THORIQOT QODIRIYYAH WAN NAQSYABANDIYYAH SEBAGAI MAJMA`AL BAHRAIN; Pertemuan Antara Dua Kutub Filsafat dan Tasawwuf


THORIQOT QODIRIYYAH WAN NAQSYABANDIYYAH
SEBAGAI MAJMA`AL BAHRAIN;
Pertemuan Antara Dua Kutub Filsafat dan Tasawwuf

Daya nalar yang maha agung
Manusia adalah sosok ciptaan Alloh yang diciptakan melalui berbagai macam proses. Dimulai dari proses peniupan ruh pada saat dia berada dalam rahim sang ibu hingga ia dikeluarkan oleh fitrahnya keluar rahim ibunya itu dengan tidak membawa apapun dan tanpa bisa melakukan apapun kecuali bisa menangis dan menggerak-gerakkan tangan dan kaki, berkedip dan bernafas dengan lumuran darah yang menyelimuti tubuhnya. Hanya itu saja yang manusia bawa pada saat pertama dia keluar dari rahim ibunya.
Semakin hari, seiring waktu bergulir, manusia diberi ajaran oleh Alloh secara tidak langsung melalui berbagai fenomena yang ada di sekitarnya. Fenomena ini ada dalam al-Quran. Alloh berfirman: ”Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar.[1]  Hingga ia tumbuh menjadi sosok manusia yang mulai bisa menggunakan bibirnya hingga ia mulai bisa mengerutkan keningnya. Sebuah potensi yang memang tidak ada di ciptaan Alloh yang lain. Dengan mendengarkan apa yang terucapkan oleh bibirnya itu, manusia bisa terlihat inteligensinya.
Menurut seorang ahli ilmu komunikasi, bahwa bicara adalah satu potensi yang karenanya dapat diketahui seberapa besar dan seberapa tinggi inteligensi seseorang. Seberapa besar kebohongan dan seberapa tinggi kesombongan dalam pembicaraan seseorang bisa menunjukkan kemampuannya dalam berfikir dan menggunakan nalarnya. Semakin banyak ia mengeluarkan kata-kata, maka semakin banyak pula kosa kata dan perbendaharaan kalimat yang ia miliki dalam kamus kognisinya ia ungkapkan. Sedangkan yang mengeluarkan kata-kata hanya seperlunya, ia tidak memperlihatkan inteligensinya. Karena semua manusia diberi potensi yang sama meski pada gilirannya mereka berbeda dalam karakter dan kepribadiannya.
Inilah sebuah pembawaan manusia sejak ia lahir. Kemampuan mengolah kata dan kalimat adalah suatu kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh manusia. Berbeda dengan hewan, mereka tidak bisa mempelajari bahkan menggunakan bahasa yang lain. Bagi manusia, bahasa adalah sangat mudah. Lintas budaya sekalipun bagi mereka adalah hal yang bisa dipelajari karena mereka adalah mahluk yang memiliki potensi penyesuain diri dengan daya nalar dan daya fikirnya yang luar biasa.
Di samping itu, ada sesuatu yang sangat penting yang semua orang harus tahu bahwa di balik pembicaraan seseorang ada suatu proses yang disebut dengan encoding dan decoding. Ada proses yang disebut dengan internalisasi dan proses komunikasi intrapersonal.
Kajian mengenai ini bisa dilihat dalam lapangan studi ilmu komunikasi. Encoding maupun decoding merupakan proses seorang manusia pada saat ia melakukan komunikasi. Entah itu bersifat satu arah, apalagi jika dua arah. Sedangkan internalisasi adalah proses penghayatan dan penjiwaan seorang manusia pada saat ia melakukan komunikasi. Dan semua bisa terjadi pada saat ia melakukan proses komunikasi intrapersonal.
Jika dalam komunikasi interpersonal, encoding menjadi stimulus bagi orang lain, dan decoding menjadi respon atas stimulus yang diterima dari orang lain. Sedangkan internalisasi terjadi pada saat menerima respon dan menjadi reaksi atas respon itu. Dalam komunikasi intrapersonal, seorang manusia melakukan stimulasi dan reaksi secara mandiri. Dia memberi pendapat dan dia sendiri yang menanggapi pendapatnya. Dia melakukan encoding dan dia pula yang melakukan decoding. Proses internalisasi pun berlangsung tanpa henti dalam memorinya. Dan komunikasi bentuk ini bisa terjadi pada saat ia berkomunikasi interpersonal.
