikan Islam pesantren dengan tujuan untuk memberdayakan masyarakat pada umumnya dengan maksud demi pencapaian pembangunan yang maksimal.
      Keempat, dalam sebuah pesantren ada beberapa anak didik yang memang mewakili dari beberapa daerah yang dekat maupun yang jauh darinya. Sehingga disadari atau pun tidak, selain santri lokal, ada pula santri dari luar daerah. Dan ini merupakan wujud pemerataan pendidikan nasional secara tidak langsung. Di mana santri dari luar daerah tersebut adalah perwakilan yang nantinya ketika mereka kembali ke daerah masing-masing bisa mengembangkan dirinya melalui sosialisasi dan mengembangkan kapasitas masyarakat di daerahnya tersebut.

Daftar Rujukan:

Soelaeman Yoesoef, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara),     2004, hlm. 64
Philip K Hitti, History of The Arab, h. 512
Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat, Tradisi-tradisi      Islam   di Indonesia, (Bandung: Mizan), 1999, h. 16
Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: Grafindo        Persada), 2005.
Statistik Pendidikan – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, hlm. 105.
Alvin Toppler, Future Shock, (Bantam Books Inc. : New York), 1971.
UNESCO Asia and Pacific Regional Bureau for Education, Community Learning Centres            Country Report from Asia,  (UNESCO: Bangkok, 2008).
CLC regional activity report (1999-2000), Bangkok: UNESCO, PROAP, 2001.
Tim Redaksi Fokus Media, Himpunan Peraturan Perundang-undangan Standar   Nasional Pendidikan, peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, (Bandung:    Fokusmedia), 2005.
UNESCO Asia and Pacific Regional Bureau for Education, Community Learning Centres            Country Report from Asia,  (UNESCO: Bangkok, 2008).
UNESCO and APPEAL, CLC Management Handbook, Educational, Scientific, and          Cultural Organization, Bangkok.


Comments

Popular posts from this blog

Ruh yang berdakwah