PERSONAFIXASI lukisan DIRI
PERSONAFIXASI lukisan DIRI
Melihat Diri Manusia Dari Dalam
Oleh : Syuhudul Anwar
Pendahuluan
Dalam buku ini,
anda akan dibawa kepada bayangan-bayangan dan khayalan-khayalan tentang diri
anda. Dan alangkah wajar bila, anda menemukan sesuatu yang berbeda di
penjelasan-penjelasannya. Karena sejak dahulu, manusia selalu dirundung
kegelisahan yang disebabkan oleh perbedaan isi otaknya dengan manusia lain. Yang
membuat munculnya berbagai penafsiran yang pula disebabkan oleh perbedaan
pengalaman. Apa yang saya coba tulis dalam buku ini adalah penggalian tentang
berbagai potensi laten di dalam diri setiap manusia yang memiliki kecenderungan
besar untuk muncul atau mungkin untuk tidak tersalurkan.
Perbedaan
penafsiran yang saya ungkapkan bisa jadi menjadi sebuah inspirasi positif untuk
kehidupan anda atau pula bisa menjadi dorongan negative untuk tidak mau membaca
kembali buku ini. Di dalamnya diutarakan mengenai dorongan dari dalam diri dan
dari luar diri manusia. tentunya dengan cara pandang yang mudah-mudahan sesuai
dengan prinsip serta gagasan yang disepakati oleh semua manusia. tiada lain
tujuan dari buku ini hanyalah untuk merangsang para pembaca untuk bisa
mengenali diri sendiri dan mampu mengenali diri orang lain melalui
perenungan-perenungan subjektif.
Ruang lingkup
buku ini seputar pendangan jarak dekat dan jarak jauh yang dilakukan oleh diri
terhadap diri sendiri. Pertama, Diawali dengan pandangan
diri manusia dari jarak jauh atau yang saya lebih suka untuk menyebutnya dengan
memandang diri melalui kaca mata nalar, fikiran, akal, dan lebih khusus lagi,
otak. Dengan penjelasan-penjelasan singkat, berharap pembaca bisa tersadarkan
bahwa dalam diri kita terdapat potensi yang bernama tanah liat dalam bentuk
tubuh jasmani dan begitu konkrit bahkan sangat mudah untuk dimanipulasi serta
dirusak oleh diri sendiri.
Kedua, buku ini akan
menjelaskan tentang status, posisi, dan kondisi manusia yang dipandang dari sudut
nilai-nilai keagamaan islam. apakah itu dari kaca mata nabi maupun dari cara
pandang yang diberikan isyarah melalui penjelasan-penjelasan alquran sebagai
buku besar yang multi tafsir dan mono value yakni risalah islam. sehingga mampu
menyadarkan diri kita sendiri sebagai bagian dari karya maha agung yang
diciptakan oleh Alloh sebagai penghuni utama ala mini dan sebagai wakil alloh
untuk ala mini.
Ketiga, ada sedikit
sentuhan reflektif untuk mengetahui bagaimana kita bisa dengan mudah menyentuh,
mengamati, serta berkenalan dengan diri kita. Yakni sebuah ‘diri’ yang luar
biasa dan maha dahsyat. Yang memiliki segalanya dan sekaligus tidak memiliki
segalanya. Yang penuh dengan kelebihan serta sekaligus sangat banyak kekurangan
dalam dirinya.
Keempat, saya hendak
membawa kita kepada dorongan untuk mau berubah. Entah lambat ataupun cepat.
Karena perubahan dalam diri merupakan hal yang paling mudah sekaligus hal yang
paling sulit. Dan sedikit menyadarkan bahwa perubahan itu hanya bisa dilakukan
dari dalam diri. Meskipun perubahan diri seringkali menjadikan orang lain
bahkan lingkungan sekitar sebagai kambing hitam atas perubahan diri yang tidak
jelas ujungnya. Berharap dengan membaca bagian ini, kita bisa memiliki sedikit
keinginan untuk mau menjalankan dan menikmati proses perubahan diri.
Kelima, buku ini
memiliki tujuan akhir agar kita mau menyadari betapa agungnya Alloh yang telah
menciptakan diri kita dari ruhNya. Yakni ruh dari dzat yang sangat permanen. Sehingga
muncul gambaran positif mengenai diri kita, bahwa ruh yang ada di dalamnya
begitu indah dan mampu membuat segalanya indah, sempurna dan mampu membuat
segalanya sempurna, bahagia dan mampu menyebabkan adanya kebahagiaan lain, dan
lebih penting lagi, sangat permanen bahkan bisa timbulnya ruh-ruh permanen
disebabkan ruh kita.
Semoga
perenungan yang sering kita lakukan setiap detik dan menitnya, bisa menjadikan
kita manusia-manusia yang seutuhnya yang bisa menjaga, mengolah, serta
melestarikan ala mini. Dengan berlandaskan pedoman diri yang bagian paling kuat
hanya ada di dalam diri. Ketika bisa melakukan hal itu, saya berkeyakinan bahwa
siapapun yang mengaktifkan serta menjalankan segala potensi dalam dirinya,
mampu menembus segala batas ruang dan waktu dalam melayani dan memberikan yang
terbaik bagi seluruh umat manusia.
A.
Perspektif
nalar tentang diri
Diri yang
rasional
Setiap mendung pasti akan hujan. Begitu
juga setiap yang hidup di alam ini pasti akan merasakan kematian. Maka manusia
menggunakan segala potensi dalam dirinya untuk menemukan kesadaran penuh atas
hidupnya. Kesadaran yang bersumber kepada akal yang melandasi cara dia
berfikir. Semakin mendalam akar pemikirannya, maka semakin kuat kesadaran yang
dihasilkan oleh akalnya. Ketika manusia bersebrangan dengan apa yang ada dalam
fikirannya, maka akan terjadi ketidak seimbangan dalam hidupnya. Yang
menyebabkan segala ketidakseimbangan jasmani maupun rohani. Menimbulkan
kekecewaan, kekhawatiran, ketidakpuasan, dan segala perasaan lain yang negatif.
Perasaan-perasaan dalam diri manusia seolah tidak bernalar. Tetapi setiap
muncul, ia merupakan hasil dari pergesekan logika dalam benaknya.
Jika logika adalah manifestasi dari
kesadaran, maka logika berperan sebagai alat untuk menciptakan
persepsi-persepsi tentang realitas internal maupun ekternalnya. Ketika logika
seseorang berjalan mulus dalam merespon segala fenomena hidup, maka yang akan
didapatkan adalah kepastian dari langkah yang akan dilakukannya. Sebaliknya,
jika logika tidak mampu merespon, maka ia akan selalu berhadapan dengan
ketidakpastian dalam hidupnya. Logika membuat diri selalu pasti dan mungkin. Apapun
keputusan diri dan langkah sebagai tindak lanjut dari keputusannya itu
menciptakan segala keniscayaan dan kepastian. Dan membuat segala hal yang
dirasakan tidak mungkin menjadi sangat mungkin.
Yang paling berpengaruh terhadap kesadaran
adalah bahasa yang digunakan oleh diri manusia. bahasa sebagai media antara
fikiran-fikiran manusia. menyambungkan dan menjadikan perantara antara berbagai
ide dan gagasan yang ada dalam lingkungan hidup manusia. membentuk image dan
melahirkan berbagai wujud karya yang diciptakan oleh manusia. bahasa sebagai
perwakilan rasionalitas diri. Dengan kata lain, bahasa bisa digunakan sebagai
salah satu media pengukuran apa yang ada di dalam benak seseorang. Seabstrak
apapun diri dalamnya diri manusia, bahasa bisa mengungkapkannya dalam bentuk
kata-kata. Simbolisasi bahasa atas diri menunjukkan adanya sisi luar dari diri
manusia. sehingga bagian tersebut mudah tersentuh bahkan dengan mengkaji bahasa
yang terlontar dari seseorang, melalui bahasanya, dia bisa dirubah
kepribadiannya cepat atau pun lambat.
Dan jika tanpa bahasa, manusia tidak akan
pernah bertemu dengan kebahagiaan dalam dirinya. Manusia bisa diam seribu
bahasa, tetapi cepat atau lambat, ada beberapa hal yang mesti dia ungkapkan
untuk menunjukkan perasaan dan keinginan-keinginannya. Ada sejuta bahkan lebih
kata dalam diri manusia, yang ingin dan memaksa untuk diungkapkan. Bahkan lebih
dari itu, manusia yang kemampuan berbahasa atau koleksi bahasa dalam dirinya
begitu banyak, bisa menjalani kehidupan dengan level yang lebih dari manusia
yang lain. Karena bukti bahwa seseorang memiliki kemampuan nalar tinggi ada
pada lisan yang ia gunakan untuk membahasakan segala inspirasi yang ada di
dalam benaknya. Bukti bahwa dia telah merekam banyak kata yang ia dapatkan dari
hasil komunikasi dan interaksi dengan banyak manusia lain. Sehingga dia mampu
untuk membahasakan dirinya dalam berbagai ‘gaya’ dan membuat dirinya bisa
diterima oleh orang lain.
Kulit,
daging, dan tulang belulang
Manusia adalah mahluk yang sangat biologis. Yakni
mahluk yang tidak bisa dilepaskan dari kesejatiannya yang terikat oleh
prinsip-prinsip alamiyah kauniyyah. Yang di dalamnya terdapat segala hal
material dan memiliki batas-batas inderawi. Dengan kata lain, untuk memahami
diri, tidak memerlukan kajian mendalam dari berbagai perspektif yang rumit.
Melainkan hanya dengan melihat, merasakan, dan menyentuhnya pun, diri manusia
bisa didefinisikan dengan jelas. Seperti alam yang ada di sekitar manusia itu
sendiri, memiliki bentuk yang menunjukkan wujudnya adalah ada dan sangat fisik.
Memudahkan untuk pengukuran dan bahkan mudah untuk dikenali secara pasti. Jika
angin tidak bisa disentuh maka manusia begitu mudah untuk dirasakan. Seperti
halnya mahluk selain manusia yang sifatnya sangat fisik.
(Penginderaan...) ada sebuah kalimat yang
cukup menyinggung bagi anda para pembaca juga saya, bahwa “manusia adalah hewan
yang berbicara/berfikir”. Kita semua adalah hewan tak ada bedanya dengan
piaraan yang ada di sekitar kita bahkan sama halnya dengan nyamuk yang sering
kita tepuk di saat mengganggung tidur kita. Sehingga Alloh begitu menjunjung
tinggi kasih sayang apakah itu kepada sesama manusia atau kepada selain manusia
yang di antaranya adalah hewan, karena mereka sama dengan kita secara jasmani. Manusia
memiliki alat-alat penginderaan begitu juga dengan mereka. Ada mata, telinga,
kaki, tangan, lidah, jantung, dan lain-lain. Hanya saja postur manusia berbeda
meskipun posisi setiap organ tubuh tersebut nyaris sama. Coba anda sesekali
memperhatikan wajah mereka, kaki, tangan, dan semua organ pada tubuh mereka
yang terlihat maupun berada di dalam. Minimal dengan melakukan itu, kita akan
sedikit tersenyum karena fakta ini.
