TA`MIR MASJID


TA`MIR MASJID
Oleh : Syuhudul Anwar

Masjid dalam arti yang sebenarnya adalah tempat sujud. Diambil dari sajada yasjudu sujuudan dan isim makannya masjidun yakni tempat dimana manusia melakukan sujud. Dari makna ini memang memiliki arti bahwa masjid atau tempat sujud adalah tempat yang begitu luas tanpa batas. Dimana manusia hidup, maka disana dia boleh saja bersujud semaunya dengan tujuan apapun. Tanpa terbatas oleh waktu dan tempat serta bersujud kepada siapapun juga.
Melalui pemaknaan religi, masjid berarti tempat untuk menyembah Tuhan yang diyakini oleh penganutnya. Maknanya yang sangat umum ini mengisyaratkan bahwa setiap umat beragama pasti memiliki masjid (tempat sujud/ ritual ibadah). Tentunya ditujukan kepada Tuhan Masing-masing dan dengan aturan serta pedoman yang ada dalam kitab suci masing-masing berdasarkan kebiasaan ritualnya.

$uZøym÷rr&ur 4n<Î) 4ÓyqãB ÏmÅzr&ur br& #uä§qt7s? $yJä3ÏBöqs)Ï9 uŽóÇÏJÎ/ $Y?qãç/ (#qè=yèô_$#ur öNà6s?qãç/ \'s#ö6Ï% (#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# 3 ÎŽÅe³o0ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÑÐÈ

Artinya: ”Dan kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan Dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman". (Yunus: 87)

Bagi kita umat muslim, masjid dikenal juga dengan istilah Baitulloh atau jika kita melihat ke beberapa ayat al-Quran di bawah ini, di sana dikemukakan bahwa ka`bah merupakan rumah yang suci tempat dimana umat Islam melaksanakan ritual shalat dan ibadah lainnya. pada ayat-ayat di bawah ini tercantum istilah Bait dengan maksud di sana adalah ka`bah yang berada di dalam masjidil harom.
* Ÿ@yèy_ ª!$# spt6÷ès3ø9$# |MøŠt7ø9$# tP#tysø9$# $VJ»uŠÏ% Ĩ$¨Z=Ïj9 tök¤9$#ur tP#tysø9$# yôolù;$#ur yÍ´¯»n=s)ø9$#ur 4 y7Ï9ºsŒ (#þqßJn=÷ètGÏ9 ¨br& ©!$# ãNn=÷ètƒ $tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur Îû ÇÚöF{$# žcr&ur ©!$# Èe@ä3Î/ >äóÓx« íOŠÎ=tæ ÇÒÐÈ
Artinya: ”Allah Telah menjadikan Ka'bah, rumah Suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Al-maidah: 97)

(#rßç6÷èuù=sù ¡>u #x»yd ÏMøt7ø9$# ÇÌÈ

Artinya: ”Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah Ini (Ka'bah)”. (Quraisy: 3)

!$uZ­/§ þÎoTÎ) àMZs3ór& `ÏB ÓÉL­ƒÍhèŒ >Š#uqÎ/ ÎŽöxî ÏŒ ?íöy yYÏã y7ÏF÷t/ ÇP§ysßJø9$# $uZ­/u (#qßJÉ)ãÏ9 no4qn=¢Á9$# ö@yèô_$$sù ZoyÏ«øùr& šÆÏiB Ĩ$¨Z9$# üÈqöksE öNÍköŽs9Î) Nßgø%ãö$#ur z`ÏiB ÏNºtyJ¨W9$# óOßg¯=yès9 tbrãä3ô±o ÇÌÐÈ

Artinya: ”Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”. (Ibrohim: 37).

