PERSONAFIXASI lukisan DIRI


PERSONAFIXASI lukisan DIRI
Melihat Diri Manusia Dari Dalam
Oleh : Syuhudul Anwar

Pendahuluan
Dalam buku ini, anda akan dibawa kepada bayangan-bayangan dan khayalan-khayalan tentang diri anda. Dan alangkah wajar bila, anda menemukan sesuatu yang berbeda di penjelasan-penjelasannya. Karena sejak dahulu, manusia selalu dirundung kegelisahan yang disebabkan oleh perbedaan isi otaknya dengan manusia lain. Yang membuat munculnya berbagai penafsiran yang pula disebabkan oleh perbedaan pengalaman. Apa yang saya coba tulis dalam buku ini adalah penggalian tentang berbagai potensi laten di dalam diri setiap manusia yang memiliki kecenderungan besar untuk muncul atau mungkin untuk tidak tersalurkan.
Perbedaan penafsiran yang saya ungkapkan bisa jadi menjadi sebuah inspirasi positif untuk kehidupan anda atau pula bisa menjadi dorongan negative untuk tidak mau membaca kembali buku ini. Di dalamnya diutarakan mengenai dorongan dari dalam diri dan dari luar diri manusia. tentunya dengan cara pandang yang mudah-mudahan sesuai dengan prinsip serta gagasan yang disepakati oleh semua manusia. tiada lain tujuan dari buku ini hanyalah untuk merangsang para pembaca untuk bisa mengenali diri sendiri dan mampu mengenali diri orang lain melalui perenungan-perenungan subjektif.
Ruang lingkup buku ini seputar pendangan jarak dekat dan jarak jauh yang dilakukan oleh diri terhadap diri sendiri. Pertama, Diawali dengan pandangan diri manusia dari jarak jauh atau yang saya lebih suka untuk menyebutnya dengan memandang diri melalui kaca mata nalar, fikiran, akal, dan lebih khusus lagi, otak. Dengan penjelasan-penjelasan singkat, berharap pembaca bisa tersadarkan bahwa dalam diri kita terdapat potensi yang bernama tanah liat dalam bentuk tubuh jasmani dan begitu konkrit bahkan sangat mudah untuk dimanipulasi serta dirusak oleh diri sendiri.
Kedua, buku ini akan menjelaskan tentang status, posisi, dan kondisi manusia yang dipandang dari sudut nilai-nilai keagamaan islam. apakah itu dari kaca mata nabi maupun dari cara pandang yang diberikan isyarah melalui penjelasan-penjelasan alquran sebagai buku besar yang multi tafsir dan mono value yakni risalah islam. sehingga mampu menyadarkan diri kita sendiri sebagai bagian dari karya maha agung yang diciptakan oleh Alloh sebagai penghuni utama ala mini dan sebagai wakil alloh untuk ala mini.
Ketiga, ada sedikit sentuhan reflektif untuk mengetahui bagaimana kita bisa dengan mudah menyentuh, mengamati, serta berkenalan dengan diri kita. Yakni sebuah ‘diri’ yang luar biasa dan maha dahsyat. Yang memiliki segalanya dan sekaligus tidak memiliki segalanya. Yang penuh dengan kelebihan serta sekaligus sangat banyak kekurangan dalam dirinya.
Keempat, saya hendak membawa kita kepada dorongan untuk mau berubah. Entah lambat ataupun cepat. Karena perubahan dalam diri merupakan hal yang paling mudah sekaligus hal yang paling sulit. Dan sedikit menyadarkan bahwa perubahan itu hanya bisa dilakukan dari dalam diri. Meskipun perubahan diri seringkali menjadikan orang lain bahkan lingkungan sekitar sebagai kambing hitam atas perubahan diri yang tidak jelas ujungnya. Berharap dengan membaca bagian ini, kita bisa memiliki sedikit keinginan untuk mau menjalankan dan menikmati proses perubahan diri.
Kelima, buku ini memiliki tujuan akhir agar kita mau menyadari betapa agungnya Alloh yang telah menciptakan diri kita dari ruhNya. Yakni ruh dari dzat yang sangat permanen. Sehingga muncul gambaran positif mengenai diri kita, bahwa ruh yang ada di dalamnya begitu indah dan mampu membuat segalanya indah, sempurna dan mampu membuat segalanya sempurna, bahagia dan mampu menyebabkan adanya kebahagiaan lain, dan lebih penting lagi, sangat permanen bahkan bisa timbulnya ruh-ruh permanen disebabkan ruh kita.
Semoga perenungan yang sering kita lakukan setiap detik dan menitnya, bisa menjadikan kita manusia-manusia yang seutuhnya yang bisa menjaga, mengolah, serta melestarikan ala mini. Dengan berlandaskan pedoman diri yang bagian paling kuat hanya ada di dalam diri. Ketika bisa melakukan hal itu, saya berkeyakinan bahwa siapapun yang mengaktifkan serta menjalankan segala potensi dalam dirinya, mampu menembus segala batas ruang dan waktu dalam melayani dan memberikan yang terbaik bagi seluruh umat manusia.

A.    Perspektif nalar tentang diri
Diri yang rasional
Setiap mendung pasti akan hujan. Begitu juga setiap yang hidup di alam ini pasti akan merasakan kematian. Maka manusia menggunakan segala potensi dalam dirinya untuk menemukan kesadaran penuh atas hidupnya. Kesadaran yang bersumber kepada akal yang melandasi cara dia berfikir. Semakin mendalam akar pemikirannya, maka semakin kuat kesadaran yang dihasilkan oleh akalnya. Ketika manusia bersebrangan dengan apa yang ada dalam fikirannya, maka akan terjadi ketidak seimbangan dalam hidupnya. Yang menyebabkan segala ketidakseimbangan jasmani maupun rohani. Menimbulkan kekecewaan, kekhawatiran, ketidakpuasan, dan segala perasaan lain yang negatif. Perasaan-perasaan dalam diri manusia seolah tidak bernalar. Tetapi setiap muncul, ia merupakan hasil dari pergesekan logika dalam benaknya.
Jika logika adalah manifestasi dari kesadaran, maka logika berperan sebagai alat untuk menciptakan persepsi-persepsi tentang realitas internal maupun ekternalnya. Ketika logika seseorang berjalan mulus dalam merespon segala fenomena hidup, maka yang akan didapatkan adalah kepastian dari langkah yang akan dilakukannya. Sebaliknya, jika logika tidak mampu merespon, maka ia akan selalu berhadapan dengan ketidakpastian dalam hidupnya. Logika membuat diri selalu pasti dan mungkin. Apapun keputusan diri dan langkah sebagai tindak lanjut dari keputusannya itu menciptakan segala keniscayaan dan kepastian. Dan membuat segala hal yang dirasakan tidak mungkin menjadi sangat mungkin.
Yang paling berpengaruh terhadap kesadaran adalah bahasa yang digunakan oleh diri manusia. bahasa sebagai media antara fikiran-fikiran manusia. menyambungkan dan menjadikan perantara antara berbagai ide dan gagasan yang ada dalam lingkungan hidup manusia. membentuk image dan melahirkan berbagai wujud karya yang diciptakan oleh manusia. bahasa sebagai perwakilan rasionalitas diri. Dengan kata lain, bahasa bisa digunakan sebagai salah satu media pengukuran apa yang ada di dalam benak seseorang. Seabstrak apapun diri dalamnya diri manusia, bahasa bisa mengungkapkannya dalam bentuk kata-kata. Simbolisasi bahasa atas diri menunjukkan adanya sisi luar dari diri manusia. sehingga bagian tersebut mudah tersentuh bahkan dengan mengkaji bahasa yang terlontar dari seseorang, melalui bahasanya, dia bisa dirubah kepribadiannya cepat atau pun lambat.
Dan jika tanpa bahasa, manusia tidak akan pernah bertemu dengan kebahagiaan dalam dirinya. Manusia bisa diam seribu bahasa, tetapi cepat atau lambat, ada beberapa hal yang mesti dia ungkapkan untuk menunjukkan perasaan dan keinginan-keinginannya. Ada sejuta bahkan lebih kata dalam diri manusia, yang ingin dan memaksa untuk diungkapkan. Bahkan lebih dari itu, manusia yang kemampuan berbahasa atau koleksi bahasa dalam dirinya begitu banyak, bisa menjalani kehidupan dengan level yang lebih dari manusia yang lain. Karena bukti bahwa seseorang memiliki kemampuan nalar tinggi ada pada lisan yang ia gunakan untuk membahasakan segala inspirasi yang ada di dalam benaknya. Bukti bahwa dia telah merekam banyak kata yang ia dapatkan dari hasil komunikasi dan interaksi dengan banyak manusia lain. Sehingga dia mampu untuk membahasakan dirinya dalam berbagai ‘gaya’ dan membuat dirinya bisa diterima oleh orang lain.

