Pelatihan Pengembangan Potensi Kewirausahaan Bagi Masyarakat Desa


Pelatihan Pengembangan Potensi Kewirausahaan
Bagi Masyarakat Desa

            Dalam model pengembangan potensi kewirausahaan masyarakat desa ini akan dicoba dilaksanakan program pelatihan, penyuluhan, dan fasilitasi. dimana implementasi ketiga bentuk kegiatan ini berbeda sasarannya. Program pelatihan kewirausahaan diberikan kepada masyarakat yang ingin menambah wawasan dan kecakapan berwirausaha. Begitu juga dengan penyuluhan diberikan kepada mereka untuk memperoleh informasi lebih dalam mengenai pengembangan atau peningkatan kualitas produk. Dan penyuluhan sifatnya kondisional tergantung kepada permintaan masyarakat itu sendiri. Karena meskipun tidak dilaksanakan, mereka adalah bagian produksi yang saat ini sedang berjalan.
            Sedangkan peran fasilitasi diberikan kepada lembaga pesantren salafiyah dalam upaya memediasi masyarakat desa dalam pengembangan potensinya. Lembaga pesantren salafiyah yang memiliki beberapa personil yang terdiri dari pengurus pesantren dan para pengajar di pesantren itu sendiri, berperan dalam mengadakan need assessment kepada masyarakat sekitarnya. Yang kemudian akan dilaksanakan pelatihan pada tahap selanjutnya. Idealnya, pelatihan kewirausahaan dilakukan oleh personil pesantren itu sendiri. Sehingga benar-benar menunjukkan adanya model baru dalam penelitian ini.
            Adapun rincian pelatihan yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
A.    Need Assessment
      Need assessment dalam program pelatihan ini disusun ke dalam beberapa tahap yakni:
1.      Mengumpulkan informasi
            Pada tahap ini, masyarakat secara individu akan dianalisis kebutuhan dan aspirasinya berkenaan dengan potensi kewirausahaan masing-masing. Apakah itu melalui curah pendapat dalam satu pertemuan yang teragendakan atau melalui dialog secara face to face.
            Secara detail, need assessment ini akan menanyakan tentang hal-hal di bawah ini:
·         Usaha apa yang dijalani
·         Apa jenis produknya
·         Sudah sejauhmana perkembangan usahanya
·         Bagaimana rencana ke depan dengan menjalani usaha tersebut
·         Dan bagaimana profil warga secara umum tentang tingkat pendidikan dan kesehatan keluarganya.
            Selain itu, akan ditanyakan dan dianalisis pula kondisi masyarakat secara umum yang berdasarkan kepada sumber data yang ada di kelurahan yang bersangkutan. Data yang akan dijadikan bahan analisis tersebut adalah data-data yang berkenaan dengan tingkat pendidikan, kesehatan, dan tingkat perekonomian warga masyarakat.
2.      Menganalisa informasi
            Pada tahap ini akan dilakukan analisa informasi yang telah didapatkan. Kemudian dibuat kategorisasi dan dikelompokkan menurut kategorinya tersebut. Karena mereka memiliki potensi usaha masing-masing untuk dikembangkan dalam bentuk keragaman jenis produk yang mereka hasilkan. Jika mereka memang ada yang memerlukan informasi bagaimana mengembangkan kualitas produk, maka akan diadakan penyuluhan dalam pelatihan yang akan dilaksanakan.
            Adapun kategori atau jenis usaha yang akan dijadikan bahan analisis dalam pelatihan ini adalah:
·         Pertanian
·         Perkebunan
·         Peternakan
·         Handy craft
·         Dan produk lainnya yang bahan bakunya adalah sumber daya alam sekitar tempat tinggal warga masyarakat.