Tempat ibadah ini begitu disakralkan oleh setiap pengguna atau penganut agamanya. Sehingga muncul istilah tempat suci dimana setiap individu dari komunitas agama tertenti tidak membolehkan kepada setiap dirinya untuk melakukan hal-hal yang tidak diharapkan dalam bentuk perbuatan-perbuatan buruk. Di samping itu, mereka berkeyakinan bahwa Tuhan ada di dalamnya sehingga dikenal dengan rumah Tuhan.
Memang pembicaraan mengenai rumah Tuhan ini begitu simpel tetapi sensitif. Terlebih lagi bagi kita umat Islam yang cenderung memiliki akidah khusus dan berbeda dengan yang lain. Jika kita mengartikan Baitulloh dengan rumah Alloh, maka akan salah kaprah dalam keyakinan kita. Perlu diingat bahwa ini hanyalah pada tataran verbal saja atau tidak mesti dimasukan ke dalam hati sanubari. Jika berkeyakinan bahwa itu adalah rumah Alloh, maka secara tidak langsung mengatakan bahwa Alloh memiliki rumah.
Inilah kesalahan yang tidak terasa bagi kita khususnya sebagai umat Islam yang memang mengaku-ngaku sebagai satu-satunya umat ideal dengan monotheismenya. Mereka yang mengatakan dirinya sebagai aliran Islam garis keras pun pasti sering mengucapkan Baitulloh ini. Sehingga tidak terasa mereka mengaku Islam garis keras tetapi akidahnya tidak keras. Maksudnya adalah mereka bahkan mungkin kita terkadang pada saat mengatakan mesjid merupakan rumah Alloh, meyakini bahwa alloh berada di dalam rumahnya. Ini mengindikasikan adanya persamaan antara khalik dengan makhluk. Sehingga istilah laitsa kamitslihi syaiun ternafikan.
Jadi apa yang harus kita lakukan dengan adanya pengistilahan ini? kan sesuai dengan apa yang ada dalam al-Quran?
Sebagai ummatan wasathon, kita harus menjadi umat yang model. Dalam arti, bahwa dengan adanya akidah kita yang sangat sempurna, kita harus memiliki keyakinan atau berakidah yang memang sempurna. Pada saat kita mengatakan bahwa tempat ibadah kita adalah baitulloh, maka dalam benak kita tidak semestinya mengiyakan bahwa Alloh memiliki rumah. Jadi, katakan saja tetapi tidak mesti diyakini akan hal itu. Toh kita berbeda dengan umat lainnya yang di dalam tempat ibadah mereka disimpan simbol dari Tuhannya itu. Dari sini, wajar saja bila mereka mengatakan bahwa tempat ibadah mereka adalah rumah tuhan.
Bagi kita kaum muslimin, masjid sangat disakralkan dan begitu dilestarikan. Karena memang masjid adalah satu simbol utama yang harus tetap ada sebagai wujud keberlangsungan eksistensi kaum muslimin sendiri di permukaan bumi ini. Jika masjid tidak ada maka muslim pun tidak ada.
Tetapi bagaimana dengan cara kaum muslim memperkuat bangunan masjid itu sendiri dalam upaya melestarikannya? Ini adalah pertanyaan yang memiliki makna yang begitu besar jika kita coba menjawabnya secara mendalam dan penuh dengan kesadaran diri. Ada makna yang tersirat dan ada juga yang tersurat di dalamnya, yang mampu mendongkrak kamus muslim sendiri untuk melaksanakan kewajibannya mempertahankan eksistensi Islam di muka bumi ini.
Sekitar 15 tahun yang lalu, kamu muslim tidak pernah meminta-minta kepada orang untuk membangun masjid. Tetapi ada dana khusus dari pemerintah untuk mendirikan masjid di setiap wilayah. Ini tentunya merupakan upaya pemerintah orde baru untuk memperkuat semangat keislaman yang ada di muka bumi Indonesia. Entah apa yang melatarbelakangi upayanya itu, yang jelas hal seperti itu merupakan usaha yang memang mulia.
Dengan dibangunnya beberapa mesjid waktu itu tentu saja dapat mendongkrak keislaman karena di sana dilakukan berbagai kegiatan yang memang dapat mendukung giroh islamiyahnya dan pula dapat melemahkan upaya lawan karena terlihat kekuatan umat Islam dalam hal itu. Umat Islam yang cenderung dengan kemiskinannya menjadi sedikit tercover oleh program tersebut. Mereka yang hendak menghancurkan umat Islam tidak bisa lebih agresif lagi melakukan upaya pemurtadan terhadap umat Islam.
Ironisnya, Hingga saat ini masih ada saja mereka yang meminta-minta sumbangan dana untuk pembangunan masjid. Beberapa tahun yang lalu fenomena seperti ini begitu parah hingga terlihat di setiap sudut jalanan ada tulisan panitia pembangunan masjid. Sebagai umat Islam yang tidak berdaya dan tidak mampu untuk membantu mereka, alangkah hancurnya hati melihatnya. Dan inilah satu hal yang memang mau tidak mau untuk difikirkan oleh para pakar keislaman terlebih lagi oleh organisasi al-Alam Al-Islami. Bukan tidak boleh saling bertukar pendapat atau membangun wacana keislaman, tetapi alangkah bagusnya jika diimplementasikan ke dalam bukti nyata dalam karya terbaik untuk umat.