Memori merupakan suatu bagian dalam diri kita yang bisa menyimpan semua hasil olahan atas apa yang kita lihat, sentuh, dengar dan lain-lain yang berkaitan dengan sistem inderawi kita. Semua dikemas sedemikian rupa hingga suatu saat perbendaharaannya itu sering diungkapkan, maka akan semakin ingat dan tidak akan pernah lepas dari memorinya.
Inilah pembawaan manusia. Seberapa besar inteligensinya, seberapa tinggi daya nalarnya, semua manusia sama dalam hal ini. Oleh karena itu, semakin sering diasah maka akan semakin tajam daya fikir dan nalarnya itu. Semakin sering seorang manusia berdialog, tentang apapun juga, apakah ia lakukan itu dengan orang lain atau bahkan dengan dirinya sendiri, maka aspek kognisinya akan semakin terpenuhi dengan konsep-konsep dan premis-premis tertentu.
Dari sana, kita akui bahwa setiap kita adalah manusia. Dan memiliki kelebihan-kelebihan di atas. Daya fikir, daya nalar, internalisasi, bahkan penciptaan konsep sekalipun, kita telah memilikinya dan sering kita gunakan dalam keseharian kita sebagai manusia yang selalu bersentuhan dengan lingkungan sekitar apakah mahluk hidup atau mahluk mati. Kemampuan ini Alloh berikan kepada seluruh umat manusia sebagaimana dalam firman-Nya: ”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”.[2] Pada saat seorang manusia melihat seekor semut sedang berjalan menyusuri dinding, maka ia akan melakukan proses berfikir. Pada saat ia melihat gajah pun sama. Dan dari keduanya dapat menghasilkan suatu hasil berfikir.
Pada saat ia dihadapkan pada satu masalah sekecil apapun, ia akan menggunakan akalnya untuk menyelesaikan masalahnya itu. Lebih dari itu, pada saat ia menghadapi masalah yang sangat besar dan sangat kritis misalnya, maka sama saja ia akan melakukan proses berfikir untuk mencari solusi sebagai jalan keluar atas masalah yang ia hadapi. Apa yang ia lihat, dengar, sentuh, dan melalui proses inderawi lainnya, akan melewati proses berfikir dan penggunaan daya nalar atau daya fikir.  
Sehingga ada sebuah pernyataan yang muncul dari mereka para pemikir muslim bahwa al-Insaan Hayawaan al-Nathiiq. Manusia adalah hewan juga tetapi manusia mampu berbicara secara verbal. Yakni verbalisasi intuisi dan daya nalarnya. Yang merupakan sebuah eksistensi agung yang diberikan oleh Alloh kepada manusia. Wujud manusia yang dinyatakan oleh-Nya sebagai wakilnya di muka bumi, tentu ini tidak sembarangan dan bukan merupakan suatu pernyataan yang main-main. Menunjukkan bahwa manusia adalah wujud emanasi dari zat Alloh SWT. Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dengan kata lain, manusia berkuasa menggunakan potensinya untuk menggenggam alam ini. Apa pun keinginan manusia terhadap alam ini, manusia mampu (baca: berkuasa) untuk mencapai keinginannya tersebut.

Bagaimana dengan para pilosof?
Para filosof adalah human being sama dengan kita. Bahkan sama dengan mereka orang-orang yang hilang ingatannya atau majnun, dalam hal kemanusiaannya. Semua manusia adalah basyar, insan, atau nas. Di tubuhnya ada kulit, tulang, daging, rambut dan semua yang ada dalam anatomi tubuhnya termasuk memiliki otak kiri dan otak kanan sebagai tool atau piranti bagi manusia secara fisik untuk menggunakan daya nalarnya. Kedua otak itu terletak di kepala manusia. Yang merupakan piranti khusus untuk memikirkan semua yang tersentuh oleh inderawinya.