Kulit, daging, dan tulang belulang
Manusia adalah mahluk yang sangat biologis. Yakni mahluk yang tidak bisa dilepaskan dari kesejatiannya yang terikat oleh prinsip-prinsip alamiyah kauniyyah. Yang di dalamnya terdapat segala hal material dan memiliki batas-batas inderawi. Dengan kata lain, untuk memahami diri, tidak memerlukan kajian mendalam dari berbagai perspektif yang rumit. Melainkan hanya dengan melihat, merasakan, dan menyentuhnya pun, diri manusia bisa didefinisikan dengan jelas. Seperti alam yang ada di sekitar manusia itu sendiri, memiliki bentuk yang menunjukkan wujudnya adalah ada dan sangat fisik. Memudahkan untuk pengukuran dan bahkan mudah untuk dikenali secara pasti. Jika angin tidak bisa disentuh maka manusia begitu mudah untuk dirasakan. Seperti halnya mahluk selain manusia yang sifatnya sangat fisik.
(Penginderaan...) ada sebuah kalimat yang cukup menyinggung bagi anda para pembaca juga saya, bahwa “manusia adalah hewan yang berbicara/berfikir”. Kita semua adalah hewan tak ada bedanya dengan piaraan yang ada di sekitar kita bahkan sama halnya dengan nyamuk yang sering kita tepuk di saat mengganggung tidur kita. Sehingga Alloh begitu menjunjung tinggi kasih sayang apakah itu kepada sesama manusia atau kepada selain manusia yang di antaranya adalah hewan, karena mereka sama dengan kita secara jasmani. Manusia memiliki alat-alat penginderaan begitu juga dengan mereka. Ada mata, telinga, kaki, tangan, lidah, jantung, dan lain-lain. Hanya saja postur manusia berbeda meskipun posisi setiap organ tubuh tersebut nyaris sama. Coba anda sesekali memperhatikan wajah mereka, kaki, tangan, dan semua organ pada tubuh mereka yang terlihat maupun berada di dalam. Minimal dengan melakukan itu, kita akan sedikit tersenyum karena fakta ini.
Secara bahasa dalam kalimat tersebut terjemahannya adalah berbicara tetapi banyak pula yang menterjemahkannya dengan berfikir. Kalimat ini adalah kalimat yang terkesan picik dan penuh dengan akal bulus manusia sendiri. Mengapa demikian? Karena jika kita memahami bahasa selain manusia atau hewan, mereka pun pasti akan membuat pernyataan seperti ini. Mereka adalah hewan, mereka juga bisa berbicara tentunya dalam bahasa mereka sendiri. Mereka juga bisa berfikir tentunya dengan gaya berfikir mereka. Sehingga kalimat ini dijadikan suatu jargon bahwa hanya manusia yang bisa berfikir disebabkan perbedaan dengan hewan lain yang tidak bisa membuat rumah dari beton, tidak bisa menyusun gedung bertingkat, tidak bisa merakit mobil beroda empat, tidak bisa merakit pesawat terbang.
Segala yang bisa kita lihat dan kita dengar secara fisik, menunjukkan bahwa manusia adalah hewan yang sangat rasional. Sejak dahulu hingga sekarang, perkembangan kemampuan manusia semakin meningkat dengan melihat pertumbuhan, pertambahan, dan peningkatan dalam berbagai hal. Dengan didasarkan pada ukuran panjang, luas, dan standar pengukuran lain yang sifatnya fisik. Bisa diperhatikan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan modernisasi teknologi itu sendiri. Istilah modern hanya sebuah istilah, tetapi manusia menggunakannya karena adanya pembaruan dan perubahan dalam penampilan dan cara manusia menggunakan sesuatu. Jika ada kemudahan dalam sesuatu dan semakin lebih mudah lagi, maka itu adalah bukti adanya modernisasi dalam hidup manusia.
Menjelang akhir dunia nanti, nampaknya akan muncul fenomena kehidupan yang hanya berlandaskan prinsip kesenangan dan kemalasan yang luar biasa kronis. Dan akhir dunia akan terjadi ketika kesenangan dan kemalasan itu sudah mencapai batas paling ujung. Yang akhirnya manusia kehabisan ide untuk merubah segala hal dalam kenyataan hidupnya yang sarat dengan proses menjadi sangat instant. Di saat itu, sistem terbesar hingga terkecil akan dirasakan chaos dan tidak menentu. Dinamikanya tidak terkendali dan sangat tidak bisa diketahui arahnya. Semoga akhir dunia tidak berakhir dalam hiruk pikuk manusia yang tidak karuan melainkan dalam kondisi manusia-manusia yang tenang, damai, dan tugas mengakhiri dunia tanpa dipaksakan.
Berkenalan dengan ‘proses’
satu ketika si kancil hendak pergi menuju hutan dimana banyak rumput di sana untuk dimakan. Stok makanan di tempatnya saat itu tidak mencukupi untuk beberapa hari ke depan. Sehingga ia memutuskan untuk berpindah ke hutan sebelahnya. Di perjalanan, dia menemukan sebuah sungai yang membatasi hutan. Sayangnya, di sungai kecil itu ada beberapa buaya besar yang sedang berjemur. Yang akhirnya dia pun memaksakan diri untuk melewatinya. Sepintar-pintarnya seekor kancil, dia melewatinya, namun kakinya sempat tergigit oleh buaya, sehingga ia terpincang-pincang ketika sampai di hutan tersebut. Singkat cerita, beberapa minggu kemudian, dia merasakan kondisi yang sama yang membuatnya memutuskan untuk berpindah tempat ke hutan yang lain. Di perjalanan, dia menemukan sungai lain yang juga ada buayanya. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari jalan yang lain, yang tidak ada buaya. Dan ia pun berhasil melewati sungai tersebut tanpa kaki terpincang-pincang.
Sebuah metafora sederhana yang menjelaskan bahwa hewan selain manusia bisa saja memiliki instink keamanan diri. Apalagi manusia yang memiliki daya fikir yang kuat dan kemampuan strategis untuk mencapai sebuah tujuan. Ketika berhadapan dengan suatu tujuan, dia dihadapkan pula kepada beberapa pilihan jalan. Yang ada dalam benaknya adalah bahwa ketika dia berhadapan dengan A, maka dia akan menemukan B, dan berakhir dengan tujuan C. Dan ketika dia berhadapan dengan 1, maka ia akan melewati 2, dan akan berakhir pada tujuan 3. Sebuah fenomena bahwa manusia adalah mahluk yang dirinya begitu kental dengan perjalanan hidup penuh dengan fase. Dan fase-fase tersebut sangat berkaitan satu dengan yang lain. Satu fase tertentu pasti akan berhadapan searah dengan fase sejenis. Begitu juga dengan fase yang lain.
Pilihan yang diambil oleh diri manusia, sepicik apapun, meskipun melalui jalan pintas tertentu, seringkali melewati apa yang disebut dengan proses. Dia memahami apa yang dia lakukan dan dia mengerti apa yang akan terjadi nanti ketika dia memilih jalan yang mengantarkannya menuju tujuannya itu. Jika ia ingin menuju sebuah pulau dan ia memilih jalan melewati lautan, maka ia akan berhadapan dengan gelombang samudera dan ikan-ikan buas di dalamnya. Begitu juga ketika ia memilih jalan melewati udara, ia akan berhadapan dengan angin besar, rasa dingin, dan ia akan bertemu dengan burung-burung di atas sana.

Aku adalah hasil dari apa yang kulakukan
aku berfikir, maka aku ada. Demikian kata seorang pemikir ulung yang hasil karya pemikirannya banyak mempengaruhi dunia. Ketika manusia berada pada kondisi diam dan fikirannya bermain dengan segala fenomena hidup, maka ia benar-benar ada. Tetapi ketika manusia tidak menggunakan fikirannya, maka ia hanya sesosok mayat yang terlihat hidup. Bagaimanapun besarnya tubuh, kerasnya hentakan kaki, tingginya suara, yang dimunculkan dari dalam dirinya.
Kualitas berfikir seseorang adalah bisa diukur. Dengan membaca perilakunya, dia menunjukkan bagaimana isi dari fikiran yang ada dalam benaknya. Jika pengukuran adalah panjang, luas, dan segala satuan ukuran lain, maka manusia pun bisa diukur sedemikian rupa. Sehingga manusia merupakan mahluk yang memang sangat rasional dan bisa diukur.
Diri sebagai sebuah dimensi tertentu, merupakan wujud yang tidak lepas dari satuan dan bantuk. Yang menempati ruang dan memiliki masa. Untuk bisa memasuki sebuah dimensi diri, tidak perlu susah payah membelah dada seseorang kemudian memeriksa isi tubuhnya. Tetapi bisa hanya dengan melihat seperti apa hasil dari apa yang dilakukannya. Jika pekerjaannya tidak sepenuhnya memperlihatkan seperti apa dirinya, maka hasil kerjanya bisa memperlihatkan seperti apa kualitas dari dalam dirinya.
Perilaku sebagai sebuah hasil dari apa yang dilakukan oleh seseorang menunjukkan bagaimana isi dari dalam diri seseorang. Ada banyak bentuk dan sifat dari perilaku. Dan semuanya merupakan gambaran banyaknya hasil dari apa yang dilakukan diri. Tidak berusaha berbicara tentang nilai pun, perilaku menunjukan kedalaman dan pergerakan diri seseorang. Wujud benda atau sebuah karya pun bisa menunjukkan bagaimana hasil pekerjaan seseorang. Ketika karyanya merupakan benda yang bermanfaat, rapih, dan bertahan lama, maka dirinya pun seperti itu. Tapi sebaliknya, ketika benda tersebut tidak memiliki guna tertentu, tidak bagus dilihat, dan hanya dipakai dalam jangka waktu yang sebentar, maka dirinya pun demikian adanya.