Secara bahasa dalam kalimat tersebut
terjemahannya adalah berbicara tetapi banyak pula yang menterjemahkannya dengan
berfikir. Kalimat ini adalah kalimat yang terkesan picik dan penuh dengan akal
bulus manusia sendiri. Mengapa demikian? Karena jika kita memahami bahasa
selain manusia atau hewan, mereka pun pasti akan membuat pernyataan seperti
ini. Mereka adalah hewan, mereka juga bisa berbicara tentunya dalam bahasa
mereka sendiri. Mereka juga bisa berfikir tentunya dengan gaya berfikir mereka.
Sehingga kalimat ini dijadikan suatu jargon bahwa hanya manusia yang bisa
berfikir disebabkan perbedaan dengan hewan lain yang tidak bisa membuat rumah
dari beton, tidak bisa menyusun gedung bertingkat, tidak bisa merakit mobil
beroda empat, tidak bisa merakit pesawat terbang.
Segala yang bisa kita lihat dan kita dengar
secara fisik, menunjukkan bahwa manusia adalah hewan yang sangat rasional.
Sejak dahulu hingga sekarang, perkembangan kemampuan manusia semakin meningkat
dengan melihat pertumbuhan, pertambahan, dan peningkatan dalam berbagai hal.
Dengan didasarkan pada ukuran panjang, luas, dan standar pengukuran lain yang
sifatnya fisik. Bisa diperhatikan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi bahkan modernisasi teknologi itu sendiri. Istilah modern hanya sebuah
istilah, tetapi manusia menggunakannya karena adanya pembaruan dan perubahan
dalam penampilan dan cara manusia menggunakan sesuatu. Jika ada kemudahan dalam
sesuatu dan semakin lebih mudah lagi, maka itu adalah bukti adanya modernisasi
dalam hidup manusia.
Menjelang akhir dunia nanti, nampaknya akan muncul
fenomena kehidupan yang hanya berlandaskan prinsip kesenangan dan kemalasan
yang luar biasa kronis. Dan akhir dunia akan terjadi ketika kesenangan dan
kemalasan itu sudah mencapai batas paling ujung. Yang akhirnya manusia
kehabisan ide untuk merubah segala hal dalam kenyataan hidupnya yang sarat
dengan proses menjadi sangat instant. Di saat itu, sistem terbesar hingga
terkecil akan dirasakan chaos dan tidak menentu. Dinamikanya tidak terkendali
dan sangat tidak bisa diketahui arahnya. Semoga akhir dunia tidak berakhir
dalam hiruk pikuk manusia yang tidak karuan melainkan dalam kondisi
manusia-manusia yang tenang, damai, dan tugas mengakhiri dunia tanpa
dipaksakan.
Berkenalan
dengan ‘proses’
satu ketika si kancil hendak pergi menuju
hutan dimana banyak rumput di sana untuk dimakan. Stok makanan di tempatnya
saat itu tidak mencukupi untuk beberapa hari ke depan. Sehingga ia memutuskan
untuk berpindah ke hutan sebelahnya. Di perjalanan, dia menemukan sebuah sungai
yang membatasi hutan. Sayangnya, di sungai kecil itu ada beberapa buaya besar
yang sedang berjemur. Yang akhirnya dia pun memaksakan diri untuk melewatinya.
Sepintar-pintarnya seekor kancil, dia melewatinya, namun kakinya sempat
tergigit oleh buaya, sehingga ia terpincang-pincang ketika sampai di hutan
tersebut. Singkat cerita, beberapa minggu kemudian, dia merasakan kondisi yang
sama yang membuatnya memutuskan untuk berpindah tempat ke hutan yang lain. Di
perjalanan, dia menemukan sungai lain yang juga ada buayanya. Akhirnya dia
memutuskan untuk mencari jalan yang lain, yang tidak ada buaya. Dan ia pun
berhasil melewati sungai tersebut tanpa kaki terpincang-pincang.
Sebuah metafora sederhana yang menjelaskan
bahwa hewan selain manusia bisa saja memiliki instink keamanan diri. Apalagi
manusia yang memiliki daya fikir yang kuat dan kemampuan strategis untuk
mencapai sebuah tujuan. Ketika berhadapan dengan suatu tujuan, dia dihadapkan
pula kepada beberapa pilihan jalan. Yang ada dalam benaknya adalah bahwa ketika
dia berhadapan dengan A, maka dia akan menemukan B, dan berakhir dengan tujuan
C. Dan ketika dia berhadapan dengan 1, maka ia akan melewati 2, dan akan
berakhir pada tujuan 3. Sebuah fenomena bahwa manusia adalah mahluk yang
dirinya begitu kental dengan perjalanan hidup penuh dengan fase. Dan fase-fase
tersebut sangat berkaitan satu dengan yang lain. Satu fase tertentu pasti akan
berhadapan searah dengan fase sejenis. Begitu juga dengan fase yang lain.
Pilihan yang diambil oleh diri manusia,
sepicik apapun, meskipun melalui jalan pintas tertentu, seringkali melewati apa
yang disebut dengan proses. Dia memahami apa yang dia lakukan dan dia mengerti
apa yang akan terjadi nanti ketika dia memilih jalan yang mengantarkannya
menuju tujuannya itu. Jika ia ingin menuju sebuah pulau dan ia memilih jalan
melewati lautan, maka ia akan berhadapan dengan gelombang samudera dan
ikan-ikan buas di dalamnya. Begitu juga ketika ia memilih jalan melewati udara,
ia akan berhadapan dengan angin besar, rasa dingin, dan ia akan bertemu dengan
burung-burung di atas sana.
Aku
adalah hasil dari apa yang kulakukan
aku berfikir, maka aku ada. Demikian kata
seorang pemikir ulung yang hasil karya pemikirannya banyak mempengaruhi dunia.
Ketika manusia berada pada kondisi diam dan fikirannya bermain dengan segala
fenomena hidup, maka ia benar-benar ada. Tetapi ketika manusia tidak
menggunakan fikirannya, maka ia hanya sesosok mayat yang terlihat hidup. Bagaimanapun
besarnya tubuh, kerasnya hentakan kaki, tingginya suara, yang dimunculkan dari
dalam dirinya.
Kualitas berfikir seseorang adalah bisa
diukur. Dengan membaca perilakunya, dia menunjukkan bagaimana isi dari fikiran
yang ada dalam benaknya. Jika pengukuran adalah panjang, luas, dan segala
satuan ukuran lain, maka manusia pun bisa diukur sedemikian rupa. Sehingga
manusia merupakan mahluk yang memang sangat rasional dan bisa diukur.
Diri sebagai sebuah dimensi tertentu,
merupakan wujud yang tidak lepas dari satuan dan bantuk. Yang menempati ruang
dan memiliki masa. Untuk bisa memasuki sebuah dimensi diri, tidak perlu susah
payah membelah dada seseorang kemudian memeriksa isi tubuhnya. Tetapi bisa
hanya dengan melihat seperti apa hasil dari apa yang dilakukannya. Jika
pekerjaannya tidak sepenuhnya memperlihatkan seperti apa dirinya, maka hasil
kerjanya bisa memperlihatkan seperti apa kualitas dari dalam dirinya.
Perilaku sebagai sebuah hasil dari apa yang
dilakukan oleh seseorang menunjukkan bagaimana isi dari dalam diri seseorang. Ada
banyak bentuk dan sifat dari perilaku. Dan semuanya merupakan gambaran
banyaknya hasil dari apa yang dilakukan diri. Tidak berusaha berbicara tentang
nilai pun, perilaku menunjukan kedalaman dan pergerakan diri seseorang. Wujud
benda atau sebuah karya pun bisa menunjukkan bagaimana hasil pekerjaan
seseorang. Ketika karyanya merupakan benda yang bermanfaat, rapih, dan bertahan
lama, maka dirinya pun seperti itu. Tapi sebaliknya, ketika benda tersebut
tidak memiliki guna tertentu, tidak bagus dilihat, dan hanya dipakai dalam
jangka waktu yang sebentar, maka dirinya pun demikian adanya.
B.
Diri
dalam kajian profetik
Al-quran
membahas tentang diri manusia
Ada sejumlah ayat alquran yang secara
tekstual diterjemahkan dengan ‘diri’ yang diambil dari lafadz ‘nafs’. Adapun
terjemah asal dari lafadz tersebut adalah jiwa. Ini menunjukkan bahwa selain
bahasan tentang manusia dari segi jasmaninya, juga di dalam bahasannya tersebut
disebutkan secara implisit ada sesuatu di balik bagian tubuh manusia, yakni
jiwa. Tetapi secara bahasa, jiwa dalam alquran diterjemahkan dengan diri dalam
bahasa indonesia. Sehingga penafsirannya adalah bahwa alquran lebih memfokuskan
pembahasan tentang diri manusia yang lebih dalam, sebagai sumber adanya diri
secara fisik. Sumber adanya perilaku yang berujung kepada terbentuknya diri
dalam satu identitas tertentu.
Dengan kata lain, alquran lebih
mengedepankan kualitas diri secara menyeluruh untuk dijadikan renungan bagi
manusia demi mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Meskipun
alloh membuat batasan tertentu mengenai pembahasan tentang ruh karena kelemahan
manusia secara akal untuk mencapainya. Tapi
jika manusia bisa merenungi kehidupannya dan lebih melihat ke dalam diri atau
jiwa, dia akan mencapai satu tahapan ketenangan yang luar biasa dahsyatnya bagi
dirinya.
Anatomi diri atau jiwa manusia terbentuk
oleh akal, qalbu, fuad, dan ruh. Ruh sebagai puncak utama dari pergerakan qalbu
dan akal, mengatur dan mengolah jiwa manusia sehingga bagaimanapun pergerakan
yang muncul kepada bagian luar manusia, maka itulah diri manusia. Bagian yang
terlihat dari manusia yakni tubuhnya, bergerak mengikuti segala pergerakan dari
dalam. Tubuh sebagai segi jasmani manusia memiliki keterbatasan untuk bergerak
tetapi darinya bisa terwujud adanya sesuatu yang fisik yang sifatnya membangun
dan merusak. Apakah itu bagi diri manusia itu sendiri maupun bagi luar dirinya.
Untuk mengantisipasi hal itu, alloh membuat batasan-batasan atau garis-garis
yang bertujuan untuk menghalangi pergerakan diri agar tidak dengan bebas
sebebas-bebasnya yang pada akhirnya bisa membuat kehidupan di dunia ini tidak
seindah yang diinginkan oleh jiwa manusia itu sendiri.
