Simplified Applied Spirituality Spiritualitas Renyah


Simplified Applied Spirituality
Spiritualitas Renyah

transpersonalized
Perlakukan diri sesuai perlakuan Alloh pada diri
Rela
Pada tulisan ini, saya berharap anda para pembaca membayangkan kehidupan anda yang selalu berada pada titik di antara harapan dan kekecewaan disebabkan oleh diri anda sendiri. Diri anda yang tidak pernah merasakan nikmatnya hidup seberapa besarnya penghasilan yang anda dapatkan setiap hari bahkan setiap jamnya. Karena sesungguhnya penghasilan kita dari apa yang setiap hari kita jalani yakni pekerjaan apapun, tidak menjadi jaminan seseorang untuk bisa meraih kebahagiaan yang hakiki. Saya tidak mendoakan anda agar tidak bahagia, tetapi ketidakbahagiaan yang anda hindari selama ini adalah tidak sepenuhnya anda rasakan. Bahkan ketidakbahagiaan itu nyaris tidak anda sadari. Bukan berarti anda kuat, tetapi anda selalu berusaha tidak menganggap itu ada.
Biasanya orang yang seperti ini terpenjarakan oleh pekerjaannya sendiri. Perasaan yang seharusnya menimpanya, tidak ada karena ada pengalihan perhatian dari rasa itu sendiri kepada sibuknya pekerjaan. Semoga kita bisa menjadi manusia yang selalu rela terhadap apa yang kita terima. Dengan kerelaan yang sebenar-benarnya. Bukan hanya pengalihan perhatian dari apa yang seharusnya kita terima kepada apa yang seharusnya kita hindari yakni bersandar kepada tuntutan sibuknya pekerjaan.
Rela timbul dari kehendak untuk bisa menimpakan segala hal ke dalam diri tanpa melihat apa itu. Kehendak tersebut hanya ada jika kita mengosongkan diri kita dan mengisinya dengan kepasrahan atas ketentuan Alloh atas diri kita.
Menerima
Bahagia
Berharap
Tobat
Takut
Tangguh

PD aja lagi, Alloh menimpakan masalah terkecil
Tidak ada maksud sedikitpun menganggap kekuasaan dan keagunganNya seolah kecil. Justeru dengan memandang segala hal di dunia ini seolah kecil adalah bukti bahwa kita sangat meyakini dan mengimani bahwa kekuasaan Alloh sangat terbatas. Berapa besarnya masalah yang kita hadapi tidak sepadan dengan kekuasaan Alloh yang mampu untuk merubah segalanya menjadi lebih baik. Bahkan yang tadinya buruk bisa menjadi baik dan sangat baik sekali. Bukan masalah cara pandang kita terhadap apa yang kita yakini melainkan bagaimana cara kita menyikapi permasalahan yang dihadapi dengan cara melimpahkannya kepada Dia yang memberikannya kepada kita.
Alangkah beruntungnya seseorang yang menyikapinya dengan berkata “ini adalah anugerah dari Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur ataukah aku ini kufur”. Mengatakan bahwa segala permasalahan besar atau kecil adalah anugerah dan karunia dariNya merupakan tindakan yang sangat sulit. Karena biasanya ketika kita ditimpakan musibah, jiwa kita berontak, bathin kita merana, dan perasaan lainnya. Rasanya mungkin seperti hidup kita tidak ada maknanya lagi. Padahal jika kita meyakininya sebagai sebuah karunia dan anugerah dari Alloh, ada banyak peluang yang bisa membukakan kita kepada segala peluang kebaikan di kehidupan dunia ini.
Menyikapinya sebagai sebuah anugerah berarti diri kita siap untuk menerima pemberian Alloh yang lainnya. Dan berarti bahwa kita siap diberikan cobaan oleh alloh dalam berbagai ukurannya. Tidak ada maksud sombong, tetapi demikianlah adanya. Daripada kita hanya memohon agar dijauhkan dari segala kemadaratan hidup dan diri kita tidak siap, lebih baik kita menganggap dan meyakininya sebagai suatu anugerah terindah dari Alloh. Sudah berapa banyak narapidana yang keluar masuk penjara dan berakhir dengan pengabdian yang lebih dari manusia rata-rata. Bahkan lebih dari kita. Sudah berapa banyak di antara kita yang selalu saja dirundung dengan kesedihan dan kesulitan tetapi kemudian beranjak tergugah oleh dirinya sendiri untuk berubah menjadi manusia-manusia yang bisa diandalkan oleh orang-orang yang dicintainya.
Ini bukti bahwa jika benar Allohlah yang menimpakan permasalahan kepada kita, ternyata Alloh pula yang memiliki tujuan besar di balik itu. Dia merubah kita dengan caranya. Dia mengarahkan diri kita kepada impian dan cita-cita kita serta kepada keinginanNya agar selalu berada pada jalurNya. Tanamkan harapan tinggi dalam hidup kita. Yakni harapan untuk selalu diawasi dan dipantau oleh Alloh. Agar kehidupan kita selalu beriringan dengan tangan kekuasaanNya.
Ketika kita mengungkapkan isi hati kita kepada sesama manusia, kita hanya diberikan rangsangan agar isi hati itu selalu muncul dalam benak kita dan merongrong fikiran kita karena terganggu oleh mata dan telinga manusia. Tetapi ketika anugerah dan karunia dalam bentuk permasalahan tadi diungkapkan hanya kepadaNya, dicurhatkan, dilimpahkan, diserahkan, maka diri kita akan selalu siap manakala ada permasalahan berikutnya. Kita harus sadari bahwa kehidupan kita harus terus berjalan dan kita pun harus melumrahkan bahwa kehidupan selalu memberi tantangan dan tanjakan curam yang bisa membuat kita lelah dan jenuh untuk menjalani hidup. Tetapi kita juga harus sadari, bahwa di setiap tanjakan dan halang rintang yang ada di hadapan kita adalah jalan menuju kebahagiaan. Ingatlah, jangan hanya berfikir bahagia saat ini, tetapi fokuslah kepada kebahagiaan di akhirat. Yakni dalam kehidupan setelah mati nanti.
Permasalahan yang kita hadapi biasanya muncul disebabkan perbuatan kita sendiri. Dan ketika kita menerima imbasnya, banyak di antara kita yang tidak kuat menahannya. Inilah fungsi bahwa segalanya harus diyakini datangnya dari Alloh. Meskipun jawaban dari segalanya ada di dalam diri kita sendiri. Kita yang berbuat, maka kita pun pasti tahu jalan keluar dari perbuatan yang kita pilih. Dan ketika kita menghadapinya serta melibatkan semua orang, maka perbuatan kita akan menyebabkan kesulitan kepada mereka. Tetapi ketika kita menghadapinya dengan disertai oleh keyakinan bahwa hanya Alloh yang tahu permasalahan kita dan kita pun menyerahkan segalanya termasuk jawaban dari permasalahan yang ditimbulkan oleh perbuatan kita tadi, maka Alloh akan membantu kita membukakan jalan keluar menjadi lebih lebar dan terang benderang.

Comments

Popular posts from this blog

Ruh yang berdakwah