B.     Diri dalam kajian profetik
Al-quran membahas tentang diri manusia
Ada sejumlah ayat alquran yang secara tekstual diterjemahkan dengan ‘diri’ yang diambil dari lafadz ‘nafs’. Adapun terjemah asal dari lafadz tersebut adalah jiwa. Ini menunjukkan bahwa selain bahasan tentang manusia dari segi jasmaninya, juga di dalam bahasannya tersebut disebutkan secara implisit ada sesuatu di balik bagian tubuh manusia, yakni jiwa. Tetapi secara bahasa, jiwa dalam alquran diterjemahkan dengan diri dalam bahasa indonesia. Sehingga penafsirannya adalah bahwa alquran lebih memfokuskan pembahasan tentang diri manusia yang lebih dalam, sebagai sumber adanya diri secara fisik. Sumber adanya perilaku yang berujung kepada terbentuknya diri dalam satu identitas tertentu.
Dengan kata lain, alquran lebih mengedepankan kualitas diri secara menyeluruh untuk dijadikan renungan bagi manusia demi mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Meskipun alloh membuat batasan tertentu mengenai pembahasan tentang ruh karena kelemahan manusia secara akal untuk mencapainya.  Tapi jika manusia bisa merenungi kehidupannya dan lebih melihat ke dalam diri atau jiwa, dia akan mencapai satu tahapan ketenangan yang luar biasa dahsyatnya bagi dirinya.
Anatomi diri atau jiwa manusia terbentuk oleh akal, qalbu, fuad, dan ruh. Ruh sebagai puncak utama dari pergerakan qalbu dan akal, mengatur dan mengolah jiwa manusia sehingga bagaimanapun pergerakan yang muncul kepada bagian luar manusia, maka itulah diri manusia. Bagian yang terlihat dari manusia yakni tubuhnya, bergerak mengikuti segala pergerakan dari dalam. Tubuh sebagai segi jasmani manusia memiliki keterbatasan untuk bergerak tetapi darinya bisa terwujud adanya sesuatu yang fisik yang sifatnya membangun dan merusak. Apakah itu bagi diri manusia itu sendiri maupun bagi luar dirinya. Untuk mengantisipasi hal itu, alloh membuat batasan-batasan atau garis-garis yang bertujuan untuk menghalangi pergerakan diri agar tidak dengan bebas sebebas-bebasnya yang pada akhirnya bisa membuat kehidupan di dunia ini tidak seindah yang diinginkan oleh jiwa manusia itu sendiri.
Siapapun dan di manapun, manusia manapun, tujuan akhir dari perjalanan hidupnya yang dijalani sehari-hari adalah untuk meraih kebahagian dan kemaslahatan diri. Demikian tujuannya, namun ada di antara mereka yang menjalani proses yang tidak berdasarkan tujuan tersebut. Sehingga bisa dikatakan disoriented. Tujuannya apa, tetapi proses yang dilakukannya bertentangan dengan apa yang dia inginkan. Untuk ini, Alloh sangat mewajibkan semua manusia untuk mengindukkan dirinya kepada setiap detail ayat alquran. Demi kebahagian manusia itu sendiri. Sehingga alloh mewanti-wanti kepada manusia bahwa jika terjadi sesuatu proses yang tidak sesuai dengan tujuan (kebahagiaan dan kemaslahatan tadi), maka akan terjadi satu fenomena tertentu yang sangat tidak diinginkan (dituju) oleh diri manusia. Alquran mengistilahkan fenomena tersebut dengan hari kiamat atau sa’ah. Meskipun manusia tahu bahwa kiamat terjadi pada akhir dunia nanti, namun jika terjadi sesuatu sebelum hari itu dan kapanpun itu terjadi, tetap saja sangat besar dan dahsyat bagi diri manusia.
Diri yang indah dalam muhammad
Alloh sangat merekomendasikan manusia untuk mengikuti Muhammad Saw sebagai manusia model sejak dunia diciptakan hingga akhir dunia nanti. Dan Muhammad berperang melawan kafirin pada zamannya dulu, bukanlah bertujuan untuk mempromosikan diri agar mereka mau mengikuti Muhammad sebagai sebuah ‘diri’. Melainkan  agar mereka teringatkan bahwa tuhan adalah esa. Rekomendasi Alloh mengenai ketauladanan Muhammad merupakan terbukti dalam segala ucap dan laku yang ditunjukkan secara otomatis berasal dari jiwa Muhammad yang memang sangat suci. Sehingga dikatakan bahwa Muhammad adalah manusia yang berakhlak sangat qurani. Apa yang diinginkan oleh Alloh ada dalam diri Muhammad Saw.
Dalam alquran terdapat berbagai perintah dan larangan yang ditujukan kepada manusia. dan ini dilakukan oleh Muhammad dengan penuh keikhlasan dan ketulusan jiwanya. Dalam dirinya nyaris tidak ada sedikitpun konflik yang terjadi dan tidak muncul ke luar dirinya sebagai sebuah sisi kehidupan negatif dari Muhammad. Fakta ini menghapus pembicaraan orang yang mengatakan ‘no body is perfect’. Ternyata ada juga manusia yang kesempurnaan dirinya terlihat begitu nyata dalam kehidupan sehari-hari yang dirasakan oleh semua sanak keluarga, karib kerabat, dan seluruh umma muslim generasi pertama saat itu.
Kesempurnaannya meliputi segala kebaikan dan kebaktian diri secara lahir maupun bathin. Ada keseragaman antara hati, lisan, dengan anggota tubuh yang lainnya. Sehingga muncullah ucapan/perkataan yang baik, tingkah laku/perbuatan yang baik, dan keputusan/ketetapan yang baik pula. Yang tidak menguntungkan dirinya sendiri, melainkan memberi kemanfaatan serta kemaslahatan bagi sesama bahkan semua manusia yang ada pada saat itu. Tanpa memandang agama, ras, suku, atau segala hal yang selalu memunculkan perbedaan di antara manusia. sabdanya, “bertakwalah kamu dimana pun berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, maka perbuatan buruk akan terhapus, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.
Nabi Muhammad pernah mewasiatkan kepada ummatnya agar menjaga segumpal darah yang ada di dalam tubuh. Yakni sebuah simbol adanya pusat dari segala bentuk perbuatan manusia yang dikenal dengan sebutan qalbu atau hati. Jika hatinya rusak, maka seluruh anggota tubuh yang lain pun akan rusak, begitu pula sebaliknya. Penunjukkan Muhammad oleh jarinya sendiri kepada dadanya sambil berkata “takwa itu di sini”, bermakna bahwa ada sesuatu selain segumpal darah yang ada di dalam dada yang merupakan core untuk membentuk pribadi manusia. jika segumpal darah itu adalah jantung, memang aliran darah berasal dari sana, lancar atau tidaknya. Tetapi ada yang lebih dari itu, sebuah bentuk yang tak terlihat yang selalu bergulir dan bergerak tak beraturan. Tempat bathiniyah yang selalu menyelimuti bagaimana cara manusia berfikir yang berujung kepada perubahan tindakan. dan perlu penjagaan ketat (takwa) terhadap gerakannya agar tidak bermanifestasi kepada jasmani dalam kondisi yang negatif.  Takwa sebagai istilah untuk terjaganya diri dari perbuatan yang tidak diharapkan bahkan sangat dibenci oleh Alloh, merupakan satu indikator bagi Muhammad untuk pembuktian dari dirinya sebagai manusia yang memiliki kesempurnaan secara lahir maupun bathin yang berlandaskan ilahiyah.