Siapapun dan di manapun, manusia manapun,
tujuan akhir dari perjalanan hidupnya yang dijalani sehari-hari adalah untuk
meraih kebahagian dan kemaslahatan diri. Demikian tujuannya, namun ada di
antara mereka yang menjalani proses yang tidak berdasarkan tujuan tersebut.
Sehingga bisa dikatakan disoriented. Tujuannya apa, tetapi proses yang
dilakukannya bertentangan dengan apa yang dia inginkan. Untuk ini, Alloh sangat
mewajibkan semua manusia untuk mengindukkan dirinya kepada setiap detail ayat
alquran. Demi kebahagian manusia itu sendiri. Sehingga alloh mewanti-wanti
kepada manusia bahwa jika terjadi sesuatu proses yang tidak sesuai dengan
tujuan (kebahagiaan dan kemaslahatan tadi), maka akan terjadi satu fenomena
tertentu yang sangat tidak diinginkan (dituju) oleh diri manusia. Alquran
mengistilahkan fenomena tersebut dengan hari kiamat atau sa’ah. Meskipun
manusia tahu bahwa kiamat terjadi pada akhir dunia nanti, namun jika terjadi
sesuatu sebelum hari itu dan kapanpun itu terjadi, tetap saja sangat besar dan
dahsyat bagi diri manusia.
Diri
yang indah dalam muhammad
Alloh sangat merekomendasikan manusia untuk
mengikuti Muhammad Saw sebagai manusia model sejak dunia diciptakan hingga
akhir dunia nanti. Dan Muhammad berperang melawan kafirin pada zamannya dulu,
bukanlah bertujuan untuk mempromosikan diri agar mereka mau mengikuti Muhammad
sebagai sebuah ‘diri’. Melainkan agar
mereka teringatkan bahwa tuhan adalah esa. Rekomendasi Alloh mengenai
ketauladanan Muhammad merupakan terbukti dalam segala ucap dan laku yang
ditunjukkan secara otomatis berasal dari jiwa Muhammad yang memang sangat suci.
Sehingga dikatakan bahwa Muhammad adalah manusia yang berakhlak sangat qurani.
Apa yang diinginkan oleh Alloh ada dalam diri Muhammad Saw.
Dalam alquran terdapat berbagai perintah
dan larangan yang ditujukan kepada manusia. dan ini dilakukan oleh Muhammad
dengan penuh keikhlasan dan ketulusan jiwanya. Dalam dirinya nyaris tidak ada
sedikitpun konflik yang terjadi dan tidak muncul ke luar dirinya sebagai sebuah
sisi kehidupan negatif dari Muhammad. Fakta ini menghapus pembicaraan orang
yang mengatakan ‘no body is perfect’. Ternyata ada juga manusia yang
kesempurnaan dirinya terlihat begitu nyata dalam kehidupan sehari-hari yang
dirasakan oleh semua sanak keluarga, karib kerabat, dan seluruh umma muslim
generasi pertama saat itu.
Kesempurnaannya meliputi segala kebaikan
dan kebaktian diri secara lahir maupun bathin. Ada keseragaman antara hati,
lisan, dengan anggota tubuh yang lainnya. Sehingga muncullah ucapan/perkataan
yang baik, tingkah laku/perbuatan yang baik, dan keputusan/ketetapan yang baik
pula. Yang tidak menguntungkan dirinya sendiri, melainkan memberi kemanfaatan
serta kemaslahatan bagi sesama bahkan semua manusia yang ada pada saat itu.
Tanpa memandang agama, ras, suku, atau segala hal yang selalu memunculkan
perbedaan di antara manusia. sabdanya, “bertakwalah kamu dimana pun berada, dan
ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, maka perbuatan buruk akan
terhapus, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.
Nabi Muhammad pernah mewasiatkan kepada
ummatnya agar menjaga segumpal darah yang ada di dalam tubuh. Yakni sebuah
simbol adanya pusat dari segala bentuk perbuatan manusia yang dikenal dengan
sebutan qalbu atau hati. Jika hatinya rusak, maka seluruh anggota tubuh yang
lain pun akan rusak, begitu pula sebaliknya. Penunjukkan Muhammad oleh jarinya
sendiri kepada dadanya sambil berkata “takwa itu di sini”, bermakna bahwa ada
sesuatu selain segumpal darah yang ada di dalam dada yang merupakan core untuk
membentuk pribadi manusia. jika segumpal darah itu adalah jantung, memang
aliran darah berasal dari sana, lancar atau tidaknya. Tetapi ada yang lebih
dari itu, sebuah bentuk yang tak terlihat yang selalu bergulir dan bergerak tak
beraturan. Tempat bathiniyah yang selalu menyelimuti bagaimana cara manusia
berfikir yang berujung kepada perubahan tindakan. dan perlu penjagaan ketat
(takwa) terhadap gerakannya agar tidak bermanifestasi kepada jasmani dalam
kondisi yang negatif. Takwa sebagai
istilah untuk terjaganya diri dari perbuatan yang tidak diharapkan bahkan
sangat dibenci oleh Alloh, merupakan satu indikator bagi Muhammad untuk
pembuktian dari dirinya sebagai manusia yang memiliki kesempurnaan secara lahir
maupun bathin yang berlandaskan ilahiyah.
Alam
kauniyah dan alam ilahiyyah
Alloh menciptakan manusia dalam dua
dimensi. Dimensi spiritual dan dimensi fisik. Kedua dimensi ini, manusia
menguasainya secara personal. Artinya, manusia mampu menyelami dan menyentuhnya
dengan sendirinya. Menunjukkan manusia pun memiliki potensi jasmani dan ruhani.
Disadari ataupun tidak, manusia seringkali bersinggungan dengan dunia
spiritual. Apalagi dengan dunia yang sifatnya kasat mata atau jasmani. Meski
terdengar tidak wajar, namun kemampuan manusia menyelami dunia spiritual,
siapapun itu, dengan kemampuan khusus ataupun tidak, manusia berhubungan
langsung dengan dunia spiritual. Di saat manusia tidur, di saat manusia
memejamkan mata dalam keadaan terjaga, di saat manusia menunjukkan emosi yang
meluap-luap, dan di saat kondisi-kondisi lainnya yang bisa kita rasakan sendiri
dimana bagian dari tubuh jasmani kita tidak kita rasakan secara sadar.
Bagian dari dimensi jasmani seringkali
disadari oleh siapapun sebagai dominasi dari dirinya sendiri. Sangat jarang
manusia yang tidak merasakan hal ini. Ketika dia melihat, maka dia melihatnya
secara jasad, menyentuh, dan sebagainya. Rasa sakit, perih, pada kulit dan
tubuh bagian dalam yang lainnya, menunjukkan bahwa manusia memiliki dominasi
diri atas dunia jasmani ini. Organ tubuh beserta segala yang ada di luarnya,
meliputi organ tubuh lainnya, hingga benda-benda hidup dan mati yang ada di
luarnya, membuat manusia tersadarkan bahwa dirinya adalah mahluk yang sangat
jasadi atau terlihat yang memiliki bahan-bahan material. Inilah kedahsyatan
penciptaan Alloh terhadap potensi manusia di banding dengan mahluk lainnya.
alam dalam diri manusia---kedua dunia di
atas adalah bagian dari kehidupan manusia. Namun, jika manusia menyengajakan
diri untuk berkunjung ke dunia spiritual dari dirinya, maka ia akan menemukan
mahluk-mahluk lain selain dirinya yang begitu banyak dengan dimensi dunianya
yang juga begitu luas. Alam dalam diri manusia yang terdapat pada dimensi
spiritual tersebut melebihi kapasitas dunia jasmani yang kita sering singgahi
ini. Bahkan segala yang ada di dunia jasmani, apapun itu, bisa memasukinya
tanpa batas dan mungkin saja luasnya melebihi luas alam jagat raya yang
diperkirakan oleh para ilmuwan berisi milyaran bintang ini. Itulah diri
manusia, begitu luas dan tak terbatas. Yang berisi alam material yang sifatnya
nonfisik.
Alam yang nonfisik dalam diri manusia, ada
bagian luarnya, dan ada pun bagian dalam, bahkan bagian terdalamnya. Bagian
luarnya terkadang kita sadari, bagian dalamnya hanya bisa dikunjungi dan disinggahi
oleh mereka yang mampu dan bergelut dengan hal-hal yang sifatnya spiritual.
Sehingga mereka sengaja memanggil bahkan dibantu oleh mahluk-mahluk yang
spiritual. Dan bagian yang terdalam dari alam spiritual ini hanya dimiliki oleh
mereka yang berlatih untuk mengolah serta merasakan adanya rasa dalam diri. Dan
lebih dari itu, ketika mereka mampu mengolah rasa diri yang pada akhirnya
mereka memiliki otoritas atas kontrol diri, mereka bisa menembus ruang-ruang
spiritual yang tidak dengan sengaja mereka lakukan atas hal itu. Tapi dengan
sendirinya kemampuan itu seolah telah dia dapatkan dengan prasyarat tertentu. melainkan
mereka dapatkan dengan sendirinya.
ruh manusia dan sifat-sifat alloh...manusia
sebagai bagian dari alam spiritual, dikenal dengan dirinya sebagai ruh. Tidak
banyak penjelasan tentang ruh, karena memang ini adalah misteri yang sangat
berkepanjangan dan mungkin saja tidak akan pernah terpecahkan oleh akal manusia
yang sangat tidak terbatas keterbatasannya ini. Tetapi ada beberapa yang
menemukan bahwa ruh adalah sesuatu esensi utama dari diri manusia. sebuah
esensi pokok yang membuat adanya pergerakan diri. Yang menyebabkan adanya
kehidupan. Dan melahirkan hubungan-hubungan antara satu jasad dengan jasad
lainnya, antara satu benda dengan lainnya, antara satu dunia dengan lainnya.
Ruh manusia sifatnya dinamis, agressif dan
atraktif. Sehingga muncul kepada bagian-bagian diri sebagai mahluk yang hidup
dan mampu menggerakkan mahluk lainnya. Hidupnya ruh manusia sangat bergantung
kepada pergerakkan ruh lainnya. Dan menyebabkan adanya pergerakan yang bisa
diperkirakan dan tidak bisa diramalkan. Sesaat manusia menunjukkan bahwa
dirinya adalah A. Tapi di saat lain, dia bisa berubah menjadi B, C, atau bahkan
menjadi Z. Satu saat manusia berwarna putih, di saat lain, cepat ataupun
lambat, dia akan berubah menjadi hitam, kuning, merah, hijau, biru, dan
lain-lain. Ini hanya perumpamaan, dan dalam wujud aslinya, manusia satu saat
baik, di saat lain bisa tidak baik juga bisa membuat manusia lain baik.