Mereka para pilosof adalah manusia-manusia yang secara frontal dan radikal mempromosikan atau dengan tanpa disengaja buah fikirannya didengar oleh orang lain dan namanya dimasukan ke dalam daftar manusia yang pemikirannya telah mempengaruhi orang lain. Sehingga lahirlah aliran-aliran yang namanya disesuaikan dengan nama pemikir itu sendiri atau disesuaikan dengan bentuk pergerakan pemikirannya.
Di atas dikemukakan bahwa para filosof adalah manusia juga sama halnya dengan kita. Mereka bisa berfikir, manusia yang lain pun bisa. Bahkan bila semua manusia membukukan hasil pemikirannya tentang hidup, potensi akan banyaknya aliran pemikiran filsafat alangkah besarnya. Wewenang untuk berfikir adalah hak semua manusia terlebih lagi pengembangan dari pemikirannya tersebut. Semua orang berfikir tentang kehidupan, tentang semua hal yang dihadapinya dalam kesehariannya. Terlepas dari apapun efeknya bagi hidupnya itu.
Dengan penuh hormat kepada norma dan religi yang sangat diagungkan oleh seluruh manusia, bahwa jika semua manusia memikirkan tentang entitas di luar sana yang sangat transendental, maka akan sangat banyak sekali jumlahnya agama di permukaan dunia ini. Hingga sangat mungkin adanya jumlah nabi yang sangat banyak di seluruh pelosok dunia dengan pemikiran dan pengikutnya masing-masing. Dan tentunya bisa merepotkan institusi atau lembaga negara untuk melakukan konsensus terhadapnya.
Mengapa demikian??coba kita perhatikan dengan pandangan yang sangat luas dari berbagai segi dan aspek, dari sudut pandang yang sangat kompleks, terutama dari sudut pandang geografis, demografis serta heterogenitas budaya. Dunia yang dipenuhi oleh manusia yang jumlahnya sudah bisa membuat tanah yang kita injak ini berangsur-angsur amblas, di setiap negara ada berjuta suku bangsa dan budaya yang memang sangat heterogen. Setiap suku berbeda dengan yang lainnya, dalam hal sistem, struktur dan lain sebagainya. Ini adalah hasil dari pemikiran manusia. Yang timbul ke permukaan fenomena sosial manusia itu sendiri yang salah satunya berperan untuk mengatur perikehidupan manusia itu sendiri.
Inilah sebuah kenyataan yang sangat ironis jika pembicaraan dengan paradigma seperti itu dilanjutkan yang hanya akan menimbulkan pertentangan dan perselisihan di dalam populasi manusia dalam skala besar. Yang mungkin pada gilirannya akan ada perubahan universal kehidupan manusia menuju pola hidup liberal dimana setiap orang bersikukuh dengan individulismenya dan free willnya yang lepas landas dan lepas batas. Memang sebuah potensi dunia yang bisa membuat semua pemikir bertambah kegilaannya.
Filsafat adalah wujud dari adanya potensi berfikir manusia terhadap segala hal yang dihadapinya dengan tujuan untuk membuatnya indah, tertib dan teratur. Semua orang berhak melakukannya. Dan para pilosof hadir sebagai manusia-manusia yang telah melahirkan pemikiran-pemikiran yang brilian mengenai keteraturan dan keindahan dalam hidup. Yang dilandasi oleh keinginan-keinginan manusia itu sendiri. Aliran apapun dia, paradigma apapun yang ia hasilkan dan seberapa besar jumlah pengikut yang mengagumi hasil fikirnya itu.
Berawal dari pemikiran mengenai segala alam makro dan mikro dalam bentuk fisik dan metafisiknya, mengarah kepada teologi yakni seputar perdebatan dalam hal latar belakang kekuasaan maha dahsyat yang bisa melahirkan kejadian-kejadian di alam jagat raya ini. Dari tahap mitologi hingga munculnya science, yakni bahasa lain dari munculnya segala hal yang dilandasi oleh rasio. Aliran apapun yang dijadikan landasan berfikir para pemikir mengenai alam ini, semua bertujuan kepada terciptanya sebuah tatanan sosial yang terbarukan setiap saat. Dan untuk itu, semua mazhab filsafat, meski terjadi perdebatan atau kritisasi antara mereka, namun jika digabungkan bisa saling mengisi dan menghilangkan segala kekosongan wacana dan paradigma berfikir manusia.