Lebih ironi dari itu pula, bahwa mesjid-mesjid yang mereka bangun tidak seramai yang diharapkan. mereka berlomba-lomba memperindah bangunan masjid tetapi tidak berlomba untuk saling meramaikan masjid masing-masing. Sungguh kondisi sosial masyarakat muslim yang menyedihkan. Mendirikan mesjid tetapi tidak mendirikan diri mereka sendiri. Jika mesjid adalah simbol kekuatan ukhuwah Islam, maka simbol itu akan lemah jika umat tidak mencoba mengisinya dengan kekuatan-kekuatan diri mereka sendiri.
Sebuah mesjid yang ramai (sholat berjama`ah), pasti memberikan pengaruh terhadap perkembangan umat sekitarnya. Karena efeknya yang begitu jelas dan nyata dengan adanya kegiatan keislaman yang dilakukan di mesjid. Oleh karena itu, tidak aneh jika di suatu tempat yang mesjidnya selalu ’berisi’, kondisi sosial ekonomi masyarakatnya pasti kondusif dan menentramkan. Jika harus dikatakan, masjid secara tidak langsung adalah kontrol atas ikatan-ikatan yang memang tidak cair antara sesama umat islam. Sehingga dengan adanya intensitas dan frekuensi tinggi dalam aktifitas di masjid, maka persatuan dan kesatuan umat akan lebih terikat dalam satu akidah yang sempurna.
Andaikan seluruh individu umat Islam selalu menjunjung tinggi satu prinsip ini, insyaalloh kondisi masyarakat yang cenderung berkesan tidak positif, akan berubah dan menjadi representasi masyarakat ideal. Oleh karenanya, hendaknya kegiatan di mesjid, selain dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan, dijejali pula dengan kegiatan lain yang memiliki imbas manfaat bagi umat. Seperti pendidikan dan pengajaran, sebagaimana dilakukan oleh para ulama dahulu yang menggunakan masjid sebagai pusat dan standar perkembangan peradaban umat.
Lebih dari itu, jika kita menilik lebih jauh mengenai kemasjidan yang ada di lingkungan umat Islam ini, ada sebuah kejanggalan yakni bahwa mesjid yang ada saat ini mungkin saja dipenuhi dengan kajian akidah yang berdasarkan akal atau logika semata sebagai dasar atas tauhid. Tetapi apakah umat Islam tidak sadar bahwa hal-hal seperti itu di suatu waktu nanti bisa rapuh dan hancur. Karena landasan iman jika hanya dibentuk dan dikemas oleh rasionalisasi tauhid saja, tidak akan begitu kuat.
Solusinya adalah harus ada masukan-masukan langsung kepada intuisi dan ruhani yang sirriyyah-nya, yang dibimbing oleh guru ruh. Bagi kita memang sudah tidak asing lagi, guru yang membimbing kita di dunia ini ada dua jenis, yakni guru spiritual dan guru intelektual atau guru yang menyentuh dunia kalbu dan guru yang hanya membimbing kita dalam mengolah serta mengembangkan kemampuan otak belaka.
Masalahnya, pantaskah ada kajian seperti itu di mesjid-mesjid kecil apalagi yang besar? Jawabanya adalah pantas dan memang harus. Kondisi umat sejak dasawarsa terakhir ini digenggam oleh tangan-tangan yang telah dirasuki pengaruh ideologi dari barat yang cenderung liberal dan sekuler. Dan ini sangat tidak terasa karena umat dilenakan dengan kesenangan-kesenangan yang didasarkan atas jasmani belaka. Sehingga banyak pemikiran mereka yang melenceng dari apa yang seharusnya. Yakni semangat religiusitas yang tinggi dalam berbagai tindakan dan tindakan, dimanapun dan kapanpun.
Kegersangan yang dialami oleh masyarakat kita saat ini terlebih lagi umat Islam harus menjadi tanda tanya besar dan menjadi catatan kecil yang dimiliki oleh setiap individu muslim. Sehingga akan terlahir beberapa ide serta gagasan dan semangat yang termanifestasi ke dalam aktifitas keislaman yang benar-benar sesuai dengan al-Quran dan al-sunnah. Jika dibiarkan, maka akan semakin bertambah parah dan menyebabkan proses regenerasi yang tidak sesuai dengan harapan. Yaitu proses kaderisasi yang mewariskan nilai-nilai tidak islami dan hanya menunggu saat-saat kehancurannya datang.
Nampaknya ada beberapa golongan manusia yang tidak menyukai masjid dan segala kegiatan di dalamnya, yaitu
1.    Mereka yang menganggap keyakinan mereka lebih benar dari Islam dengan kata lain menganggap keyakinan Islam adalah aqidah yang salah sehingga mereka menyekutukan Alloh dan kufur kepadaNya. Tiada lain mereka adalah komunitas kafirin dan musyrikin yang tidak mau mengaku adanya tauhidulloh.
$tB tb%x. tûüÏ.ÎŽô³ßJù=Ï9 br& (#rãßJ÷ètƒ yÉf»|¡tB «!$# z`ƒÏÎg»x© #n?tã NÎgÅ¡àÿRr& ̍øÿä3ø9$$Î/ 4 y7Í´¯»s9'ré& ôMsÜÎ7ym óOßgè=»yJôãr& Îûur Í$¨Z9$# öNèd šcrà$Î#»yz ÇÊÐÈ