Demikian halnya dengan sifat atau karakter manusia lainnya.
Alloh meniupkan ruhNya ke dalam setiap
jasad manusia. yang menyebabkan manusia mampu hidup. ruhNya yang luar biasa
telah menjadikan manusia mampu untuk menjadi sosok yang luar biasa baiknya. Sangat
wajar jika manusia mampu mengejar segala ketertinggalan dari manusia lainnya,
dan wajar pula jika manusia mampu menguasai alam ini. Meski demikian, Alloh
menciptakan manusia dalam keadaan sangat tidak terbatas keterbatasannya. Dan
tidak bisa melebihi kualitas serta kapasitas ruhNya. Manusia hanya diberi
setitik saja dari ruhNya dan diwarisi sedikit saja karakter dari ruhNya.
Sifat-sifat Alloh ada yang wajib diketahui
dan semuanya melebihi kapasitas manusia. namun sifat-sifatNya itu pun ada dalam
ruh manusia. manusia bisa baik, bisa menjadi seorang penyayang, pemelihara, dan
sifat-sifat lain yang bisa ada pada diri manusia. meskipun sebagian sifatNya
tidak bisa sepenuhnya ada dalam diri manusia karena keterbatasannya. Artinya,
ada hubungan antara ruhNya dengan ruh manusia. dan ada kewenangan manusia atas
dirinya untuk bisa menyamai Alloh pada sifat-sifatNya dengan kuantitas dan
kualitas yang jauh lebih lebih kurang dan bahkan sangat kurang di banding
denganNya. Sebagaimana di atas disinggung, bahwa manusia hanya memiliki setitik
dari karakter ruhNya. Walloh a’lam.
Menjauhi
diri pembangkang
Manusia sebagai
mahluk yang mampu menilai berdasarkan akal fikirannya memiliki kaitan erat dengan
baik dan buruk, indah dan jelek, dan segala bentuk penilaian lain. Karena
potensi dalam dirinya itu meskipun tidak berdasarkan nilai tetapi pada saat
berhubungan dengan dunia di luar dirinya, maka nilai menjadi sesuatu yang
membatasi pergerakan dirinya. Sehingga muncullah istilah ‘tidak boleh’,
‘dilarang’. ‘diharamkan’, dan segala batas lain. Semua ini member perlakuan
kepada manusia sebagai mahluk mulai sekaligus mahluk yang terbatas. Namun
disadari atau tidak, keterbatasan yang diberikan secara tidak langsung oleh
dirinya, memiliki tujuan demi kehidupan yang layak dan bernilai positif untuk
dirinya, maupun untuk luar dirinya. Demikianlah kenyataan yang harus dihadapi
oleh manusia pada umumnya.
Secara khusus, nilai yang ada yang secara umum tertulis ataupun
tidak, bisa memberikan kemaslahatan. Terlebih lagi nilai yang diatur oleh
alquran dan yang ditunjukkan oleh Rosul sebagai manusia model yang selalu
menjunjung tinggi nilai-nilai positif. Dalam alquran maupun sunnah, segala
nilai positif bisa ditemukan. Ketika berhadapan dengan larangan untuk memakan
daging satu hewan tertentu misalnya, itu memiliki tujuan tertentu yang manusia
pun belum tentu mengetahui apa yang sebenarnya di balik pelarangan itu. Dan
untuk mengetahuinya pun harus melewati fase kajian yang mendalam dan
membutuhkan waktu yang sangat lama. Belum lagi dengan pelarangan-pelarangan
lainnya yang secara tertulis dalam alquran maupun terucapkan oleh rosul dalam
sunnahnya.
Alloh tidak memberikan sesuatu yang nilainya buruk kepada
mahluknya. Begitu pula rosul tidak memperlihatkan contoh yang jelek kepada
manusia. Jika manusia hanya bisa meneropong sesuatu dengan pandangan yang
meskipun jauh tetapi sangat pendek, maka alloh yang maha kuasa dan tahu
segalanya atas apa yang akan terjadi ketika manusia melakukan atau tidak
melakukan apa yang diperintahkan olehNya. Kebaikan atau keburukan setelah
melakukan sesuatu itu tidak relative. Melainkan ketika kita melakukan kebaikan
atau keburukan itu sangat pasti. Ketika melakukan sesuatu yang orientasinya
atau nilainya baik, maka kebaikan pun akan diterima setelahnya. Begitu juga
sebaliknya. Maka, jangan pernah mengukur atau memikirkan perbuatan kita,
apalagi jika perbuatan kita itu adalah baik dan maslahat. Lakukan saja dan
lakukan secara maksimal dan sepenuh hati.
Pembatasan diri yang dilakukan oleh Alloh dan dicontohkan oleh
Rosul merupakan wujud kepedulianNya kepada manusia. Seharusnya meskipun manusia
memiliki segala kecenderungan dalam dirinya, namun manusia harus bisa
mengarahkan diri kepada hal-hal yang positif apakah itu yang abstrak maupun
yang kongkrit. Apakah itu sedari awal yang dalam bentuk niat atau keinginan
maupun dalam wujud perilaku yang terlihat dari tubuh.
Apa yang dibatasi oleh Alloh selain bentuk kepedulianNya, juga
merupakan hakikat kemanusiaan yang sesungguhnya. Artinya, apapun yang ada dalam
alquran dalam bentuk larangan maupun perintah, juga apapun yang dicontohkan
oleh Rosul, itu tidak bertentangan dengan esensi manusia sebagai mahluk yang
memiliki kecenderungan utama untuk menjunjung tinggi kebaikan dan segala hal
yang positif. Menjunjung tinggi yang diwujudkan dalam melakukan segala
perbuatan baik dan menjauhi segala hal yang buruk. Menciptakan karya-karya yang
indah dan menghindari diri dari terciptanya karya-karya yang tidak maksimal
atau jelek. Dengan kata lain, Alloh menjunjung tinggi kemuliaan diri manusia
itu sendiri.
Oleh karena itu, berbahagialah mereka yang mampu menahan dirinya
dari melakukan perlawanan terhadap dirinya sendiri. Siapapun yang membangkang
segala titah Alloh, maka dia melawan jati dirinya sendiri. siapapun yang
melawan jati dirinya sendiri, maka dia akan kehilangan kesadaran akan dirinya.
Dan siapapun yang tidak memiliki kesadaran diri, maka dia akan merasakan
ketidak menentuan dalam hidupnya. Karena dia akan selalu menjalani kehidupan
dalam ‘ngabatin’ atau konflik di kedalaman dirinya. Ketika konflik terjadi,
maka ada bagian dari dirinya yang terluka. Semakin besar konfliknya maka
semakin parah lukanya. Berharap manusia mampu memanfaatkan alquran dan hadis
sebagai jalan untuk menemukan diri dan mampu menjalani kehidupan dalam
kemaslahatan dan kebaikan hingga nanti mencapai batas keabadian kelak.
C.
Mengenal
diri
Sadar
diri dan tahu diri
sadar
menurut perkiraan saya, adalah bahasa serapan dari bahasa arab shodaro
yang bermakna kembali atau shodrun bermakna dada atau tempat kembalinya
sesuatu. Sadar diri artinya lebih kepada meraba, merasa, dan mengembalikan
segala sesuatu kepada bagaimana tubuh merespon akan segala fenomena, kondisi,
dan situasi di luar diri. Respon yang baik menunjukkan kesadaran diri tinggi
dan sebaliknya jika merespon dengan yang buruk maka kesadaran dirinya rendah.
Ketika terjadi suatu fenomena atau peristiwa kemudian diri menganggap bahwa
apapun yang terjadi adalah berasal dari kondisi serta situasi diri, maka
kesadaran dirinya baik. Begitu juga sebaliknya.
Di
saat ada antrian di bank, seseorang yang sadar akan dirinya akan mengikuti
antrian dan tidak menyerobot ke depan. Dia akan berada di ujung belakang karena
dia merasa dan meraba diri bahwa dirinya terlambat dan harus menerima kondisi
serta situasi yang secara aktual dia terima yakni harus berada di antrian
paling belakang. Begitu juga pada saat seorang pimpinan perusahaan merasakan
ada yang kurang dalam kinerja perusahaannya, dia tidak akan langsung saja
memarahi dan menyudutkan kesalahan kepada timnya. Melainkan dia akan meraba dan
merasakan apakah ada kejanggalan di dalam dirinya yang menyebabkan kinerja
dalam perusahaannya menurun. Baru setelah dia menjelajahi segala dimensi dalam
dirinya, dan menimpakan respon apapun yang akan ia berikan kepada timnya
terhadap dirinya sendiri, maka dia akan memberikan perlakuan kepada timnya
seperti kepada dirinya sendiri.
Banyak
pakar psikologi yang menyandarkan kesadaran diri lebih kepada mawas diri. Yakni
meraba dan merasakan ada tidaknya pergerakan dalam diri sebagai respon atas apa
yang terjadi. Lebih spesifik, mereka memfokuskan kesadaran diri kepada emosi.
Karena emosi adalah hal penting dalam diri yang mengatur segala perilaku
manusia. baik dan buruknya suatu tindakan adalah berawal dari emosi. Positif
maupun negatifnya perilaku adalah disebabkan oleh kondisi emosi dalam diri.
Sehingga seseorang yang baik kesadaran dirinya, dia akan pandai-pandai mengatur
emosinya. Makanya kesadaran diri lebih cenderung kepada bagaimana cara
seseorang melakukan kontrol emosi diri.
ketika
seseorang pandai mengontrol emosi diri, maka dia mengetahui batas-batas emosi.
Dia tahu bagaimana dirinya bisa bahagia. Dia selalu teringatkan peristiwa apa
saja yang bisa membuatnya marah atau jengkel. Dia akan memilah dan memilih mana
saja fenomena yang bisa menyebabkan ketenangan dalam dirinya. Sebaliknya,
seseorang yang tidak pandai mengontrol dirinya, wawasan tentang batas-batas
emosinya tidak dia kuasai. Sehingga dia tidak mampu memilah dan memilih kapan
saatnya untuk bahagia, kapan waktunya untuk merespon dengan kemarahan, sehingga
dia sulit sekali untuk menemukan celah dalam diri ketika terjadi apapun, untuk
merasakan ketengan dan ketentraman diri.
Berbeda
dengan tahu diri. Pengetahuan diri lebih luas dari kesadaran diri. Pengetahuan
diri lebih kepada wawasan tentang segala hal yang berkaitan dengan diri. Apakah
itu yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Apakah itu yang sifatnya ruhani
maupun jasmani. Pengetahuan diri meliputi wawasan tentang dirinya yang sangat
komprehensif. Selain dari wawasan tentang emosi diri, ‘tahu diri’ terdiri dari
tahu siapa namanya, apa saja kemampuannya, alamat, dia keluarganya siapa saja,
siapa nama isteri, siapa tetangganya, siapa saja temannya, dan segala hal yang
berkaitan yang ada dalam internal diri maupun eksternal dirinya.
