PERANG DAN BATAS-BATAS NURANI
PERANG DAN
BATAS-BATAS NURANI
Salah satu potensi yang dimiliki manusia adalah
potensi proteksi. Dimana manusia dituntut untuk mempertahankan dirinya dari
ancaman dan marabahaya yang terkadang menimpanya, saudara, keluarga bahkan Sejak
dahulu telah ada istilah perang atau war atau Qitaal. Ancaman dan marabahaya bisa muncul dalam segala
bentuk yang disebut konflik. Pada saat manusia berhadapan dengan suatu bencana
alam misalnya sunami, maka potensinya tersebut muncul secara serentak untuk
mempertahankan diri dari maut. Ketika dia terkena penyakit demam berdarah, maka
ia pun berusaha untuk menyelamatkan diri sebisa mungkin untuk dapat sembuh dan
sehat kembali. Wujud proteksi ini pun bisa dalam bentuk konflik batin yang
terjadi dalam dirinya sendiri. Pada saat ia kenyataan dilematis mengenai
sesuatu, akan ada suatu konflik hati tentang penilaian terhadapnya, mengenai
baik dan buruk, ingin dan tidak, benci dan cinta dan lain sebagainya. Semakin
kuat mental seseorang, maka semakin besar kekuatannya untuk menghadapi
konflik-konflik tersebut.
Ada seorang teman yang saat ini sedang belajar
strategi politik, dia berkata bahwa dalam politik itu ada satu fenomena yang
memang harus ada dan dianggap wajar adanya. Yaitu adanya korban manusia meski
hanya sedikit saja. Semua orang tahu bahwa arena politik adalah suatu dunia
yang harus ada perang juga. Dalam bentuk perebutan kekuasaan dan entah apapun
caranya untuk menggapai kekuasaan yang diinginkan. Korban manusia sebagai
tumbal dari dunia politik adalah juga kata lain dari korban perang kekuasaan.
Memang begitu ironis mendengarnya. Tetapi itu
semua adalah bagian dari hidup kita yang menyisakan kepedihan dan kepahitan
hidup. Kata orang, wajar pahit dahulu untuk senang kemudian. Ga apa pedih untuk
sementara untuk mencapai kesuksesan.
Sejak dahulu manusia menggunakan istilah perang
ini untuk defence atas semua ancaman dan rintangan seperti dikatakan di atas. Semua bangsa menggunakannya pada saat
berhadapan dengan konflik yang memang mengancam integrasi dan nasionalisme. Dan
untuk itu, mereka saling berlomba-lomba dalam persiapannya. Dengan peningkatan
persenjataan yang didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Semakin terpuruk ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh suatu bangsa, maka semakin
rendah kualitas persenjataan yang dimiliki. Kita tidak tahu termasuk ke dalam
kualifikasi yang mana. Yang jelas, Indonesia sebagai bangsa yang beradab
memiliki kekuatan kepribadiannya sendiri yang tidak bisa didobrak kesatuannya
oleh ancaman apapun.
Sedangkan perang dipandang sebagai suatu upaya manusia untuk mencapai
keinginan nafusnya memiliki imbas terhadap segala segi kehidupan dirinya dan
orang lain.
Comments
Post a Comment