Alam kauniyah dan alam ilahiyyah
Alloh menciptakan manusia dalam dua dimensi. Dimensi spiritual dan dimensi fisik. Kedua dimensi ini, manusia menguasainya secara personal. Artinya, manusia mampu menyelami dan menyentuhnya dengan sendirinya. Menunjukkan manusia pun memiliki potensi jasmani dan ruhani. Disadari ataupun tidak, manusia seringkali bersinggungan dengan dunia spiritual. Apalagi dengan dunia yang sifatnya kasat mata atau jasmani. Meski terdengar tidak wajar, namun kemampuan manusia menyelami dunia spiritual, siapapun itu, dengan kemampuan khusus ataupun tidak, manusia berhubungan langsung dengan dunia spiritual. Di saat manusia tidur, di saat manusia memejamkan mata dalam keadaan terjaga, di saat manusia menunjukkan emosi yang meluap-luap, dan di saat kondisi-kondisi lainnya yang bisa kita rasakan sendiri dimana bagian dari tubuh jasmani kita tidak kita rasakan secara sadar.
Bagian dari dimensi jasmani seringkali disadari oleh siapapun sebagai dominasi dari dirinya sendiri. Sangat jarang manusia yang tidak merasakan hal ini. Ketika dia melihat, maka dia melihatnya secara jasad, menyentuh, dan sebagainya. Rasa sakit, perih, pada kulit dan tubuh bagian dalam yang lainnya, menunjukkan bahwa manusia memiliki dominasi diri atas dunia jasmani ini. Organ tubuh beserta segala yang ada di luarnya, meliputi organ tubuh lainnya, hingga benda-benda hidup dan mati yang ada di luarnya, membuat manusia tersadarkan bahwa dirinya adalah mahluk yang sangat jasadi atau terlihat yang memiliki bahan-bahan material. Inilah kedahsyatan penciptaan Alloh terhadap potensi manusia di banding dengan mahluk lainnya.
alam dalam diri manusia---kedua dunia di atas adalah bagian dari kehidupan manusia. Namun, jika manusia menyengajakan diri untuk berkunjung ke dunia spiritual dari dirinya, maka ia akan menemukan mahluk-mahluk lain selain dirinya yang begitu banyak dengan dimensi dunianya yang juga begitu luas. Alam dalam diri manusia yang terdapat pada dimensi spiritual tersebut melebihi kapasitas dunia jasmani yang kita sering singgahi ini. Bahkan segala yang ada di dunia jasmani, apapun itu, bisa memasukinya tanpa batas dan mungkin saja luasnya melebihi luas alam jagat raya yang diperkirakan oleh para ilmuwan berisi milyaran bintang ini. Itulah diri manusia, begitu luas dan tak terbatas. Yang berisi alam material yang sifatnya nonfisik.
Alam yang nonfisik dalam diri manusia, ada bagian luarnya, dan ada pun bagian dalam, bahkan bagian terdalamnya. Bagian luarnya terkadang kita sadari, bagian dalamnya hanya bisa dikunjungi dan disinggahi oleh mereka yang mampu dan bergelut dengan hal-hal yang sifatnya spiritual. Sehingga mereka sengaja memanggil bahkan dibantu oleh mahluk-mahluk yang spiritual. Dan bagian yang terdalam dari alam spiritual ini hanya dimiliki oleh mereka yang berlatih untuk mengolah serta merasakan adanya rasa dalam diri. Dan lebih dari itu, ketika mereka mampu mengolah rasa diri yang pada akhirnya mereka memiliki otoritas atas kontrol diri, mereka bisa menembus ruang-ruang spiritual yang tidak dengan sengaja mereka lakukan atas hal itu. Tapi dengan sendirinya kemampuan itu seolah telah dia dapatkan dengan prasyarat tertentu. melainkan mereka dapatkan dengan sendirinya.
ruh manusia dan sifat-sifat alloh...manusia sebagai bagian dari alam spiritual, dikenal dengan dirinya sebagai ruh. Tidak banyak penjelasan tentang ruh, karena memang ini adalah misteri yang sangat berkepanjangan dan mungkin saja tidak akan pernah terpecahkan oleh akal manusia yang sangat tidak terbatas keterbatasannya ini. Tetapi ada beberapa yang menemukan bahwa ruh adalah sesuatu esensi utama dari diri manusia. sebuah esensi pokok yang membuat adanya pergerakan diri. Yang menyebabkan adanya kehidupan. Dan melahirkan hubungan-hubungan antara satu jasad dengan jasad lainnya, antara satu benda dengan lainnya, antara satu dunia dengan lainnya.
Ruh manusia sifatnya dinamis, agressif dan atraktif. Sehingga muncul kepada bagian-bagian diri sebagai mahluk yang hidup dan mampu menggerakkan mahluk lainnya. Hidupnya ruh manusia sangat bergantung kepada pergerakkan ruh lainnya. Dan menyebabkan adanya pergerakan yang bisa diperkirakan dan tidak bisa diramalkan. Sesaat manusia menunjukkan bahwa dirinya adalah A. Tapi di saat lain, dia bisa berubah menjadi B, C, atau bahkan menjadi Z. Satu saat manusia berwarna putih, di saat lain, cepat ataupun lambat, dia akan berubah menjadi hitam, kuning, merah, hijau, biru, dan lain-lain. Ini hanya perumpamaan, dan dalam wujud aslinya, manusia satu saat baik, di saat lain bisa tidak baik juga bisa membuat manusia lain baik. Demikian halnya dengan sifat atau karakter manusia lainnya.   
Alloh meniupkan ruhNya ke dalam setiap jasad manusia. yang menyebabkan manusia mampu hidup. ruhNya yang luar biasa telah menjadikan manusia mampu untuk menjadi sosok yang luar biasa baiknya. Sangat wajar jika manusia mampu mengejar segala ketertinggalan dari manusia lainnya, dan wajar pula jika manusia mampu menguasai alam ini. Meski demikian, Alloh menciptakan manusia dalam keadaan sangat tidak terbatas keterbatasannya. Dan tidak bisa melebihi kualitas serta kapasitas ruhNya. Manusia hanya diberi setitik saja dari ruhNya dan diwarisi sedikit saja karakter dari ruhNya.
Sifat-sifat Alloh ada yang wajib diketahui dan semuanya melebihi kapasitas manusia. namun sifat-sifatNya itu pun ada dalam ruh manusia. manusia bisa baik, bisa menjadi seorang penyayang, pemelihara, dan sifat-sifat lain yang bisa ada pada diri manusia. meskipun sebagian sifatNya tidak bisa sepenuhnya ada dalam diri manusia karena keterbatasannya. Artinya, ada hubungan antara ruhNya dengan ruh manusia. dan ada kewenangan manusia atas dirinya untuk bisa menyamai Alloh pada sifat-sifatNya dengan kuantitas dan kualitas yang jauh lebih lebih kurang dan bahkan sangat kurang di banding denganNya. Sebagaimana di atas disinggung, bahwa manusia hanya memiliki setitik dari karakter ruhNya. Walloh a’lam.
Menjauhi diri pembangkang
Manusia sebagai mahluk yang mampu menilai berdasarkan akal fikirannya memiliki kaitan erat dengan baik dan buruk, indah dan jelek, dan segala bentuk penilaian lain. Karena potensi dalam dirinya itu meskipun tidak berdasarkan nilai tetapi pada saat berhubungan dengan dunia di luar dirinya, maka nilai menjadi sesuatu yang membatasi pergerakan dirinya. Sehingga muncullah istilah ‘tidak boleh’, ‘dilarang’. ‘diharamkan’, dan segala batas lain. Semua ini member perlakuan kepada manusia sebagai mahluk mulai sekaligus mahluk yang terbatas. Namun disadari atau tidak, keterbatasan yang diberikan secara tidak langsung oleh dirinya, memiliki tujuan demi kehidupan yang layak dan bernilai positif untuk dirinya, maupun untuk luar dirinya. Demikianlah kenyataan yang harus dihadapi oleh manusia pada umumnya.
Secara khusus, nilai yang ada yang secara umum tertulis ataupun tidak, bisa memberikan kemaslahatan. Terlebih lagi nilai yang diatur oleh alquran dan yang ditunjukkan oleh Rosul sebagai manusia model yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai positif. Dalam alquran maupun sunnah, segala nilai positif bisa ditemukan. Ketika berhadapan dengan larangan untuk memakan daging satu hewan tertentu misalnya, itu memiliki tujuan tertentu yang manusia pun belum tentu mengetahui apa yang sebenarnya di balik pelarangan itu. Dan untuk mengetahuinya pun harus melewati fase kajian yang mendalam dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Belum lagi dengan pelarangan-pelarangan lainnya yang secara tertulis dalam alquran maupun terucapkan oleh rosul dalam sunnahnya.
Alloh tidak memberikan sesuatu yang nilainya buruk kepada mahluknya. Begitu pula rosul tidak memperlihatkan contoh yang jelek kepada manusia. Jika manusia hanya bisa meneropong sesuatu dengan pandangan yang meskipun jauh tetapi sangat pendek, maka alloh yang maha kuasa dan tahu segalanya atas apa yang akan terjadi ketika manusia melakukan atau tidak melakukan apa yang diperintahkan olehNya. Kebaikan atau keburukan setelah melakukan sesuatu itu tidak relative. Melainkan ketika kita melakukan kebaikan atau keburukan itu sangat pasti. Ketika melakukan sesuatu yang orientasinya atau nilainya baik, maka kebaikan pun akan diterima setelahnya. Begitu juga sebaliknya. Maka, jangan pernah mengukur atau memikirkan perbuatan kita, apalagi jika perbuatan kita itu adalah baik dan maslahat. Lakukan saja dan lakukan secara maksimal dan sepenuh hati.
Pembatasan diri yang dilakukan oleh Alloh dan dicontohkan oleh Rosul merupakan wujud kepedulianNya kepada manusia. Seharusnya meskipun manusia memiliki segala kecenderungan dalam dirinya, namun manusia harus bisa mengarahkan diri kepada hal-hal yang positif apakah itu yang abstrak maupun yang kongkrit. Apakah itu sedari awal yang dalam bentuk niat atau keinginan maupun dalam wujud perilaku yang terlihat dari tubuh.
Apa yang dibatasi oleh Alloh selain bentuk kepedulianNya, juga merupakan hakikat kemanusiaan yang sesungguhnya. Artinya, apapun yang ada dalam alquran dalam bentuk larangan maupun perintah, juga apapun yang dicontohkan oleh Rosul, itu tidak bertentangan dengan esensi manusia sebagai mahluk yang memiliki kecenderungan utama untuk menjunjung tinggi kebaikan dan segala hal yang positif. Menjunjung tinggi yang diwujudkan dalam melakukan segala perbuatan baik dan menjauhi segala hal yang buruk. Menciptakan karya-karya yang indah dan menghindari diri dari terciptanya karya-karya yang tidak maksimal atau jelek. Dengan kata lain, Alloh menjunjung tinggi kemuliaan diri manusia itu sendiri.
Oleh karena itu, berbahagialah mereka yang mampu menahan dirinya dari melakukan perlawanan terhadap dirinya sendiri. Siapapun yang membangkang segala titah Alloh, maka dia melawan jati dirinya sendiri. siapapun yang melawan jati dirinya sendiri, maka dia akan kehilangan kesadaran akan dirinya. Dan siapapun yang tidak memiliki kesadaran diri, maka dia akan merasakan ketidak menentuan dalam hidupnya. Karena dia akan selalu menjalani kehidupan dalam ‘ngabatin’ atau konflik di kedalaman dirinya. Ketika konflik terjadi, maka ada bagian dari dirinya yang terluka. Semakin besar konfliknya maka semakin parah lukanya. Berharap manusia mampu memanfaatkan alquran dan hadis sebagai jalan untuk menemukan diri dan mampu menjalani kehidupan dalam kemaslahatan dan kebaikan hingga nanti mencapai batas keabadian kelak.