3.      Perencanaan Pelatihan
            Hasil dari analisis kebutuhan warga masyarakat akan dijadikan bahan pertimbangan dalam proses perencanaan pelatihan ini. Perencanaan ini akan dilakukan oleh pengelola pesantren sebagai mediasi dengan melibatkan perwakilan dari warga masyarakat itu sendiri serta perwakilan dari kelurahan. Sehingga akan terbentuk satu kesepakatan antara ketiganya untuk menyelenggarakan pelatihan terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan pelatihan ini seperti agenda, materi, dan tujuan yang akan dicapai dari pelatihan ini.
B.     Desaining
1.      Tujuan Pelatihan
            Pelatihan ini memiliki tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umumnya adalah untuk mengembangkan potensi kewirausahaan warga masyarakat yang tinggal di sekitar pesantren salafiyah dan terwujudnya hubungan yang lebih erat antara warga dengan lembaga pesantren dalam hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain.  Dan tujuan khusus dari pelatihan ini adalah agar:
a.       Warga masyarakat memiliki pemahaman tentang kewirausahaan khususnya kewirausahaan Islami.
b.      Warga masyarakat memiliki pengetahuan tentang pengembangan kualitas produk secara teknis sederhana.
c.       Warga masyarakat memiliki kemampuan secara praktis untuk mengembangkan potensi usahanya ke tingkat yang lebih dari yang sudah mereka jalani.
d.      Adanya saling menguntungkan antara warga dengan pesantren, sehingga pesantren bisa meningkatkan pelayanan pendidikannya kepada santri dengan adanya keuntungan tersebut untuk mengembangkan kapasitas pengelola dan pengembangan sarana prasarana pesantren.
2.      Sasaran
            Sasaran yang dituju dalam pelatihan ini adalah warga masyarakat yang tergolong kepada masyarakat miskin dengan karakteristik sebagai berikut:
a.       Memiliki usaha kecil. Yakni mereka yang memiliki usaha kecil-kecilan dengan modal mereka yang berada di bawah rata-rata dengan tempat usaha di rumah masing-masing. Adapun bahan baku yang mereka gunakan adalah sumber daya alam dalam bentuk pertanian dan perkebunan, peternakan, serta produksi handy craft.
b.      Usia remaja hingga dewasa (usia produktif). Usia remaja dan dewasa adalah mereka yang berusia 15 hingga 50 tahun.
c.       Tinggal di sekitar pesantren. Warga yang akan mengikuti pelatihan ini adalah warga yang tinggal di sekitar pesantren dan diawali dari warga yang secara rutin mengikuti pengajian majelis taklim mingguan di pesantren salafiyah.
3.      Materi Pelatihan
            Pelatihan ini terdiri dari pemberian materi teoretis yang sesuai dengan kondisi psikologis dan intelektualitas. Karena disadari atau tidak, masyarakat sekitar pesantren salafiyah memiliki kondisi psikologis yang rentan akan perkembangan zaman dan disebabkan oleh kondisi intlektualitas yang rendah. Selain itu, diberikan pula materi praktis yang memungkinkan mereka langsung mengimplementasikannya di lapangan.
      Adapun materi teoretis yang akan diberikan adalah sebagai berikut:
a.       Kewirausahaan
b.      Pengembangan kualitas produk
c.       Pengelolaan keuangan
d.      Pengembangan komunitas (community development)
            Dan materi pelatihan ini yang bersifat praktis yang akan diberikan kepada mereka adalah sebagai berikut:
a.       Teknik pengembangan kualitas produk
b.      Pemasaran produk termasuk
c.       Teknik pencarian pangsa pasar yang sesuai dengan produk yang dihasilkan.
4.      Waktu dan tempat pelatihan
            Karena penyelenggara Pelatihan ini adalah pesantren, maka penjadwalannya pun disesuaikan dengan agenda kegiatan di pesantren. Dan jadwal pelatihan ini idealnya akan dimasukan ke dalam kegiatan kepesantrenan yakni pengajian majelis taklim untuk orangtua dan pemuda. Kemudian akan dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan khusus setelah dibicarakan dengan kesiapan warga setempat.