Ada di antara mereka yang memiliki keyakinan bahwa entitas murni adalah sesuatu yang berada dalam ruhani atau bersifat batini. Ini mengarah kepada pencapaian pemahaman mendalam dan komprehensif mengenai sesuatu yang akan terjadi nanti di akhir dari kehidupan dunia. Dan juga sebaliknya, di antara mereka ada yang hanya memandang bagian luar saja. Tanpa mempercayai adanya dunia lain yang bersifat batiniyah. Perbedaan pandangan ini melahirkan berbagai mazhab yang saat ini ada.  Bahkan melalui pengajaran tentang filsafat di lembaga-lembaga pendidikan, para siswa dibuat bingung dan ada di antara mereka yang menjadi tidak percaya akan apa sesungguhnya kebenaran hakiki itu.
Terutama dalam hal teologi, zaman sekarang ini, sebagian manusia masih ada yang tidak mempercayai kebenaran tauhid. Bahkan lebih parah lagi, ada juga yang tidak mempercayai adanya Tuhan sedikit pun. Menjelang abad 21 ini, manusia berangsur-angsur mencapai kedewasaannya yang semakin hari semakin rasional, empiris, logis, dan materialis. Yang menjadi kekhawatiran adalah hilangnya fungsi kesadaran teologis umat manusia. Yakni sebagai kontrol utama bagi setiap individu dalam menjalani kehidupannya. Semakin jauh darinya, maka akan semakin besar kemungkinan alam ini menjadi tidak lestari dan dipenuhi oleh nafsu-nafsu amarah yang menjurus kepada kehancuran terbesar yang harus dialami oleh manusia sendiri.
Berdasarkan penelitian para ahli science sendiri, bahwa kondisi fisik dunia saat ini sudah mendekati kehancuran. Jika dibiarkan, maka akan semakin parah dan semakin cepat terjadinya the end of the world (qiyamat). Bukti dari pernyataan ini adalah bahwa saat ini alam sedang dilanda global warming yang begitu parah. Yang bisa menyebabkan semakin meningginya permukaan air laut karena bongkahan es di dua kutub dunia sedang mencair. Setelah terjadi fenomena ini, akan berlanjut kepada periode global freezing. Dimana alam ini akan kembali diselimuti oleh cuaca dingin yang hebat yang bisa menyebabkan kematian dalam populasi manusia (ice age).
            Apa salahnya jika hasil pemikiran para filosof disatukan kembali. Karena semua pasti memiliki keyakinan bahwa hanya ada satu kebenaran penguasa alam jagat raya ini yakni Tuhan (dalam bahasa Islam: Alloh). Dan semua pasti dalam lubuk hati nurani terdalamnya mengatakan akan hal itu. Sehingga bisa menumbuhkan kesadaran bahwa segala landasan filsafat dibangun di atas kebenaran hakiki ini dan mesti orientasinya berakhir dalam rangka pencapaian kualitas hidup yang lebih baik berlandaskan kebenaran tersebut. Mengapa setiap lembaga pendidikan, terutama pendidikan tinggi islam tidak mengarahkan mahasiswanya untuk mengejar konklusi yang dihasilkan oleh para pemikir islam yang sebenarnya pemikiran mereka diperkuat oleh pemikiran barat juga. Ini adalah tantangan zaman. Menuntut semua fihak agar bisa mempertahankan jati diri manusia sebagai khalifah Alloh di permukaan bumi ini. Sebagai satu-satunya mahluk yang sangat mulia karena memiliki banyak potensi mulia dalam dirinya.