C.     Mengenal diri
Sadar diri dan tahu diri
sadar menurut perkiraan saya, adalah bahasa serapan dari bahasa arab shodaro yang bermakna kembali atau shodrun bermakna dada atau tempat kembalinya sesuatu. Sadar diri artinya lebih kepada meraba, merasa, dan mengembalikan segala sesuatu kepada bagaimana tubuh merespon akan segala fenomena, kondisi, dan situasi di luar diri. Respon yang baik menunjukkan kesadaran diri tinggi dan sebaliknya jika merespon dengan yang buruk maka kesadaran dirinya rendah. Ketika terjadi suatu fenomena atau peristiwa kemudian diri menganggap bahwa apapun yang terjadi adalah berasal dari kondisi serta situasi diri, maka kesadaran dirinya baik. Begitu juga sebaliknya.
Di saat ada antrian di bank, seseorang yang sadar akan dirinya akan mengikuti antrian dan tidak menyerobot ke depan. Dia akan berada di ujung belakang karena dia merasa dan meraba diri bahwa dirinya terlambat dan harus menerima kondisi serta situasi yang secara aktual dia terima yakni harus berada di antrian paling belakang. Begitu juga pada saat seorang pimpinan perusahaan merasakan ada yang kurang dalam kinerja perusahaannya, dia tidak akan langsung saja memarahi dan menyudutkan kesalahan kepada timnya. Melainkan dia akan meraba dan merasakan apakah ada kejanggalan di dalam dirinya yang menyebabkan kinerja dalam perusahaannya menurun. Baru setelah dia menjelajahi segala dimensi dalam dirinya, dan menimpakan respon apapun yang akan ia berikan kepada timnya terhadap dirinya sendiri, maka dia akan memberikan perlakuan kepada timnya seperti kepada dirinya sendiri.
Banyak pakar psikologi yang menyandarkan kesadaran diri lebih kepada mawas diri. Yakni meraba dan merasakan ada tidaknya pergerakan dalam diri sebagai respon atas apa yang terjadi. Lebih spesifik, mereka memfokuskan kesadaran diri kepada emosi. Karena emosi adalah hal penting dalam diri yang mengatur segala perilaku manusia. baik dan buruknya suatu tindakan adalah berawal dari emosi. Positif maupun negatifnya perilaku adalah disebabkan oleh kondisi emosi dalam diri. Sehingga seseorang yang baik kesadaran dirinya, dia akan pandai-pandai mengatur emosinya. Makanya kesadaran diri lebih cenderung kepada bagaimana cara seseorang melakukan kontrol emosi diri.
ketika seseorang pandai mengontrol emosi diri, maka dia mengetahui batas-batas emosi. Dia tahu bagaimana dirinya bisa bahagia. Dia selalu teringatkan peristiwa apa saja yang bisa membuatnya marah atau jengkel. Dia akan memilah dan memilih mana saja fenomena yang bisa menyebabkan ketenangan dalam dirinya. Sebaliknya, seseorang yang tidak pandai mengontrol dirinya, wawasan tentang batas-batas emosinya tidak dia kuasai. Sehingga dia tidak mampu memilah dan memilih kapan saatnya untuk bahagia, kapan waktunya untuk merespon dengan kemarahan, sehingga dia sulit sekali untuk menemukan celah dalam diri ketika terjadi apapun, untuk merasakan ketengan dan ketentraman diri.
Berbeda dengan tahu diri. Pengetahuan diri lebih luas dari kesadaran diri. Pengetahuan diri lebih kepada wawasan tentang segala hal yang berkaitan dengan diri. Apakah itu yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Apakah itu yang sifatnya ruhani maupun jasmani. Pengetahuan diri meliputi wawasan tentang dirinya yang sangat komprehensif. Selain dari wawasan tentang emosi diri, ‘tahu diri’ terdiri dari tahu siapa namanya, apa saja kemampuannya, alamat, dia keluarganya siapa saja, siapa nama isteri, siapa tetangganya, siapa saja temannya, dan segala hal yang berkaitan yang ada dalam internal diri maupun eksternal dirinya.
Karena manusia adalah mahluk yang multi potensi, maka dia memiliki segala hal dalam dirinya. Ketika dia tahu segala potensi dalam dirinya, maka dia akan memiliki segalanya yang bisa diraih oleh dirinya. Penting di sini pengetahuan dan wawasan tentang kemampuan diri. Yang meliputi inderawi yang telah aktif. Terdapat jutaan potensi dalam diri yang bisa diraih melalui mata, telinga, tangan, kaki, dan piranti inderawi lainnya. Kuasailah semuanya, maka kondisi lingkungan seperti apapun pasti bisa dilalui dan dijalani. Ketahuilah sedikit dari keberfungsian inderawi untuk menguasai keseluruhannya. Menguasai keseluruhannya berarti mampu mengerti dan memahami bagaimana pergerakan diri.
Pemahaman diri adalah penting. Faham bagian kecil saja, bisa berimbas kepada perubahan penting diri. Apalagi jika pemahamannya meliputi keseluruhan diri dari segala seginya, akan mencapai satu fase kesejatian diri. Tidak perlu merubah postur tubuh, atau mengganti posisi organ tubuh, atau menggantinya dengan organ tubuh manusia lain. Cukup hanya dengan memahami diri, maka akan mampu memperlakukan diri sebagaimana adanya dan memberikan perubahan kepada fenomena kehidupan. Seorang manusia yang faham akan dirinya adalah mereka yang mampu menjadikan dunia di tangannya. Sedangkan mereka yang tidak faham akan dirinya, akan dikelabui oleh kehidupan dunia yang seolah seperti sandiwara ini.
Kesadaran diri, pengetahuan diri, dan berakhir pada pemahaman diri, akan melahirkan kontrol diri dan mengarahkan diri kemana pun yang kita mau. Seperti apapun target kehidupan kita, ketika ketiga hal ini diterapkan kepada diri, maka ketercapaian menuju target itu akan akurat dan lebih dari itu menjadi lebih maksimal. Kontrol diri identik dengan pensejatian diri dan kemampuan diri untuk menggerakkan segala hal di luarnya. bukan berarti kekuasaan manusia sangat tidak terbatas, melainkan manusia mampu berdiri tegak dan tidak akan pernah roboh.
Persfektif dan Referrensi
untuk sementara ini, manusia masih menempati posisi tertinggi sebagai mahluk yang paling cerdas yang disimbolkan dengan akalnya yang sangat berharga. Namun kecerdasannya itu tidaklah berfungsi sedikitpun tanpa adanya bantuan dari orang lain. Dalam hal ini memang manusia terbukti sebagai mahluk yang sangat membutuhkan bantuan manusia lain bahkan mahluk lain. Bukan berarti kecerdasannya itu semu, namun kecerdasarnnya itu bisa aktif manakala dia menerima adanya stimuli dari mahluk lainnya. Rangsang yang diterima bisa dalam bentuk gerak laku mahluk lain, atau dalam bentuk suara. Rangsang ini kita sebut dengan informasi. Jadi, manusia tidak akan bisa hidup tanpa informasi yang sangat mendukung terhadap kecerdasan dalam dirinya.
Informasi yang diterima oleh manusia ada yang sifatnya internal maupun eksternal. Yang internal, berupa sistem kerja internal diri yang digerakkan oleh otaknya. Yang terdiri dari informasi-informasi tentang diri dan diolah sedemikian rupa sehingga dalam diri manusia dirasakan hidup dan menyebabkan manusia bisa bergerak memberikan rangsang kepada manusia atau mahluk lain. Informasi internal ini muncul hanya pada saat kita merasakan beberapa kebutuhan yang sangat mendasar. Yang berhubungan dengan kebutuhan mendasar, yang jika tidak dipenuhi, manusia tidak akan hidup atau merasa tidak hidup. Misalnya, pada saat kita merasakan lapar dan haus. Juga pada saat kita merasakan kesepian. Kondisi ini bisa disebut dengan realitas internal. Bisa juga disebut dengan rangsang internal.
Kedahsyatan penciptaan alloh adalah bahwa ini otomatis menyebabkan kebutuhan adanya informasi kedua yakni informasi eksternal. Yang banyak orang menyebutnya dengan realitas eksternal. Yakni informasi-informasi verbal dan nonverbal yang muncul dari luar diri (diri di sini kita istilahkan dengan tubuh dan segala hal yang sifatnya spiritual atau immateri di dalamnya). Sebagaimana dikatakan di atas, bahwa informasi ini bisa dalam berbagai bentuk yang menstimuli adanya respon dari dalam diri manusia. Jika informasi internal tidak memerlukan lima inderawi, maka Informasi ini hanya diterima melalui celah pintu kelima indera kita. Informasi masuk melalui mata, telinga, atau bahkan kulit, hidung, dan lidah.
Informasi-informasi yang tidak melalui alat indera serentak menyebabkan adanya respon gerak diri yang didasarkan atas perspektif mengenai diri. Begitu juga dengan informasi yang melalui alat indera, melahirkan perpektif-perspektif mengenai diri yang pada awalnya hanya berbentuk perpektif mengenai realitas-realitas maupun fenomena di luar diri. Tetapi lambat laun merespon terhadap cara diri memberikan respon balik. Dan secara langsung maupun tidak menciptakan perpektif-perspektif mengenai diri yang dibentuk menjadi konsepsi sebelum akhirnya membentuk seperti apa kepribadian yang disesuaikan dengan perspektif tadi.
Di sini pentingnya bagaimana cara kita mengolah informasi yang diterima dan bagaimana cara kita membentuknya menjadi konsep mengenai diri sendiri. perlu kiranya cara kerja diri secara selektif memilih informasi mana yang menjadi perspektif seperti apa, supaya konsep diri pun terbentuk dalam kesan yang positif. Terima saja apapun informasinya, kemudian buatlah kategori-kategori perpektif tadi lalu rangkai dan susunlah yang sifatnya positif supaya tercipta diri yang terkonsep secara positif pula . bukan berarti yang negative dihilangkan. Tetapi dijadikan pembanding supaya konsep diri kita sangat maksimal dan sempurna, tentunya berdasarkan perspektif-perspektif tadi.
Penjelasan ini mengemukakan bagaimana realitas eksternal mampu merubah diri dan mengarahkan diri. Kemampuan mata untuk melihat orang lain, atau telinga untuk mendengar bagaimana orang lain berpersepsi tentang diri kita, dan juga indera lainnya, besar pengaruhnya terhadap bagaimana diri bisa menjadi sosok apapun. Kecenderungan ini merupakan keterkaitan kita dengan di luar diri kita. Atau dengan istilah yang lebih ekstrim, kita tergantung dengan di luar diri kita. Kita cenderung merujuk dan mereferensikan dunia luar kita terhadap bagaimana kita membuat gambaran diri kita. Misalnya ketika melihat gambar kita pada cermin, ini pun berpengaruh juga. Apalagi ketika menerima informasi tentang gambaran diri dari orang lain. Maka dengan mudahnya jika ditanya tentang diri, jawabannya adalah rujukan-rujukan tadi.  
Informasi eksternal begitu kental dengan kecerdasan, karena kecerdasan seseorang hanya bisa diukur manakala terbukti dalam satuan yang bisa diukur oleh manusia lainnya. Informasi eksternal pun sarat dengan kepribadian diri. Maka kemampuan kita mengolah informasi harus dilakukan secermat mungkin karena kedua hal ini adalah efek dari kemunculannya dalam otak kita. Kecerdasan dan kepribadian kita dibentuk dengan sendirinya dan dominan berasal dari luar diri. Pintar-pintarlah membuat konsep tentang diri dan manfaatkanlah segala yang ada di dalam dan luar diri untuk menciptakan diri ideal yang mampu menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa secara jasmani maupun ruhani.  
Jika kita bisa menyusun dan mengonsep diri secara baik, maka kepribadian kita akan menjadi sangat normal. Kepribadian normal adalah kepribadian yang bisa diukur sesuai dengan ukuran pencapaian yang diharapkan oleh diri sendiri maupun mahluk lain. Kesesuaiannya ini termanifestasi dalam segala gerak tingkah laku yang seimbang dan harmoni, selalu terarah kepada nilai-nilai yang positif, dan berlandaskan orisinalitas nurani kita. Meskipun sangat jarang yang bisa seperti ini, namun pembentukan kepribadian ini sangatlah mungkin. Karena apapun yang diinginkan oleh mahluk lain adalah keinginan kita sendiri. Masalah adanya konflik yang menyebabkan psikopat yang berujung ketidak selarasan perilaku, itu disebabkan oleh ketidak tepatan waktu antara keinginan yang ingin kita raih dengan harapan yang hendak diraih oleh mahluk lainnya.