            Begitu juga dengan tempat pelatihannya. Karena penyelenggara pelatihan ini yang diprioritaskan adalah pesantren salafiyah, maka tempat pelatihan ini akan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang seadanya milik pesantren yang bersangkutan, seperti madrasah, masjid, dan rumah pemimpin pesantren.           
C.    Implementing
1.      Pelaksana Pelatihan
            Pelaksana dalam pelatihan ini idealnya diambil dari personil pengurus pesantren salafiyah. Sehingga selain masyarakat sekitar pesantren, pengelola pesantren pada umumnya dan pesantren itu sendiri khususnya memperoleh keuntungan dari penyelenggaraan pelatihan ini untuk kemajuan fasilitas pesantren itu sendiri. Adapun fihak pelaksana dalam pelatihan ini terbagi kepada tiga fihak, di antaranya adalah Pengurus pesantren salafiyah,  perwakilan dari Kelurahan, dan penyuluh dari intansi terkait dengan produk yang dihasilkan oleh warga.
2.      Metode pelatihan
            Metode pembelajaran yang digunakan di dalam Pelatihan:
a.       Presentasi.
      Teknik presentasi digunakan untuk memberikan materi teoretis dan tidak menutup kemungkinan adanya timbul pertanyaan-pertanyaan yang dikondisikan secara interaktif antara fasilitator dengan warga belajar.
b.      Curah Pendapat
      Ini dilaksanakan dalam pengkajian tentang sharing pengalaman antara warga belajar berkenaan dengan bagaimana meningkatkan kualitas produk dan pengembangan usahanya.
c.       Role Play
      Teknik bermain peran digunakan untuk memperdalam materi tentang kewirausahaan dan pencarian serta teknik pendekatan terhadap pangsa pasar.
d.      Pembelajaran mandiri
                  Pembelajaran mandiri dilaksanakan pada saat mereka secara langsung praktek dalam pengembangan usahanya dengan bimbingan cara menganalisis terhadap usahanya tersebut. Sehingga mereka mampu melakukan analisis dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya.
D.    Evaluating
      Tahap evaluasi dalam pelatihan ini akan melibatkan penyelenggara pelatihan itu sendiri. Dan khususnya pengelola pesantren yang akan diperankan sebagai evaluator khusus karena mereka pun berperan sebagai mediasi bagi para warga yang mengikuti pelatihan ini dalam mengembangkan usaha mereka.
      Pada tahap evaluasi, strategi yang akan digunakan adalah sebagai berikut:
1.      Mengevaluasi terhadap kapasitas pemahaman mereka tentang, kewirausahaan, pengembangan kualitas produk, dan pengetahuan mereka tentang pangsa pasar produk.
2.      Mengumpulkan informasi ulang pasca training terkait dengan rencana mereka ke depannya.
3.      Melakukan observasi lapangan terhadap kinerja mereka.
4.      Melakukan observasi terhadap perkembangan usaha mereka.



E.     Transfer of learning
      Supaya terjadi adanya transfer of learning di dalam pelatihan ini, maka pemberian materi akan langsung dilanjutkan kepada implementasi materi yang telah diberikan. Dan warga dituntut untuk mempelajari kondisi-kondisi di lapangan hubungannya dengan perkembangan usaha mereka, apakah itu hubungannya dengan pengembangan kualitas produk, fluktuasi income, dan pengelolaan keuangan. Sehingga akan timbul suatu kondisi dimana mereka mampu mempelajari situasi secara mandiri.
      Dengan belajar secara mandiri atau individual learning, maka akan diketahui hasil dari pelatihan ini secara langsung dan akan terkumpul informasi-informasi yang berkenaan dengan pengembangan potensi kewirausahaan mereka sehingga mereka bisa meminta saran kepada fasilitator tentang usahanya lebih lanjut atau mereka memiliki wawasan yang lebih mendalam mengenai usaha yang mereka jalani.  

Comments

Popular posts from this blog

Ruh yang berdakwah