Karena
manusia adalah mahluk yang multi potensi, maka dia memiliki segala hal dalam
dirinya. Ketika dia tahu segala potensi dalam dirinya, maka dia akan memiliki
segalanya yang bisa diraih oleh dirinya. Penting di sini pengetahuan dan
wawasan tentang kemampuan diri. Yang meliputi inderawi yang telah aktif.
Terdapat jutaan potensi dalam diri yang bisa diraih melalui mata, telinga,
tangan, kaki, dan piranti inderawi lainnya. Kuasailah semuanya, maka kondisi
lingkungan seperti apapun pasti bisa dilalui dan dijalani. Ketahuilah sedikit
dari keberfungsian inderawi untuk menguasai keseluruhannya. Menguasai
keseluruhannya berarti mampu mengerti dan memahami bagaimana pergerakan diri.
Pemahaman
diri adalah penting. Faham bagian kecil saja, bisa berimbas kepada perubahan
penting diri. Apalagi jika pemahamannya meliputi keseluruhan diri dari segala
seginya, akan mencapai satu fase kesejatian diri. Tidak perlu merubah postur
tubuh, atau mengganti posisi organ tubuh, atau menggantinya dengan organ tubuh
manusia lain. Cukup hanya dengan memahami diri, maka akan mampu memperlakukan
diri sebagaimana adanya dan memberikan perubahan kepada fenomena kehidupan.
Seorang manusia yang faham akan dirinya adalah mereka yang mampu menjadikan
dunia di tangannya. Sedangkan mereka yang tidak faham akan dirinya, akan
dikelabui oleh kehidupan dunia yang seolah seperti sandiwara ini.
Kesadaran
diri, pengetahuan diri, dan berakhir pada pemahaman diri, akan melahirkan
kontrol diri dan mengarahkan diri kemana pun yang kita mau. Seperti apapun
target kehidupan kita, ketika ketiga hal ini diterapkan kepada diri, maka
ketercapaian menuju target itu akan akurat dan lebih dari itu menjadi lebih
maksimal. Kontrol diri identik dengan pensejatian diri dan kemampuan diri untuk
menggerakkan segala hal di luarnya. bukan berarti kekuasaan manusia sangat
tidak terbatas, melainkan manusia mampu berdiri tegak dan tidak akan pernah
roboh.
Persfektif
dan Referrensi
untuk sementara ini, manusia masih
menempati posisi tertinggi sebagai mahluk yang paling cerdas yang disimbolkan
dengan akalnya yang sangat berharga. Namun kecerdasannya itu tidaklah berfungsi
sedikitpun tanpa adanya bantuan dari orang lain. Dalam hal ini memang manusia
terbukti sebagai mahluk yang sangat membutuhkan bantuan manusia lain bahkan
mahluk lain. Bukan berarti kecerdasannya itu semu, namun kecerdasarnnya itu
bisa aktif manakala dia menerima adanya stimuli dari mahluk lainnya. Rangsang
yang diterima bisa dalam bentuk gerak laku mahluk lain, atau dalam bentuk
suara. Rangsang ini kita sebut dengan informasi. Jadi, manusia tidak akan bisa
hidup tanpa informasi yang sangat mendukung terhadap kecerdasan dalam dirinya.
Informasi yang diterima oleh manusia ada
yang sifatnya internal maupun eksternal. Yang internal, berupa sistem kerja
internal diri yang digerakkan oleh otaknya. Yang terdiri dari
informasi-informasi tentang diri dan diolah sedemikian rupa sehingga dalam diri
manusia dirasakan hidup dan menyebabkan manusia bisa bergerak memberikan
rangsang kepada manusia atau mahluk lain. Informasi internal ini muncul hanya
pada saat kita merasakan beberapa kebutuhan yang sangat mendasar. Yang berhubungan
dengan kebutuhan mendasar, yang jika tidak dipenuhi, manusia tidak akan hidup
atau merasa tidak hidup. Misalnya, pada saat kita merasakan lapar dan haus.
Juga pada saat kita merasakan kesepian. Kondisi ini bisa disebut dengan
realitas internal. Bisa juga disebut dengan rangsang internal.
Kedahsyatan penciptaan alloh adalah bahwa ini
otomatis menyebabkan kebutuhan adanya informasi kedua yakni informasi
eksternal. Yang banyak orang menyebutnya dengan realitas eksternal. Yakni
informasi-informasi verbal dan nonverbal yang muncul dari luar diri (diri di
sini kita istilahkan dengan tubuh dan segala hal yang sifatnya spiritual atau
immateri di dalamnya). Sebagaimana dikatakan di atas, bahwa informasi ini bisa
dalam berbagai bentuk yang menstimuli adanya respon dari dalam diri manusia. Jika
informasi internal tidak memerlukan lima inderawi, maka Informasi ini hanya
diterima melalui celah pintu kelima indera kita. Informasi masuk melalui mata,
telinga, atau bahkan kulit, hidung, dan lidah.
Informasi-informasi yang tidak melalui alat
indera serentak menyebabkan adanya respon gerak diri yang didasarkan atas
perspektif mengenai diri. Begitu juga dengan informasi yang melalui alat
indera, melahirkan perpektif-perspektif mengenai diri yang pada awalnya hanya
berbentuk perpektif mengenai realitas-realitas maupun fenomena di luar diri. Tetapi
lambat laun merespon terhadap cara diri memberikan respon balik. Dan secara
langsung maupun tidak menciptakan perpektif-perspektif mengenai diri yang
dibentuk menjadi konsepsi sebelum akhirnya membentuk seperti apa kepribadian
yang disesuaikan dengan perspektif tadi.
Di sini pentingnya bagaimana cara kita
mengolah informasi yang diterima dan bagaimana cara kita membentuknya menjadi
konsep mengenai diri sendiri. perlu kiranya cara kerja diri secara selektif
memilih informasi mana yang menjadi perspektif seperti apa, supaya konsep diri
pun terbentuk dalam kesan yang positif. Terima saja apapun informasinya,
kemudian buatlah kategori-kategori perpektif tadi lalu rangkai dan susunlah
yang sifatnya positif supaya tercipta diri yang terkonsep secara positif pula .
bukan berarti yang negative dihilangkan. Tetapi dijadikan pembanding supaya
konsep diri kita sangat maksimal dan sempurna, tentunya berdasarkan
perspektif-perspektif tadi.
Penjelasan ini mengemukakan bagaimana
realitas eksternal mampu merubah diri dan mengarahkan diri. Kemampuan mata
untuk melihat orang lain, atau telinga untuk mendengar bagaimana orang lain
berpersepsi tentang diri kita, dan juga indera lainnya, besar pengaruhnya
terhadap bagaimana diri bisa menjadi sosok apapun. Kecenderungan ini merupakan
keterkaitan kita dengan di luar diri kita. Atau dengan istilah yang lebih
ekstrim, kita tergantung dengan di luar diri kita. Kita cenderung merujuk dan
mereferensikan dunia luar kita terhadap bagaimana kita membuat gambaran diri
kita. Misalnya ketika melihat gambar kita pada cermin, ini pun berpengaruh
juga. Apalagi ketika menerima informasi tentang gambaran diri dari orang lain. Maka dengan mudahnya jika ditanya
tentang diri, jawabannya adalah rujukan-rujukan tadi.
Informasi eksternal begitu kental dengan
kecerdasan, karena kecerdasan seseorang hanya bisa diukur manakala terbukti
dalam satuan yang bisa diukur oleh manusia lainnya. Informasi eksternal pun sarat
dengan kepribadian diri. Maka kemampuan kita mengolah informasi harus dilakukan
secermat mungkin karena kedua hal ini adalah efek dari kemunculannya dalam otak
kita. Kecerdasan dan kepribadian kita dibentuk dengan sendirinya dan dominan
berasal dari luar diri. Pintar-pintarlah membuat konsep tentang diri dan
manfaatkanlah segala yang ada di dalam dan luar diri untuk menciptakan diri
ideal yang mampu menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa secara jasmani maupun
ruhani.
Jika kita bisa menyusun dan
mengonsep diri secara baik, maka kepribadian kita akan menjadi sangat normal.
Kepribadian normal adalah kepribadian yang bisa diukur sesuai dengan ukuran
pencapaian yang diharapkan oleh diri sendiri maupun mahluk lain. Kesesuaiannya ini
termanifestasi dalam segala gerak tingkah laku yang seimbang dan harmoni,
selalu terarah kepada nilai-nilai yang positif, dan berlandaskan orisinalitas
nurani kita. Meskipun sangat jarang yang bisa seperti ini, namun pembentukan
kepribadian ini sangatlah mungkin. Karena apapun yang diinginkan oleh mahluk
lain adalah keinginan kita sendiri. Masalah adanya konflik yang menyebabkan
psikopat yang berujung ketidak selarasan perilaku, itu disebabkan oleh ketidak
tepatan waktu antara keinginan yang ingin kita raih dengan harapan yang hendak
diraih oleh mahluk lainnya.
Saya,
Aku, dan Diri Ideal
diri terbatas----seseorang dibatasi oleh
dirinya sendiri. Keterbatasan di sini maksudnya adalah berkaitan dengan
kemampuannya. Dan ketika bicara tentang kemampuan, maka tidak jauh dari potensi
yang dimilikinya yang ada dalam dirinya sendiri. Kemampuan potensial fisik dan
nonfisik. Dalam hal material maupun immaterial. Atau dalam hal karya nyata
maupun hanya sebuah gagasan belaka. Sebuah keterbatasan yang sedikit banyaknya
dirasakan oleh dirinya sendiri. Dan tidak diketahui oleh orang lain. Dan
merupakan kemampuan yang sangat dapat diukur sedemikian rupa. Karena tidak ada
kemampuan manusia yang tidak dapat diukur. Dan karena hanyalah kemampuan Alloh
yang tidak bisa diukur.
Kemampuan itu meliputi kemampuan organ
fisikal seperti mata, telinga, kaki, tangan, mulut, dan lain-lain. mata hanya
bisa melihat sejauh mata memandang. Artinya hanya sejauh beberapa kilometer
untuk ukuran normal. Apalagi mereka yang matanya sudah tidak normal, hanya bisa
menggunakannya dalam jarak dekat. Begitu juga dengan telinga, tidak bisa
mendengar suara semut. Kaki hanya akan mampu digunakan untuk berjalan beberapa
ratus meter. Keterbatasan fisik ini sangat terlihat jelas, manakala seseorang
memerlukan jeda waktu dalam penggunaannya. Atau yang sering kita istilahkan
dengan istirahat sejenak. Begitu juga dengan organ tubuh yang lainnya yang
sifatnya fisikal.