Artinya: ”Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka”. (al-Taubah: 17)

  1. Mereka lebih suka melihat umat Islam berada dalam keterpurukan, ketertinggalan, kemiskinan dan lebih parah dari itu yakni degradasi moral dan kebobrokan akhlak. Sedangkan orang-orang yang beriman yang suka memakmurkan masjid adalah mereka yang disebutkan dalam ayat di bawah ini.yakni mereka yang menjaga hubungan dengan Alloh, sehingga terwujud kemajuan dalam hal duniawi maupun ukhrowi dalam bentuk akhlakul karimah dan dapat dirasakan oleh sesamanya melalui kebaikan-kebaikan dan kemulyaan amal.
$yJ¯RÎ) ãßJ÷ètƒ yÉf»|¡tB «!$# ô`tB šÆtB#uä «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# tP$s%r&ur no4qn=¢Á9$# tA#uäur no4qŸ2¨9$# óOs9ur |·øƒs žwÎ) ©!$# ( #|¤yèsù y7Í´¯»s9'ré& br& (#qçRqä3tƒ z`ÏB šúïÏtFôgßJø9$# ÇÊÑÈ

Artinya: ”Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al-Taubah: 18)

  1. Mereka orang-orang kafir yang tidak ingin umat Islam berada di dalam masjid dengan alasan apapun. Artinya tidak ingin kaum muslim menyembah Alloh Yang Maha Esa. Menginginkan mereka supaya murtad atau keluar dari ajaran Islam. Sebagaimana dalam ayat di bawah ini.
y7tRqè=t«ó¡o Ç`tã ̍ök¤9$# ÏQ#tysø9$# 5A$tFÏ% ÏmŠÏù ( ö@è% ×A$tFÏ% ÏmŠÏù ׎Î6x. ( <|¹ur `tã È@Î6y «!$# 7øÿà2ur ¾ÏmÎ/ ÏÉfó¡yJø9$#ur ÏQ#tyÛø9$# ßl#t÷zÎ)ur ¾Ï&Î#÷dr& çm÷YÏB çŽt9ø.r& yYÏã «!$# 4 èpuZ÷GÏÿø9$#ur çŽt9ò2r& z`ÏB È@÷Fs)ø9$# 3 Ÿwur tbqä9#ttƒ öNä3tRqè=ÏG»s)ム4Ó®Lym öNä.rŠãtƒ `tã öNà6ÏZƒÏŠ ÈbÎ) (#qãè»sÜtGó$# 4 `tBur ÷ŠÏs?ötƒ öNä3ZÏB `tã ¾ÏmÏZƒÏŠ ôMßJuŠsù uqèdur ֍Ïù%Ÿ2 y7Í´¯»s9'ré'sù ôMsÜÎ7ym óOßgè=»yJôãr& Îû $u÷R9$# ÍotÅzFy$#ur ( y7Í´¯»s9'ré&ur Ü=»ysô¹r& Í$¨Z9$# ( öNèd $ygŠÏù šcrà$Î#»yz ÇËÊÐÈ

Artinya : ”Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah[134]. dan berbuat fitnah[135] lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. 217.