Saya, Aku, dan Diri Ideal
diri terbatas----seseorang dibatasi oleh dirinya sendiri. Keterbatasan di sini maksudnya adalah berkaitan dengan kemampuannya. Dan ketika bicara tentang kemampuan, maka tidak jauh dari potensi yang dimilikinya yang ada dalam dirinya sendiri. Kemampuan potensial fisik dan nonfisik. Dalam hal material maupun immaterial. Atau dalam hal karya nyata maupun hanya sebuah gagasan belaka. Sebuah keterbatasan yang sedikit banyaknya dirasakan oleh dirinya sendiri. Dan tidak diketahui oleh orang lain. Dan merupakan kemampuan yang sangat dapat diukur sedemikian rupa. Karena tidak ada kemampuan manusia yang tidak dapat diukur. Dan karena hanyalah kemampuan Alloh yang tidak bisa diukur.
Kemampuan itu meliputi kemampuan organ fisikal seperti mata, telinga, kaki, tangan, mulut, dan lain-lain. mata hanya bisa melihat sejauh mata memandang. Artinya hanya sejauh beberapa kilometer untuk ukuran normal. Apalagi mereka yang matanya sudah tidak normal, hanya bisa menggunakannya dalam jarak dekat. Begitu juga dengan telinga, tidak bisa mendengar suara semut. Kaki hanya akan mampu digunakan untuk berjalan beberapa ratus meter. Keterbatasan fisik ini sangat terlihat jelas, manakala seseorang memerlukan jeda waktu dalam penggunaannya. Atau yang sering kita istilahkan dengan istirahat sejenak. Begitu juga dengan organ tubuh yang lainnya yang sifatnya fisikal.
Kemampuan non fisik hanya ada dalam ruang gagasan. Satu-satunya organ non fisik manusia adalah hati. Dengan hati, seseorang bisa berfikir , mengingat, merasakan, dan menemukan gagasan-gagasan. Keterbatasan kerja hati lebih sering hanya berputar-putar dalam hal yang rasional dan logis. Selebihnya, hati jarang sekali memikirkannya. Merasakan sesuatu dalam diri pun, itu pasti berkenaan dengan sesuatu yang nyata dan bisa diukur. Begitu pula dengan bagaimana dia menemukan gagasan, sangat berkaitan erat dengan rangsang dari luar dirinya yang sifatnya nyata. Merasa tidak percaya diri misalnya disebabkan dirinya berfikir bahwa dirinya tidak bisa meraih apa yang ia inginkan. Atau dikarenakan memiliki ingatan tentang sesuatu yang pernah menciptakan konflik dalam dirinya.  
Selain itu, keterbatasan fisik dan non fisik tersebut jika menyatu, membuat adanya keterbatasan lain. Ketika seseorang tidak memiliki pengetahuan tentang menyetir, maka otomatis, tangan, kaki, mata, dan semua anggota tubuh lain pun demikian. Dan tidak bisa memikirkan bagaimana cara membuat mobil. Ketika seseorang memiliki pengetahuan tentang bumbu dapur dan cara meramu masakan, maka ia akan dengan leluasa menggunakannya melalui organ fisik untuk membuat suatu masakan tertentu. tapi belum tentu memiliki kemampuan untuk membuat piring, sendok, dan alat dapur lainnya.
Dalam gambaran diri, yang dominan adalah sedikit sekali kemampuan dan begitu banyak ketidakmampuan diri. Sebagaimana disinggung mengenai potensi manusia yang sebenarnya bisa melakukan apa saja, namun hanya satu dua kemampuan yang menjadi gambaran diri dominan. Sedangkan kemampuan diri yang lain yang sebenarnya bisa digali lebih kepada kekurangan dan kelemahan diri. Orang lebih cenderung untuk menyebutkan satu atau dua saja kemampuan/skill utama yang dimilikinya daripada menyebutkan beberapa hal yang sedikit saja penguasaannya. kelemahan atau kekurangan itu menyebabkan timbulnya keputusan untuk lebih fokus kepada apa yang menurutnya mampu untuk dilakukan. Sehingga banyak orang yang memilih pekerjaan atau profesi dan menemukan jati dirinya berdasarkan hal ini.
Diri tak terhingga----di balik keterbatasan-keterbatasan diri itu, ada hasrat untuk meraih keinginan-keinginan ideal dan harapan-harapan yang sangat tinggi. Inilah yang biasanya orang rasakan manakala imajinasinya bermain. Idealisme hanya bisa dirasakan dan dibentuk sedemikian rupa dalam imajinasi. Karena imajinasi berisi sekumpulan potensi diri kita yang tidak terbatas sedikitpun. Hal apapun bisa dirumuskan, digali, diwujudkan dalam imajinasi terlebih dahulu. Bahkan hal-hal yang paling sulit sekalipun bisa dilahirkan dalam imajinasi. Apakah sesuatu yang hanya khayalan bisa tercapai? Sebenarnya tidak, tetapi ketika khayalan atau imajinasi itu masih dalam sekitar satuan ukur hitungan manusia, maka pasti bisa diraih dan diwujudkan.
Sebuah imajinasi tinggi menunjukkan bahwa dalam diri manusia terdapat potensi-potensi yang luar biasa. Bukan berarti manusia bisa meraih segalanya, tetapi manusia hanya diberi ruang yang sempit dan sangat terbatas. Ruang sempit yang mengurung diri dan terbatas oleh tubuh yang tidak bisa bertahan lama. Terkurung dalam bungkus kulit yang sangat mudah untuk lapuk dan hancur. Manusia boleh berimajinasi untuk memiliki sayap untuk terbang, tetapi keterbatasannya membuat dia mampu untuk menciptakan sayap yang tidak menempel langsung dengan tubuhnya. Artinya, imajinasi tinggi seperti apapun bisa diraih tetapi dalam ukuran dan bentuk lain dari imajinasi itu sendiri. Maha suci alloh yang menciptakan manusia.
Imajinasi melahirkan harapan dan cita-cita. Dan ketika mampu untuk meraih satu atau bahkan nol koma satu dari jutaan harapan, maka seluruh potensi dalam dirinya bisa membentuk dimensi jasmani dan ruhani mengarah kepada satu bentuk paten dari keadaan diri. Ketika ini terjadi, maka diri mengalami pengalaman yang di atas rata-rata. Yang mana rata-rata manusia lebih mudah untuk berubah berdasarkan pergerakkan fikirannya. Pengalaman ini begitu berharga. Seiring dengan berbagai fase yang telah dilalui oleh manusia sebelum mencapai pada tahap ini, maka keputusan-keputusan yang diambil untuk melakukan tindakan apapun seringkali tidak melibatkan fikiran melainkan lebih kepada aktualisasi diri yang maksimal dan spontanitas tinggi. Jika demikian, maka pengalaman-pengalaman ini bisa menstabilkan kedirian dan kepribadian.
kepribadian mapan----yakni kepribadian yang kuat secara lahiriyah dan kuat dalam batiniyah. Kekuatan lahir dan batin dalam hal ini adalah output dari berbagai fase yang telah dilalui sebelumnya. Lebih kepada kematangan dan kedewasaan diri. Yang ekstrim adalah bahwa manusia bisa ditempatkan dimana pun dan pasti mampu untuk menyesuaikan diri dengan waktu dan tempat seperti apapun. Anggap saja fase-fase tersebut adalah pembelajaran yang tiada hentinya yang mampu melahirkan kewaspadaan yang terbiasa dan keterarahan diri kepada kedewasaan yang maksimal.