Kemampuan non fisik hanya ada dalam ruang
gagasan. Satu-satunya organ non fisik manusia adalah hati. Dengan hati,
seseorang bisa berfikir , mengingat, merasakan, dan menemukan gagasan-gagasan. Keterbatasan
kerja hati lebih sering hanya berputar-putar dalam hal yang rasional dan logis.
Selebihnya, hati jarang sekali memikirkannya. Merasakan sesuatu dalam diri pun,
itu pasti berkenaan dengan sesuatu yang nyata dan bisa diukur. Begitu pula
dengan bagaimana dia menemukan gagasan, sangat berkaitan erat dengan rangsang
dari luar dirinya yang sifatnya nyata. Merasa tidak percaya diri misalnya
disebabkan dirinya berfikir bahwa dirinya tidak bisa meraih apa yang ia
inginkan. Atau dikarenakan memiliki ingatan tentang sesuatu yang pernah
menciptakan konflik dalam dirinya.
Selain itu, keterbatasan fisik dan non
fisik tersebut jika menyatu, membuat adanya keterbatasan lain. Ketika seseorang
tidak memiliki pengetahuan tentang menyetir, maka otomatis, tangan, kaki, mata,
dan semua anggota tubuh lain pun demikian. Dan tidak bisa memikirkan bagaimana
cara membuat mobil. Ketika seseorang memiliki pengetahuan tentang bumbu dapur
dan cara meramu masakan, maka ia akan dengan leluasa menggunakannya melalui
organ fisik untuk membuat suatu masakan tertentu. tapi belum tentu memiliki
kemampuan untuk membuat piring, sendok, dan alat dapur lainnya.
Dalam gambaran diri, yang dominan adalah
sedikit sekali kemampuan dan begitu banyak ketidakmampuan diri. Sebagaimana
disinggung mengenai potensi manusia yang sebenarnya bisa melakukan apa saja,
namun hanya satu dua kemampuan yang menjadi gambaran diri dominan. Sedangkan
kemampuan diri yang lain yang sebenarnya bisa digali lebih kepada kekurangan
dan kelemahan diri. Orang lebih cenderung untuk menyebutkan satu atau dua saja
kemampuan/skill utama yang dimilikinya daripada menyebutkan beberapa hal yang
sedikit saja penguasaannya. kelemahan atau kekurangan itu menyebabkan timbulnya
keputusan untuk lebih fokus kepada apa yang menurutnya mampu untuk dilakukan. Sehingga
banyak orang yang memilih pekerjaan atau profesi dan menemukan jati dirinya berdasarkan
hal ini.
Diri tak terhingga----di balik keterbatasan-keterbatasan
diri itu, ada hasrat untuk meraih keinginan-keinginan ideal dan harapan-harapan
yang sangat tinggi. Inilah yang biasanya orang rasakan manakala imajinasinya
bermain. Idealisme hanya bisa dirasakan dan dibentuk sedemikian rupa dalam
imajinasi. Karena imajinasi berisi sekumpulan potensi diri kita yang tidak
terbatas sedikitpun. Hal apapun bisa dirumuskan, digali, diwujudkan dalam
imajinasi terlebih dahulu. Bahkan hal-hal yang paling sulit sekalipun bisa
dilahirkan dalam imajinasi. Apakah sesuatu yang hanya khayalan bisa tercapai?
Sebenarnya tidak, tetapi ketika khayalan atau imajinasi itu masih dalam sekitar
satuan ukur hitungan manusia, maka pasti bisa diraih dan diwujudkan.
Sebuah imajinasi tinggi menunjukkan bahwa
dalam diri manusia terdapat potensi-potensi yang luar biasa. Bukan berarti manusia
bisa meraih segalanya, tetapi manusia hanya diberi ruang yang sempit dan sangat
terbatas. Ruang sempit yang mengurung diri dan terbatas oleh tubuh yang tidak
bisa bertahan lama. Terkurung dalam bungkus kulit yang sangat mudah untuk lapuk
dan hancur. Manusia boleh berimajinasi untuk memiliki sayap untuk terbang,
tetapi keterbatasannya membuat dia mampu untuk menciptakan sayap yang tidak
menempel langsung dengan tubuhnya. Artinya, imajinasi tinggi seperti apapun
bisa diraih tetapi dalam ukuran dan bentuk lain dari imajinasi itu sendiri.
Maha suci alloh yang menciptakan manusia.
Imajinasi melahirkan harapan dan cita-cita.
Dan ketika mampu untuk meraih satu atau bahkan nol koma satu dari jutaan
harapan, maka seluruh potensi dalam dirinya bisa membentuk dimensi jasmani dan
ruhani mengarah kepada satu bentuk paten dari keadaan diri. Ketika ini terjadi,
maka diri mengalami pengalaman yang di atas rata-rata. Yang mana rata-rata
manusia lebih mudah untuk berubah berdasarkan pergerakkan fikirannya. Pengalaman
ini begitu berharga. Seiring dengan berbagai fase yang telah dilalui oleh
manusia sebelum mencapai pada tahap ini, maka keputusan-keputusan yang diambil
untuk melakukan tindakan apapun seringkali tidak melibatkan fikiran melainkan lebih
kepada aktualisasi diri yang maksimal dan spontanitas tinggi. Jika demikian,
maka pengalaman-pengalaman ini bisa menstabilkan kedirian dan kepribadian.
kepribadian mapan----yakni kepribadian yang
kuat secara lahiriyah dan kuat dalam batiniyah. Kekuatan lahir dan batin dalam
hal ini adalah output dari berbagai fase yang telah dilalui sebelumnya. Lebih
kepada kematangan dan kedewasaan diri. Yang ekstrim adalah bahwa manusia bisa
ditempatkan dimana pun dan pasti mampu untuk menyesuaikan diri dengan waktu dan
tempat seperti apapun. Anggap saja fase-fase tersebut adalah pembelajaran yang
tiada hentinya yang mampu melahirkan kewaspadaan yang terbiasa dan keterarahan
diri kepada kedewasaan yang maksimal.
Bathinnya
besar, maka lahirnya lebih besar
Alam terbatas---mahluk hidup yang alloh
ciptakan begitu banyak. Semua ditempatkan olehNya di tempat-tempat yang sesuai
dengan fitrah bawaannya. Air, udara, tanah, adalah tempat bernaungnya mahluk
hidup. Ikan pasti tinggal di dalam air. Semua burung pun tinggal di udara. Dan
ada pula yang tinggal di tengah-tengah antara air dan udara yakni hewan-hewan
melata yang tidak memiliki sayap dan tidak memiliki sirip seperti kuda juga
manusia. ini adalah gambaran begitu luasnya tempat yang disediakan oleh Alloh
untuk semua mahluk yang diciptakan olehNya.
Sebenarnya luasnya alam jagat raya ini
sangat tidak terbatas karena ketidakmampuan manusia untuk menjangkau setiap
sudut ruang di alam ini. Karenanya, alam ini tidak terbatas sesuai dengan
keterbatasan manusia tersebut. Bukan hanya oleh akal manusia yakni dengan
banyaknya ketidaktahuan tetapi oleh kemampuan fisiknya pun, manusia tidak mampu
menjangkaunya. Manusia lemah, sehingga untuk menjangkau seluruh alam ini
dibutuhkan kemampuan yang sangat superlatif. Keadaan seperti ini menunjukkan
bahwa bagaimanapun manusia adalah mahluk yang terbatas dan hidup di dunia nyata
yang sangat terbatas pula.
Jika kita adalah mahluk yang terbatas dan
hidup di dunia yang sangat terbatas, maka apapun yang kita lakukan, apapun
tujuannya tidak bisa menjangkau berbagai sisi kehidupan. Artinya kita hanya
bisa melakukan apa yang kita mampu saja. Misalnya, memberi hanya alakadarnya
bahkan meskipun ada istilah rakus, ketika kita menerima banyak hal yang kita
butuhkan, kita tidak bisa menerima semuanya. Modal kita terbatas, kemampuan
kita terbatas, dan jangkauan kita pun sangat terbatas. Untuk melakukan satu
kebaikan, tidak usah menghitung banyaknya, melainkan utamakan hal sedikit
darinya. Karena jangankan untuk menjangkau sesuatu yang banyak, terkadang untuk
meliputi sesuatu hal yang sedikit saja kita tidak maksimal.
alam tak terhingga---jarang manusia yang
menyadari bahwa ada alam yang sangat tak terhingga dalam dirinya. Apapun bisa
masuk ke dalamnya. Bagaimanapun ukurannya. Alam ini adalah alam fikiran kita.
Apapun yang kita fikirkan bisa masuk ke dalamnya. Ruang serta dimensinya begitu
luas. Membayangkan bola dunia yang sangat luar biasa besarnya ini pun bisa.
Artinya bola dunia bisa masuk ke dalam fikiran kita. Bahkan setelah kita
melihat sebuah model jagat raya, kita bisa memikirkannya dan masuk ke dalam
imajinasi kita.
Ukuran otak kita hanya setengah dari buah
kelapa. Namun setiap seratnya mampu menerima informasi yang diterjemahkan
menjadi sebuah imajinasi tertentu dan artinya adalah bahwa otak kita mampu
mencakup apapun di dalamnya. Bahkan ada yang lebih dahsyat dari itu, yakni hati
atau kalbu. Hati bisa mencapai sesuatu yang terdalam dari apa yang belum kita
lihat saat ini. Alam ini adalah alam spiritual. Yakni sebuah alam dimana kita
hanya bisa berkomunikasi dengan hal-hal yang sifatnya metafisik. Dan menurut
saya, ini adalah kedahsyatan yang dimiliki oleh manusia dibandingkan dengan
mahluk lainnya.
Di saat kita tertidur pulas, kita bisa
bermimpi bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal ratusan tahun lalu dan
berada di tempat yang kita belum pernah singgahi sebelumnya. Artinya kita bisa
menjangkau jarak dimensi ruang dan waktu yang begitu jauh. Jelas ini
menunjukkan bahwa hati memiliki luas yang tak terhingga di banding dengan
fikiran kita. Fikiran kita hanya bisa memasukkan tempat-tempat yang pernah kita
singgahi dan melakukan apapun yang
pernah kita lewati. Sedangkan hati demikian adanya dengan segala ketidak
terhinggaannya. Maka menguasai fikiran belum tentu menguasai hati. Dan menguasi
hati itu lebih dahsyat dibanding dengan menguasai fikiran kita. Dan menguasai
hati berarti mampu menguasai fikiran kita. Kuasailah hati kita. Dan temukan
bagaimana caranya. Juga temukan siapa orang yang bisa membimbing kita untuk
menguasai hati.