  1. Mereka hanya mau menjadikan umat Islam sebagai konsumen alias pengguna saja dan bukan produsen atau penghasil produk. Dengan kata lain, mereka meraup keuntungan dari produk yang dijual kepada umat Islam, yang mau tidak mau, meskipun dengan harga yang melambung, umat Islam harus membeli dan memakainya. Entah apa strategi mereka sehingga umat Islam mau saja untuk membelinya. Di sini umat Islam terlihat begitu tidak berdaya. Dan hanya satu alasannya, mereka tidak mau Umat Islam beriman.
$tBur (#qßJs)tR öNåk÷]ÏB HwÎ) br& (#qãZÏB÷sム«!$$Î/ ̓Íyèø9$# ÏÏJptø:$# ÇÑÈ

Artinya : ”Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan Karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (Alburuj: 8)


Dzikir Tarekat di Mesjid-mesjid
Ada sesuatu yang telah hilang dari masjid, bukan perlengkapan masjid, dan bukan pula umat Islam yang mungkin sudah tidak lagi memakmurkan masjid mereka. Tetapi sesuatu yang sangat esensial dan merupakan ruh serta intisari yang dibawa oleh Muhammad sejak dulu. Dia adalah Dzikrulloh yang tertanam di dalam kalbu yang merupakan semangat serta inti dari iman Islami yang sesungguhnya. Inilah yang menyebabkan umat Islam tidak berdaya. Karena mereka kehilangan jati diri dan kontrol dalam dirinya.
Bangunan masjid mungkin kuat, umat Islam yang memakmurkan masjid mungkin hingga saat ini bertambah dan semakin bertambah. Tetapi mereka hidup bagaikan mayat hidup. Mereka membuat organisasi kemasjidan tetapi dengan tujuan duniawi. Selayaknya orang barat sana yang mengedepankan gaya hidup saling menindas dan saling memakan daging saudaranya. Ini karena telah hilang semangat dzikrulloh dari dalam ruh mereka yang sengaja dihilangkan oleh upaya umat kafirin. Alangkah buruknya nasib Umat Islam yang kebingungan karena kehilangan jati diri mereka. Ini membutuhkan penyadaran dan memerlukan upaya koordinasi dari berbagai fihak yang ada dalam komunitas Umat Islam. Karena memang ada penghalang begitu besar yang mengatasnamakan Islam sendiri sehingga upaya yang harus dilakukan adalah ekstra besar.
Dzikrulloh yang dibawa sejak Nabi Muhammad, telah dihilangkan oleh mereka penyusup dari luar yang mencoba dan berhasil masuk ke dalam komunitas umat islam. Mereka mengacak-acak dan menggerogoti jati diri, identitas, budaya, serta iman Islam. Sehingga sebagian besar Umat Islam terbodohi karena mengikuti apa pun yang dikatakan oleh mereka. Mereka menggembar-gemborkan haramnya taklid, padahal mereka sedang bertaklid kepada golongan yang mengaku-ngaku muslim. Alangkah ironisnya hal demikian.
Nampaknya inilah yang menjadi penyebab adanya segala bentuk perilaku negatif yang selalu kita saksikan di dalam komunitas umat Islam. Adanya perbuatan dzolim antara sesama muslim bahkan dengan mereka kafirina yang tidak bersalah. Inilah penyebab hilangnya jatidiri umat sebagai rahmatan lilalamin. Dan inilah yang menjadi alasan mengapa peradaban umat islam semakin hari semakin tidak karuan bahkan mungkin akan hancur. Para pakar muslim tidak mampu dan telah kebingungan menghadapi ini semua. Karena ancaman seperti ini begitu besar dan mungkin mengancam pula kepada proses regenerasi umat Islam yang akan datang.








Comments

Popular posts from this blog

Ruh yang berdakwah