Bathinnya besar, maka lahirnya lebih besar
Alam terbatas---mahluk hidup yang alloh ciptakan begitu banyak. Semua ditempatkan olehNya di tempat-tempat yang sesuai dengan fitrah bawaannya. Air, udara, tanah, adalah tempat bernaungnya mahluk hidup. Ikan pasti tinggal di dalam air. Semua burung pun tinggal di udara. Dan ada pula yang tinggal di tengah-tengah antara air dan udara yakni hewan-hewan melata yang tidak memiliki sayap dan tidak memiliki sirip seperti kuda juga manusia. ini adalah gambaran begitu luasnya tempat yang disediakan oleh Alloh untuk semua mahluk yang diciptakan olehNya.
Sebenarnya luasnya alam jagat raya ini sangat tidak terbatas karena ketidakmampuan manusia untuk menjangkau setiap sudut ruang di alam ini. Karenanya, alam ini tidak terbatas sesuai dengan keterbatasan manusia tersebut. Bukan hanya oleh akal manusia yakni dengan banyaknya ketidaktahuan tetapi oleh kemampuan fisiknya pun, manusia tidak mampu menjangkaunya. Manusia lemah, sehingga untuk menjangkau seluruh alam ini dibutuhkan kemampuan yang sangat superlatif. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa bagaimanapun manusia adalah mahluk yang terbatas dan hidup di dunia nyata yang sangat terbatas pula.
Jika kita adalah mahluk yang terbatas dan hidup di dunia yang sangat terbatas, maka apapun yang kita lakukan, apapun tujuannya tidak bisa menjangkau berbagai sisi kehidupan. Artinya kita hanya bisa melakukan apa yang kita mampu saja. Misalnya, memberi hanya alakadarnya bahkan meskipun ada istilah rakus, ketika kita menerima banyak hal yang kita butuhkan, kita tidak bisa menerima semuanya. Modal kita terbatas, kemampuan kita terbatas, dan jangkauan kita pun sangat terbatas. Untuk melakukan satu kebaikan, tidak usah menghitung banyaknya, melainkan utamakan hal sedikit darinya. Karena jangankan untuk menjangkau sesuatu yang banyak, terkadang untuk meliputi sesuatu hal yang sedikit saja kita tidak maksimal.
alam tak terhingga---jarang manusia yang menyadari bahwa ada alam yang sangat tak terhingga dalam dirinya. Apapun bisa masuk ke dalamnya. Bagaimanapun ukurannya. Alam ini adalah alam fikiran kita. Apapun yang kita fikirkan bisa masuk ke dalamnya. Ruang serta dimensinya begitu luas. Membayangkan bola dunia yang sangat luar biasa besarnya ini pun bisa. Artinya bola dunia bisa masuk ke dalam fikiran kita. Bahkan setelah kita melihat sebuah model jagat raya, kita bisa memikirkannya dan masuk ke dalam imajinasi kita.
Ukuran otak kita hanya setengah dari buah kelapa. Namun setiap seratnya mampu menerima informasi yang diterjemahkan menjadi sebuah imajinasi tertentu dan artinya adalah bahwa otak kita mampu mencakup apapun di dalamnya. Bahkan ada yang lebih dahsyat dari itu, yakni hati atau kalbu. Hati bisa mencapai sesuatu yang terdalam dari apa yang belum kita lihat saat ini. Alam ini adalah alam spiritual. Yakni sebuah alam dimana kita hanya bisa berkomunikasi dengan hal-hal yang sifatnya metafisik. Dan menurut saya, ini adalah kedahsyatan yang dimiliki oleh manusia dibandingkan dengan mahluk lainnya.
Di saat kita tertidur pulas, kita bisa bermimpi bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal ratusan tahun lalu dan berada di tempat yang kita belum pernah singgahi sebelumnya. Artinya kita bisa menjangkau jarak dimensi ruang dan waktu yang begitu jauh. Jelas ini menunjukkan bahwa hati memiliki luas yang tak terhingga di banding dengan fikiran kita. Fikiran kita hanya bisa memasukkan tempat-tempat yang pernah kita singgahi dan melakukan  apapun yang pernah kita lewati. Sedangkan hati demikian adanya dengan segala ketidak terhinggaannya. Maka menguasai fikiran belum tentu menguasai hati. Dan menguasi hati itu lebih dahsyat dibanding dengan menguasai fikiran kita. Dan menguasai hati berarti mampu menguasai fikiran kita. Kuasailah hati kita. Dan temukan bagaimana caranya. Juga temukan siapa orang yang bisa membimbing kita untuk menguasai hati.
Kemunculan Konflik diri, ngabatin..
Pada awalnya segala hal itu diperbolehkan hingga ada keterangan atau larangan untuk menjauhinya. Demikian ada sebuah pernyataan dari para ahli agama yang memiliki peran dalam menentukan sikap mengenai hal-hal yang sifatnya keagamaan. Bagaimanapun pernyataan seperti itu berpijak di atas cara berfikir kita yang pada awalnya tidak terbatas. Apapun yang ada di dalam fikiran kita tidak ada seorang pun yang boleh melarangnya. Seperti diungkapkan di atas bahwa fikiran kita begitu luas seluas jagat raya yang kita diami saat ini. Sehingga kita bebas menelaah dan memikirkan apapun yang berkaitan dengan kehidupan kita.
Silahkan saja fikirkan hal terkotor sekalipun. Atau boleh saja kita memikirkan sesuatu yang tabu di hadapan manusia. demikianlah kebebasan manusia pada dasarnya. Bagaimanapun fikiran kita bermain, pasti menimbulkan dorongan kepada keinginan-keinginan yang ada kaitannya dengan urusan hidup kita. Ini merupakan ciri dari adanya berbagai keinginan yang ada dalam diri kita. Jika kita umpamakan, keinginan-keinginan itu sebanyak ummat manusia seluruh dunia. Bahkan lebih dari itu, sebanyak bintang di jagat raya ini bersama debu-debunya yang tida pernah ada seorang pun mampu untuk menghitung jumlahnya.
Dorongan atau keinginan yang muncul dalam fikiran kita seringkali mendorong kepada tahap selanjutnya yakni perilaku atau bagaimana cara kita merespon keinginan kita yang disesuaikan dengan segala hal yang berada di luar diri kita. Ketika berperilaku, kita terlihat bebas menggunakan semua organ tubuh yang menempel pada tubuh kita. Menggunakan mata, telinga, mulut, tangan, kaki, dan organ tubuh lainnya yang sifatnya jasmaniyah atau dhohir. Mata bebas untuk melihat apapun, telinga bebas untuk mendengar apapun, mulut bebas untuk mengatakan apapun, begitu juga dengan organ tubuh lainnya kita diberi kewenangan sendiri untuk menggunakannya.
Semua inderawi yang kita miliki berkaitan dengan fungsi dalam hal berhubungan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Meski sebenarnya semua dibatasi dengan sendirinya oleh bagaimana cara orang lain memberikan respon terhadap apa yang kita lakukan. Sehingga kita pun sesungguhnya tidak bisa dengan seenaknya menjalani kehidupan ini. Bisa saja apa yang kita lakukan itu berbeda dengan apa yang ada dalam fikiran orang lain. Kita boleh saja korupsi tetapi orang lain lebih setuju jika kita menggunakan kesempatan untuk korupsi itu dengan hal-hal yang sangat positif dan maslahat untuk diri dan orang lain.
Sungguh jelas bahwa ini menunjukkan perbedaan frame antara kita dengan orang lain. Apa yang kita lakukan cenderung harus sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang lain. Apapun itu tidak terkecuali. Antara kita dengan orang lain memiliki kelebihan dan kekurangan yang sama. Antara kita dengan mereka memiliki cara berfikir masing-masing dan tentunya setiap kita memiliki isi kepala yang berbeda. Misalnya saja alasan untuk perbedaan itu adalah perbedaan kuantitas maupun kualitas kebutuhan masing-masing. Kebutuhan itu mendorong untuk berperilaku berbeda antara kita dengan orang lain.
Wajar saja bila kita merasa tidak enak manakala orang lain berbuat seenaknya. Sangat lumrah bila kita melihat orang lain dengan sebelah mata ketika dia memenuhi keinginannya dengan caranya sendiri tanpa mempedulikan kita atau sesamanya. Cara kita menggunakan mata mungkin sama tetapi tujuan dari penggunaannya itu pasti berbeda. Cara kita berjalan pasti sama tetapi tujuan masing-masing yang terdorong oleh keinginannya pasti berbeda. Perilaku apapun yang diperlihatkan oleh kesamaan fungsi organ tubuh masing-masing dari kita memiliki sesuatu yang tersembunyi di belakangnya. Inilah kenyataan hidup yang mesti kita hadapi. Misteri dari perbuatan dan tindakan kita bisa menimbulkan adanya tabrakan dan konflik antara kita dengan orang lain bahkan dengan diri kita sendiri.
Terkadang konflik dengan diri bisa jadi mendorong adanya konflik dengan orang lain. Tetapi juga kebanyakan adanya tabrakan keinginan antara kita menimbulkan konflik dalam diri dan bisa menjadikan situasi dalam fikiran bahkan perilaku kita tidak menentu. Ini yang menyebabkan banyaknya manusia yang tidak bisa memilih mana tujuan hidupnya dan inilah yang membuat kebanyakan manusia tidak mampu untuk menahan segala tekanan dalam diri. Maka ketika tekanan dalam diri tidak bisa diantisipasi, yang ada adalah munculnya permasalahan, entah itu besar maupun kecil.
Masalah apapun yang kita miliki berbeda dengan orang lain. Menurut kita masalah yang dihadapi adalah besar belum tentu besar menurut orang lain. Dan juga sebaliknya. Inti dari rentetan kalimat yang saya ungkapkan ini hanya ingin mengutarakan bahwa perbedaan yang muncul, apapun itu, bisa menimbulkan permasalahan. Permasalahan bisa jadi besar ketika kita menganggapnya dan bahkan meresponnya dengan tindakan yang besar. Juga permasalahan bisa jadi kecil ketika kita meresponnya dengan jiwa yang kecil. Artinya masalah itu dianggap kecil menurut kapasitas diri kita yang begitu luar biasa memiliki kedahsyatan ini.
Sering-seringlah berfikir tentang keinginan orang lain. Sering-seringlah mempertimbangkan apapun yang kita lakukan apakah sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang lain. Dan lebih penting lagi, apakah sesuai dengan apa yang ada dalam fikiran orang lain. Hanya mereka yang mampu memilah dan memilih perilaku dan perbuatan, yang bisa menjalani kehidupan penuh dengan kebahagiaan.
Lupa itu perlu
Diri bermasalah---kita seringkali dihadapkan kepada situasi dan kondisi di mana diri kita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan. Kita juga sangat mungkin untuk berhadapan dengan bagaimana kebutuhan dan kepentingan kita tabrakan dengan orang lain. Selain itu, kita seringkali berbeda persepsi dan arah diri dengan tujuan yang hendak kita capai. Di saat itulah kita akan berhadapan dengan permasalahan kehidupan yang khas. Yang menantang diri untuk melakukan dua hal, apakah melanjutkan apa yang kita lakukan atau meninggalkannya. Mendorong kita untuk berbuat hal-hal yang sebenarnya berada di luar batas kemampuan juga keadaan yang sesungguhnya diri kita.
Kondisi ini sangat sering bahkan semua manusia memiliki kecenderungan untuk ini. Meskipun mereka kebanyakan tidak merasakan adanya keganjilan dalam dirinya. Yang berawal dari segala keterbatasan diri seperti yang sudah pernah dijelaskan sebelumnya. Diri terbatas membuat adanya ketidak berhasilan dalam pencapaian harapan-harapan dan keinginan-keinginan.  Sehingga dalam benak kita, bukan hanya diri yang bermasalah namun banyak sekali apapun yang berada di luar diri kita seolah ganjil dan tidak normal.
kehidupan bermasalah---permasalahan dalam diri menyebabkan permasalahan dalam kehidupan seluruhnya. Sehingga sebenarnya apapun masalahnya adalah akibat dari bagaimana kita menghadapi masalah diri. Yang berangsur-angsur menjadi permasalahan besar dan merambat kepada beberapa aspek kehidupan lainnya. Di saat kita tidak bisa bekerja dengan maksimal dikarenakan kita sakit, maka ini menjadi penyebab dikuranginya insentif pegawai dari kantor. Kurangnya insentif menyebabkan kurangnya biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di saat kita tidak berani untuk mengeluarkan pendapat saat rapat, ini bisa menimbulkan kecemasan yang berlebihan dan kekhawatiran mendalam kepada orang lain.
ingat, bagus,lupa juga tidak apa---sebenarnya apapun tergantung kepada bagaimana kita menanggapi dan memberikan respon kepadanya. Kebanyakan cara kita merespon terhadap sesuatu dibarengi oleh tidak ingatnya kita kepada kondisi diri.
menunda kesuksesan---
menjadi bijak
Ketidakpastian dalam ketidaksadaran diri