Kemunculan
Konflik diri, ngabatin..
Pada awalnya segala hal itu diperbolehkan
hingga ada keterangan atau larangan untuk menjauhinya. Demikian ada sebuah
pernyataan dari para ahli agama yang memiliki peran dalam menentukan sikap mengenai
hal-hal yang sifatnya keagamaan. Bagaimanapun pernyataan seperti itu berpijak
di atas cara berfikir kita yang pada awalnya tidak terbatas. Apapun yang ada di
dalam fikiran kita tidak ada seorang pun yang boleh melarangnya. Seperti
diungkapkan di atas bahwa fikiran kita begitu luas seluas jagat raya yang kita
diami saat ini. Sehingga kita bebas menelaah dan memikirkan apapun yang
berkaitan dengan kehidupan kita.
Silahkan saja fikirkan hal terkotor
sekalipun. Atau boleh saja kita memikirkan sesuatu yang tabu di hadapan
manusia. demikianlah kebebasan manusia pada dasarnya. Bagaimanapun fikiran kita
bermain, pasti menimbulkan dorongan kepada keinginan-keinginan yang ada
kaitannya dengan urusan hidup kita. Ini merupakan ciri dari adanya berbagai
keinginan yang ada dalam diri kita. Jika kita umpamakan, keinginan-keinginan
itu sebanyak ummat manusia seluruh dunia. Bahkan lebih dari itu, sebanyak
bintang di jagat raya ini bersama debu-debunya yang tida pernah ada seorang pun
mampu untuk menghitung jumlahnya.
Dorongan atau keinginan yang muncul dalam
fikiran kita seringkali mendorong kepada tahap selanjutnya yakni perilaku atau
bagaimana cara kita merespon keinginan kita yang disesuaikan dengan segala hal
yang berada di luar diri kita. Ketika berperilaku, kita terlihat bebas
menggunakan semua organ tubuh yang menempel pada tubuh kita. Menggunakan mata,
telinga, mulut, tangan, kaki, dan organ tubuh lainnya yang sifatnya jasmaniyah
atau dhohir. Mata bebas untuk melihat apapun, telinga bebas untuk mendengar
apapun, mulut bebas untuk mengatakan apapun, begitu juga dengan organ tubuh
lainnya kita diberi kewenangan sendiri untuk menggunakannya.
Semua inderawi yang kita miliki berkaitan
dengan fungsi dalam hal berhubungan dengan diri sendiri maupun dengan orang
lain. Meski sebenarnya semua dibatasi dengan sendirinya oleh bagaimana cara
orang lain memberikan respon terhadap apa yang kita lakukan. Sehingga kita pun
sesungguhnya tidak bisa dengan seenaknya menjalani kehidupan ini. Bisa saja apa
yang kita lakukan itu berbeda dengan apa yang ada dalam fikiran orang lain. Kita
boleh saja korupsi tetapi orang lain lebih setuju jika kita menggunakan
kesempatan untuk korupsi itu dengan hal-hal yang sangat positif dan maslahat
untuk diri dan orang lain.
Sungguh jelas bahwa ini menunjukkan
perbedaan frame antara kita dengan orang lain. Apa yang kita lakukan cenderung
harus sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang lain. Apapun itu tidak
terkecuali. Antara kita dengan orang lain memiliki kelebihan dan kekurangan
yang sama. Antara kita dengan mereka memiliki cara berfikir masing-masing dan
tentunya setiap kita memiliki isi kepala yang berbeda. Misalnya saja alasan
untuk perbedaan itu adalah perbedaan kuantitas maupun kualitas kebutuhan
masing-masing. Kebutuhan itu mendorong untuk berperilaku berbeda antara kita
dengan orang lain.
Wajar saja bila kita merasa tidak enak
manakala orang lain berbuat seenaknya. Sangat lumrah bila kita melihat orang
lain dengan sebelah mata ketika dia memenuhi keinginannya dengan caranya
sendiri tanpa mempedulikan kita atau sesamanya. Cara kita menggunakan mata
mungkin sama tetapi tujuan dari penggunaannya itu pasti berbeda. Cara kita
berjalan pasti sama tetapi tujuan masing-masing yang terdorong oleh keinginannya
pasti berbeda. Perilaku apapun yang diperlihatkan oleh kesamaan fungsi organ
tubuh masing-masing dari kita memiliki sesuatu yang tersembunyi di belakangnya.
Inilah kenyataan hidup yang mesti kita hadapi. Misteri dari perbuatan dan
tindakan kita bisa menimbulkan adanya tabrakan dan konflik antara kita dengan
orang lain bahkan dengan diri kita sendiri.
Terkadang konflik dengan diri bisa jadi
mendorong adanya konflik dengan orang lain. Tetapi juga kebanyakan adanya
tabrakan keinginan antara kita menimbulkan konflik dalam diri dan bisa
menjadikan situasi dalam fikiran bahkan perilaku kita tidak menentu. Ini yang
menyebabkan banyaknya manusia yang tidak bisa memilih mana tujuan hidupnya dan
inilah yang membuat kebanyakan manusia tidak mampu untuk menahan segala tekanan
dalam diri. Maka ketika tekanan dalam diri tidak bisa diantisipasi, yang ada
adalah munculnya permasalahan, entah itu besar maupun kecil.
Masalah apapun yang kita miliki berbeda
dengan orang lain. Menurut kita masalah yang dihadapi adalah besar belum tentu
besar menurut orang lain. Dan juga sebaliknya. Inti dari rentetan kalimat yang
saya ungkapkan ini hanya ingin mengutarakan bahwa perbedaan yang muncul, apapun
itu, bisa menimbulkan permasalahan. Permasalahan bisa jadi besar ketika kita
menganggapnya dan bahkan meresponnya dengan tindakan yang besar. Juga
permasalahan bisa jadi kecil ketika kita meresponnya dengan jiwa yang kecil.
Artinya masalah itu dianggap kecil menurut kapasitas diri kita yang begitu luar
biasa memiliki kedahsyatan ini.
Sering-seringlah berfikir tentang keinginan
orang lain. Sering-seringlah mempertimbangkan apapun yang kita lakukan apakah
sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang lain. Dan lebih penting lagi,
apakah sesuai dengan apa yang ada dalam fikiran orang lain. Hanya mereka yang
mampu memilah dan memilih perilaku dan perbuatan, yang bisa menjalani kehidupan
penuh dengan kebahagiaan.
Lupa
itu perlu
Diri bermasalah---kita seringkali
dihadapkan kepada situasi dan kondisi di mana diri kita tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan oleh lingkungan. Kita juga sangat mungkin untuk berhadapan
dengan bagaimana kebutuhan dan kepentingan kita tabrakan dengan orang lain.
Selain itu, kita seringkali berbeda persepsi dan arah diri dengan tujuan yang
hendak kita capai. Di saat itulah kita akan berhadapan dengan permasalahan
kehidupan yang khas. Yang menantang diri untuk melakukan dua hal, apakah
melanjutkan apa yang kita lakukan atau meninggalkannya. Mendorong kita untuk
berbuat hal-hal yang sebenarnya berada di luar batas kemampuan juga keadaan
yang sesungguhnya diri kita.
Kondisi ini sangat sering bahkan semua
manusia memiliki kecenderungan untuk ini. Meskipun mereka kebanyakan tidak
merasakan adanya keganjilan dalam dirinya. Yang berawal dari segala
keterbatasan diri seperti yang sudah pernah dijelaskan sebelumnya. Diri
terbatas membuat adanya ketidak berhasilan dalam pencapaian harapan-harapan dan
keinginan-keinginan. Sehingga dalam
benak kita, bukan hanya diri yang bermasalah namun banyak sekali apapun yang
berada di luar diri kita seolah ganjil dan tidak normal.
kehidupan bermasalah---permasalahan dalam
diri menyebabkan permasalahan dalam kehidupan seluruhnya. Sehingga sebenarnya
apapun masalahnya adalah akibat dari bagaimana kita menghadapi masalah diri.
Yang berangsur-angsur menjadi permasalahan besar dan merambat kepada beberapa
aspek kehidupan lainnya. Di saat kita tidak bisa bekerja dengan maksimal
dikarenakan kita sakit, maka ini menjadi penyebab dikuranginya insentif pegawai
dari kantor. Kurangnya insentif menyebabkan kurangnya biaya untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Di saat kita tidak berani untuk mengeluarkan pendapat saat
rapat, ini bisa menimbulkan kecemasan yang berlebihan dan kekhawatiran mendalam
kepada orang lain.
ingat, bagus,lupa juga tidak apa---sebenarnya
apapun tergantung kepada bagaimana kita menanggapi dan memberikan respon
kepadanya. Kebanyakan cara kita merespon terhadap sesuatu dibarengi oleh tidak
ingatnya kita kepada kondisi diri.
menunda kesuksesan---
menjadi bijak
Ketidakpastian
dalam ketidaksadaran diri
D.
Transformasi
Diri
Niat
adalah tujuan
Ada satu hal yang menjadi dasar mengapa
manusia begitu berambisi untuk bergerak. Sekecil apapun pergerakan yang
dilakukannya, dia selalu mendasarinya dengan satu tujuan tertentu. Tujuan besar
ataupun kecil. Tujuannya banyak maupun sedikit. Tujuan selalu saja bersandar
kepada diri dan diri berpangku kepada tujuan yang ingin dicapainya. Entah itu
kaitannya dengan rentang waktu panjang ataupun pendek. Dalam arti tujuannya itu
diharapkan pencapaiannya dalam waktu dekat atau dalam waktu yang cukup lama. Tujuan
membawa manusia menuju segala gerak diri yang termanifestasi dalam gerak mata,
telinga, langkah kaki, gerakan tangan, dan seluruh anggota tubuhnya yang kasat
mata maupun yang tidak. Tergerak pula segala hal yang berada di sekitar
dirinya, apakah itu yang kasat mata maupun tidak. Orang yang ada di sekitarnya,
juga semua benda mati terbawa olehnya dalam perjalanan menuju tujuan yang ingin
dicapainya.
Pergerakan diri manusia bersama tujuannya
itu dirangsang oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang selalu terbesit
dalam benaknya. Kebutuhan primer maupun sekunder mendorong manusia untuk
bergerak. Bukan hanya kebutuhan yang kasat mata, tapi kebutuhan yang tanpa
manusia lihat pun pasti menggerakkannya untuk dipenuhi. Manusia yang memiliki
kelemahan dalam penglihatan pun demikian. Bahkan mereka lebih memiliki energi
yang kuat untuk meraih tujuan kebutuhannya. Kebutuhan itu adanya di dalam diri
dan seringkali dirasakan daripada diinginkan. Diinginkan muncul ketika manusia
melihat sesuatu sedangkan dirasakan hadir ketika adanya sesuatu yang janggal
dan kurang dalam diri manusia. yang dirasakan adalah yang paling kuat
dorongannya untuk menggerakan manusia untuk memenuhinya.