D.    Transformasi Diri
Niat adalah tujuan
Ada satu hal yang menjadi dasar mengapa manusia begitu berambisi untuk bergerak. Sekecil apapun pergerakan yang dilakukannya, dia selalu mendasarinya dengan satu tujuan tertentu. Tujuan besar ataupun kecil. Tujuannya banyak maupun sedikit. Tujuan selalu saja bersandar kepada diri dan diri berpangku kepada tujuan yang ingin dicapainya. Entah itu kaitannya dengan rentang waktu panjang ataupun pendek. Dalam arti tujuannya itu diharapkan pencapaiannya dalam waktu dekat atau dalam waktu yang cukup lama. Tujuan membawa manusia menuju segala gerak diri yang termanifestasi dalam gerak mata, telinga, langkah kaki, gerakan tangan, dan seluruh anggota tubuhnya yang kasat mata maupun yang tidak. Tergerak pula segala hal yang berada di sekitar dirinya, apakah itu yang kasat mata maupun tidak. Orang yang ada di sekitarnya, juga semua benda mati terbawa olehnya dalam perjalanan menuju tujuan yang ingin dicapainya.
Pergerakan diri manusia bersama tujuannya itu dirangsang oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang selalu terbesit dalam benaknya. Kebutuhan primer maupun sekunder mendorong manusia untuk bergerak. Bukan hanya kebutuhan yang kasat mata, tapi kebutuhan yang tanpa manusia lihat pun pasti menggerakkannya untuk dipenuhi. Manusia yang memiliki kelemahan dalam penglihatan pun demikian. Bahkan mereka lebih memiliki energi yang kuat untuk meraih tujuan kebutuhannya. Kebutuhan itu adanya di dalam diri dan seringkali dirasakan daripada diinginkan. Diinginkan muncul ketika manusia melihat sesuatu sedangkan dirasakan hadir ketika adanya sesuatu yang janggal dan kurang dalam diri manusia. yang dirasakan adalah yang paling kuat dorongannya untuk menggerakan manusia untuk memenuhinya.
Seorang anak kecil apalagi yang sudah dewasa selalu merasakan adanya sesuatu yang janggal dalam diri sehingga ia memutuskan untuk menutupi kekurangannya itu dengan kelengkapan diri. Apapun prosesnya, kelengkapan diri selalu diraih untuk mencapai kematangan diri yang setiap saat selalu saja bertambah dan berkurang. Seorang anak kecil menangis pada saat ia lapar. Dan hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya lapar. Dia menangis pula ketika dirinya merasakan haus akan pelukan seorang ibu. Dan itu selalu saja berulang setiap saat. Begitu juga dengan manusia dewasa. Mereka bahkan paling banyak diselimuti oleh segala kekurangan dalam dirinya. Sehingga menyebabkan dirinya tergerak untuk mencapai diri maksimal. Dan ini berulang setiap saat karena bisikan-bisikan dalam dirinya untuk merasakan kekurangan pun selalu berulang, bertambah dan berkurang dalam benaknya.
Niat....
perubahan adalah penting
diam---berdiam diri sama halnya dengan menunjukkan bahwa diri kita ini mati. Tak ubahnya seperti benda mati. Meskipun kita hidup tetapi kita tidak bergerak sedikitpun. Tak ada bedanya seperti tumbuhan dan pepohonan yang hanya menerima tiupan angin dan gangguan dari hewan-hewan liar yang ada di sekitarnya. Masih mendingan satu pohon besar yang menjadi naungan hewan dan tempat hidup tumbuhan-tumbuhan kecil. Sedangkan kita manusia yang sebenarnya jauh berbeda dari hewan dan tumbuhan, bisa bergerak dengan pergerakan yang berbeda dan bermakna, bisa hidup dan bahkan bisa menghidupkan.
bergerak---
hanya kepedulian ---sedikit kepedulian,menghidupkan dan melestarikan kehidupan.
kemaslahatan hidup---
berfikir untuk akhlaq
akhlak adalah perilaku---fikiran dan otak---positif dan negatif, baik dan buruk---pola fikir modal awal---
sedikit perubahan, efek bola salju
hanya sedikit perbedaan antara kita dengan hewan. Jika kita terbuat dari tanah liat yang bisa dibentuk, maka hewan pun demikian. Jika hewan memiliki instink, maka manusia pun memilikinya bahkan lebih kuat dorongan instinknya. Jika manusia bisa berbuat kerusakan, maka kerusakan dan permusuhan adalah karakter dari hewan. Tetapi jika manusia memiliki kualitas akal dan fikiran, maka hewan tidak memilikinya sedikitpun. Dan persamaan yang paling pokok adalah manusia mampu untuk berkembang begitu pula dengan hewan. Hewan dan manusia bisa berkembang jika keduanya memenuhi kebutuhan makan untuk fisiknya.
Jika kita ingin merubah sesuatu, maka kita tidak perlu perubahan besar. Tetapi kita memerlukan perubahan kecil saja.
hati yang berfikir
segalanya dari hati---panca indera dan hati---bersatunya hati dengan akal---menjadi manusia berbudi luhur
E.     Perubahan Permanen
Ruh yang permanen
Rahasia ruh---“katakanlah, ruh itu urusan Tuhanku”. Tidak ada yang tahu persisnya seperti apa bentuk ruh, warnanya, rupanya, bahkan baunya. Semua orang di antara kita tidak diberikan wewenang untuk menguak misteri yang ada di balik ruh. Mengapa demikian? Karena ruh sifatnya tak terlihat bahkan nyaris tidak terasa sedikitpun. Dan kita tidak diberikan sedikitpun kemampuan untuk membuka mata untuk melihat seperti apa ruh. Tidak diberikan kecerdasan apapun untuk memikirkan bagaimana ruh bisa hidup dan bergerak. Tidak diberikan kekuasaan untuk menyentuh apalagi memegang kulit luar dari ruh itu.
Jika Alloh yang Maha Tahu segalanya tentang tuh, maka manusia tidak akan pernah tahu tentangnya sedikitpun. Manusia hanya bisa menggunakannya meskipun tidak merasakan adanya ruh di dalam dirinya. Dan hanya Alloh yang bisa melihat, menyentuh, menggenggam, bahkan menggerakkan dan memutarbalikkan ruh dari satu keadaan kepada keadaan lain. Tidak ada alasan lain, melainkan ketika manusia memikirkan satu hal tentang ruh, maka hasilnya adalah semua dan tidak pasti. Hingga pecah kepala kita memikirkan ruh, hasilnya nisbi. Penafsiran mengenai ruh itu pasti ada sandaran tertentu. ruh adalah satu hal yang sangat misterius dan penuh dengan keajaiban.
Misteri ruh begitu dalam dan luas. Namun keajaiban-keajaiban yang dimunculkan oleh ruh akan hadir manakala kita bisa menggunakan diri kita sebagaimana mestinya mahluk Alloh. Yang memiliki berbagai tugas di muka bumi ini. Keajaiban-keajaiban yang dimaksud adalah keajaiban yang berkenaan dengan harapan dan keinginan diri kita sebagai manusia, baik atau buruk. yakni sesuatu yang tidak mungkin untuk dibuktikan secara nyata akan mungkin terbukti dan terwujud secara nyata. Dan pastinya itu berkaitan dengan rentang waktu yang memang kita tidak bisa lepas darinya. Entah itu hitungan jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahunan.
Yang ingin saya katakan adalah bahwa lama atau tidak waktu yang kita butuhkan untuk mewujudkan keajaiban yang secara langsung atau tidak disebabkan oleh adanya ruh, menunjukkan bahwa ruh bisa hidup dalam jangka waktu yang lama dalam ukuran kita sebagai manusia. ruh bisa bertahan lama dan mampu menembus ruang dan waktu tertentu. ruh bisa diciptakan oleh Alloh dan tidak bisa dihancurkan oleh manusia. melainkan kita sebagai manusia, memiliki jasad yang nyata yang melibatkan seluruh kemampuan inderawi kita untuk merasakannya dan sangat tidak berkaitan dengan ruh yang sifatnya gaib. Ketika jasad kita tidak berfungsi, maka ruh akan selalu berfungsi sampai kapanpun.
Bisa saja mata tak mampu melihat, tapi ada sesuatu di dalam diri kita yang mampu melihat meskipun tidak kasat mata. Atau mungkin telinga kita tak berfungsi, tapi ada bagian dalam diri kita yang mampu untuk mencermati segala hal yang berada di sekitar kita. Itulah ruh. Ketika manusia mati, ruh akan selalu hidup bahkan menembus alam dengan jarak terjauh sekalipun. Ruh sifatnya permanen dan sulit sekali untuk dihancurkan. Jasad mahluk apapun yang mati, ruhnya bergerak. Ketika ada tumpukan mayat di depan kita, maka ruhnya pun ada di sekitarnya. Atau bahkan berkeliaran entah kemana.
Mengapa ruh permanen? Karena ruh semua mahluk Alloh adalah diciptakan dari sedikit ruhNya. Dan yang paling penting adalah bahwa Alloh sangat permanen dan sangat ruhaniyah. Kesekian kalinya, saya katakan, bahwa hanya Alloh yang dapat menggerakkan bahkan membuat ruh kita mati. kekuasaanNya tiada batasnya terhadap ruh semua mahlukNya.

Menyadari Biologisme Diri Untuk Spiritualitas Tinggi
Dari hanya instink menuju intuisi
Gunakan akal sejenak---kuasai qalbu selamanya---minimal dekatkan ruh dengan Alloh---berfikir dan berperilaku permanen,
Khayalan ideal
impian dan cita-cita---impian dan cita-cita adalah sesuatu yang sangat ideal dalam cara pandang kita. Keduanya bisa dijadikan ciri bahwa manusia sangat berbeda dengan mahluk lain. Dan dengan keduanya, manusia tidaklah hampa. Melainkan di dalam hidupnya memiliki kepastian arah. Meskipun hanya sedikit di antara manusia yang tidak memiliki impian dan cita-cita. Dan ini bisa terlihat dari bagaimana dia menyikapi segala sesuatu di dalam hidupnya yang berwujud perilaku. Sehingga apapun yang dilakukan oleh seseorang sedikitnya pasti mengarah kepada keduanya.
Harapan besar---impian dan cita-cita timbul manakala seseorang merasakan benturan yang disebabkan oleh kejanggalan-kejanggalan dalam hidupnya. Kejanggalan ini muncul dari berbagai kekurangan yang dia miliki. Dan biasanya, tidak terlahir dari bagaimana kelebihan yang dia miliki. Sedangkan kelebihan hanya bisa dijadikan modal untuk mengawali proses menutupi kekurangan tersebut.
Dari segala kekurangan dan kelemahan serta benturan-benturan, manusia yang normal biasanya tumbuh dalam dirinya keinginan untuk merubah hidupnya. Yang diawali dengan cara merubah pola hidupnya. Keinginan tersebut adalah harapan-harapan yang meskipun terkesan kecil namun harapan adalah sesuatu yang besar. Dan harapan bisa jadi sebuah target yang kemungkinannya sangat kecil untuk diraih. Namun manusia yang memiliki harapan, selalu memiliki berbagai celah untuk meraih harapan tersebut. Dan ini otomatis. Karena harapan merupakan salah satu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk tetap menjalani kehidupannya.
menjadi manusia superlatif---Harapan adalah titik awal dari perubahan seseorang dalam hidupnya. Disadari ataupun tidak, harapan juga merupakan tujuan dimana seseorang menjalani kehidupanya dan mendorongnya untuk bergerak mengejar tujuan tersebut yang berbentuk impian dan cita-cita. Bagaimanapun kecilnya kemungkinan untuk mengejarnya, seseorang yang memiliki harapan, sangat bisa mengejar impian dan cita-citanya. Meski keduanya adalah sesuatu yang tidak mungkin sekalipun. Banyak sekali tukang beca yang ingin memiliki perusahaan dan berada dalam zona nyaman. Dan ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.
menyongsong keindahan hidup…bagi banyak orang, impian, cita-cita, dan harapan, adalah satu paket modal untuk meraih kebahagiaan hidup. Namun tidak banyak manusia yang sadar

Comments

Popular posts from this blog

Ruh yang berdakwah