Seorang anak kecil apalagi yang sudah
dewasa selalu merasakan adanya sesuatu yang janggal dalam diri sehingga ia memutuskan
untuk menutupi kekurangannya itu dengan kelengkapan diri. Apapun prosesnya,
kelengkapan diri selalu diraih untuk mencapai kematangan diri yang setiap saat
selalu saja bertambah dan berkurang. Seorang anak kecil menangis pada saat ia
lapar. Dan hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya
lapar. Dia menangis pula ketika dirinya merasakan haus akan pelukan seorang
ibu. Dan itu selalu saja berulang setiap saat. Begitu juga dengan manusia
dewasa. Mereka bahkan paling banyak diselimuti oleh segala kekurangan dalam
dirinya. Sehingga menyebabkan dirinya tergerak untuk mencapai diri maksimal.
Dan ini berulang setiap saat karena bisikan-bisikan dalam dirinya untuk
merasakan kekurangan pun selalu berulang, bertambah dan berkurang dalam
benaknya.
Niat....
perubahan
adalah penting
diam---berdiam diri sama halnya dengan
menunjukkan bahwa diri kita ini mati. Tak ubahnya seperti benda mati. Meskipun
kita hidup tetapi kita tidak bergerak sedikitpun. Tak ada bedanya seperti
tumbuhan dan pepohonan yang hanya menerima tiupan angin dan gangguan dari
hewan-hewan liar yang ada di sekitarnya. Masih mendingan satu pohon besar yang
menjadi naungan hewan dan tempat hidup tumbuhan-tumbuhan kecil. Sedangkan kita
manusia yang sebenarnya jauh berbeda dari hewan dan tumbuhan, bisa bergerak
dengan pergerakan yang berbeda dan bermakna, bisa hidup dan bahkan bisa
menghidupkan.
bergerak---
hanya kepedulian ---sedikit kepedulian,menghidupkan
dan melestarikan kehidupan.
kemaslahatan hidup---
berfikir
untuk akhlaq
akhlak adalah perilaku---fikiran dan otak---positif
dan negatif, baik dan buruk---pola fikir modal awal---
sedikit
perubahan, efek bola salju
hanya sedikit perbedaan antara kita dengan
hewan. Jika kita terbuat dari tanah liat yang bisa dibentuk, maka hewan pun
demikian. Jika hewan memiliki instink, maka manusia pun memilikinya bahkan
lebih kuat dorongan instinknya. Jika manusia bisa berbuat kerusakan, maka
kerusakan dan permusuhan adalah karakter dari hewan. Tetapi jika manusia
memiliki kualitas akal dan fikiran, maka hewan tidak memilikinya sedikitpun. Dan
persamaan yang paling pokok adalah manusia mampu untuk berkembang begitu pula
dengan hewan. Hewan dan manusia bisa berkembang jika keduanya memenuhi
kebutuhan makan untuk fisiknya.
Jika kita ingin merubah sesuatu, maka kita
tidak perlu perubahan besar. Tetapi kita memerlukan perubahan kecil saja.
hati
yang berfikir
segalanya dari hati---panca indera dan
hati---bersatunya hati dengan akal---menjadi manusia berbudi luhur
E.
Perubahan
Permanen
Ruh
yang permanen
Rahasia ruh---“katakanlah,
ruh itu urusan Tuhanku”. Tidak ada yang tahu persisnya seperti apa bentuk ruh,
warnanya, rupanya, bahkan baunya. Semua orang di antara kita tidak diberikan
wewenang untuk menguak misteri yang ada di balik ruh. Mengapa demikian? Karena
ruh sifatnya tak terlihat bahkan nyaris tidak terasa sedikitpun. Dan kita tidak
diberikan sedikitpun kemampuan untuk membuka mata untuk melihat seperti apa
ruh. Tidak diberikan kecerdasan apapun untuk memikirkan bagaimana ruh bisa
hidup dan bergerak. Tidak diberikan kekuasaan untuk menyentuh apalagi memegang
kulit luar dari ruh itu.
Jika Alloh yang
Maha Tahu segalanya tentang tuh, maka manusia tidak akan pernah tahu tentangnya
sedikitpun. Manusia hanya bisa menggunakannya meskipun tidak merasakan adanya
ruh di dalam dirinya. Dan hanya Alloh yang bisa melihat, menyentuh,
menggenggam, bahkan menggerakkan dan memutarbalikkan ruh dari satu keadaan
kepada keadaan lain. Tidak ada alasan lain, melainkan ketika manusia memikirkan
satu hal tentang ruh, maka hasilnya adalah semua dan tidak pasti. Hingga pecah
kepala kita memikirkan ruh, hasilnya nisbi. Penafsiran mengenai ruh itu pasti
ada sandaran tertentu. ruh adalah satu hal yang sangat misterius dan penuh
dengan keajaiban.
Misteri ruh begitu
dalam dan luas. Namun keajaiban-keajaiban yang dimunculkan oleh ruh akan hadir
manakala kita bisa menggunakan diri kita sebagaimana mestinya mahluk Alloh.
Yang memiliki berbagai tugas di muka bumi ini. Keajaiban-keajaiban yang
dimaksud adalah keajaiban yang berkenaan dengan harapan dan keinginan diri kita
sebagai manusia, baik atau buruk. yakni sesuatu yang tidak mungkin untuk
dibuktikan secara nyata akan mungkin terbukti dan terwujud secara nyata. Dan
pastinya itu berkaitan dengan rentang waktu yang memang kita tidak bisa lepas
darinya. Entah itu hitungan jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahunan.
Yang ingin saya
katakan adalah bahwa lama atau tidak waktu yang kita butuhkan untuk mewujudkan
keajaiban yang secara langsung atau tidak disebabkan oleh adanya ruh,
menunjukkan bahwa ruh bisa hidup dalam jangka waktu yang lama dalam ukuran kita
sebagai manusia. ruh bisa bertahan lama dan mampu menembus ruang dan waktu
tertentu. ruh bisa diciptakan oleh Alloh dan tidak bisa dihancurkan oleh
manusia. melainkan kita sebagai manusia, memiliki jasad yang nyata yang
melibatkan seluruh kemampuan inderawi kita untuk merasakannya dan sangat tidak
berkaitan dengan ruh yang sifatnya gaib. Ketika jasad kita tidak berfungsi,
maka ruh akan selalu berfungsi sampai kapanpun.
Bisa saja mata tak
mampu melihat, tapi ada sesuatu di dalam diri kita yang mampu melihat meskipun
tidak kasat mata. Atau mungkin telinga kita tak berfungsi, tapi ada bagian
dalam diri kita yang mampu untuk mencermati segala hal yang berada di sekitar
kita. Itulah ruh. Ketika manusia mati, ruh akan selalu hidup bahkan menembus
alam dengan jarak terjauh sekalipun. Ruh sifatnya permanen dan sulit sekali
untuk dihancurkan. Jasad mahluk apapun yang mati, ruhnya bergerak. Ketika ada
tumpukan mayat di depan kita, maka ruhnya pun ada di sekitarnya. Atau bahkan
berkeliaran entah kemana.
Mengapa ruh permanen?
Karena ruh semua mahluk Alloh adalah diciptakan dari sedikit ruhNya. Dan yang
paling penting adalah bahwa Alloh sangat permanen dan sangat ruhaniyah. Kesekian
kalinya, saya katakan, bahwa hanya Alloh yang dapat menggerakkan bahkan membuat
ruh kita mati. kekuasaanNya tiada batasnya terhadap ruh semua mahlukNya.
Menyadari
Biologisme Diri Untuk Spiritualitas Tinggi
Dari
hanya instink menuju intuisi
Gunakan akal
sejenak---kuasai qalbu selamanya---minimal dekatkan ruh dengan Alloh---berfikir
dan berperilaku permanen,
Khayalan
ideal
impian dan
cita-cita---impian dan cita-cita adalah sesuatu yang sangat ideal dalam cara
pandang kita. Keduanya bisa dijadikan ciri bahwa manusia sangat berbeda dengan
mahluk lain. Dan dengan keduanya, manusia tidaklah hampa. Melainkan di dalam
hidupnya memiliki kepastian arah. Meskipun hanya sedikit di antara manusia yang
tidak memiliki impian dan cita-cita. Dan ini bisa terlihat dari bagaimana dia
menyikapi segala sesuatu di dalam hidupnya yang berwujud perilaku. Sehingga apapun
yang dilakukan oleh seseorang sedikitnya pasti mengarah kepada keduanya.
Harapan besar---impian
dan cita-cita timbul manakala seseorang merasakan benturan yang disebabkan oleh
kejanggalan-kejanggalan dalam hidupnya. Kejanggalan ini muncul dari berbagai
kekurangan yang dia miliki. Dan biasanya, tidak terlahir dari bagaimana
kelebihan yang dia miliki. Sedangkan kelebihan hanya bisa dijadikan modal untuk
mengawali proses menutupi kekurangan tersebut.
Dari segala
kekurangan dan kelemahan serta benturan-benturan, manusia yang normal biasanya tumbuh
dalam dirinya keinginan untuk merubah hidupnya. Yang diawali dengan cara
merubah pola hidupnya. Keinginan tersebut adalah harapan-harapan yang meskipun
terkesan kecil namun harapan adalah sesuatu yang besar. Dan harapan bisa jadi
sebuah target yang kemungkinannya sangat kecil untuk diraih. Namun manusia yang
memiliki harapan, selalu memiliki berbagai celah untuk meraih harapan tersebut.
Dan ini otomatis. Karena harapan merupakan salah satu dorongan yang ada dalam
diri manusia untuk tetap menjalani kehidupannya.
menjadi manusia
superlatif---Harapan adalah titik awal dari perubahan seseorang dalam hidupnya.
Disadari ataupun tidak, harapan juga merupakan tujuan dimana seseorang
menjalani kehidupanya dan mendorongnya untuk bergerak mengejar tujuan tersebut
yang berbentuk impian dan cita-cita. Bagaimanapun kecilnya kemungkinan untuk
mengejarnya, seseorang yang memiliki harapan, sangat bisa mengejar impian dan
cita-citanya. Meski keduanya adalah sesuatu yang tidak mungkin sekalipun. Banyak
sekali tukang beca yang ingin memiliki perusahaan dan berada dalam zona nyaman.
Dan ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.
menyongsong
keindahan hidup…bagi banyak orang, impian, cita-cita, dan harapan, adalah satu
paket modal untuk meraih kebahagiaan hidup. Namun tidak banyak manusia yang
sadar
Comments
Post a Comment