Otak kiri para sufi
Dalam otak manusia ada dua bagian penting yang keduanya memiliki guna dan fungsinya masing-masing. Dengan kata lain, otak kita diistilahkan oleh para ahli neuroscience seperti Roger Sperry dengan sebutan Hemisphere. Dan dua bagian itu adalah hemisphere kiri dan kanan. Yang kiri berhubungan dengan fungsi bahasa, konseptual, analisis dan klasifikasi. Sedangkan yang kanan berhubungan dengan fungsi seni, musik, spacial (ruang), pengenalan rupa dan bentuk, dan tugas rutin, seperti berpakaian & jalan pulang.
Kedua bagian ini saling mengisi satu sama lain. Ini tergambar dalam teori cel assembly Hebb. Satu saat, korteks merespon atas apa yang merangsang inderanya dan pada tahap selanjutnya, sel-sel berkumpul yang memfokuskan kepadanya sebagai suatu objek tertentu. Dan begitu selanjutnya ketika ada objek lain yang merangsang inderawinya. Satu sel dalam otak atau hemisphere kita bekerjasama dengan sel-sel yang lain dalam menginterpretasikan dan membuat suatu respon atas stimuli yang datang terhadap indera kita.
Dalam hal ini para sufi pun sama sebagai manusia biasa, mereka memiliki potensi anatomi neurotransmitter yang sama dengan kita. Mereka menggunakan otaknya sebagai piranti dalam menentukan arah logikanya yang cerdas. Seorang sufi, memiliki sejuta konsepsi mengenai dunia, sebagai result dari proses perjalanan yang panjang analisis dan hermeneutisasi fenomena dan realitas fisis maupun metafisis, lahir maupun bathin.
Dalam al-Quran sering sekali dinyatakan mengenai akal, akal dan akal. Alloh sering berfirman mengenai kelebihan orang-orang yang berakal yang memiliki indikasi sebagai berikut:
1.              Manusia-manusia yang memiliki kesadaran teologis tinggi. Sehingga dalam setiap gerak langkah, desahan nafas dan penguasaan waktu melalui iringan ketukan dzikrulloh yang tanpa henti.
2.              Manusia-manusia yang selalu memikirkan eksistensi dirinya, lingkungan sekitarnya dan seluruh alam ini dengan pandangan yang holistik dan komprehensif. Yang menumbuhkan kesadaran tinggi mengenai kualitas dari eksistensi wujud seluruh alam ini sejak dahulu hingga saat ini, termasuk alam mikro yang berada di dalam sosok manusia itu sendiri.
 Ini melahirkan sebuah konsepsi mengenai sufi. Yang merupakan kata lain dari filosof tetapi mereka telah melalui tahap-tahap takholli dan tajalli sebagai bentuk tasawwuf yang memang harus dilalui setelah selesai menjalani proses berfikir mengenai segala eksistensi. Bahkan bisa dikatakan bahwa mereka adalah para pemikir yang tidak berfikir. Maksudnya, mereka memikirkan segala eksistensi di alam ini tanpa memikirkan apa yang ada di balik semuanya. Mereka hanya menjalani apa yang diperintahkan oleh Alloh dan mereka sadar bahwa hasil pemikiran yang tanpa batas ada dalam al-Quran al-Karim. Sedangkan mereka hanya berupaya melakukan pencapaian apa yang telah dicapai oleh Nabi Muhammad sebagai model utama wujud manusia sempurna yang secara spiritual, emotional dan intelektual dipenuhi oleh kebijaksanaan dan makrifat.
Kalau boleh mengatakan bahwa para sufi bisa menggenggam sepenuhnya seluruh alam ini. Yang karenanya mereka memiliki:
  1. Visi yang jauh ke depan mengenai hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari.
  2. Pandangan yang universal dan komprehensif mengenai dunia
  3. Kehati-hatian dalam segala tindakan dan perilakunya.
Di atas disebutkan sepintas mengenai paradigma berfikir para filosof. Dan itu pun terjadi serta berlaku bagi para sufi. Mereka memikirkan segala realitas di alam ini, yang makro maupun yang mikro, yang konkrit maupun yang abstrak. Dalam Jami al-Ushul fi al-auliya, Syekh Kamasykhonawi (h.230) mengemukakan penjelasan mengenai tafakkur. Di dalam pernyataannya tidak secara jelas diungkap bahwa ini adalah salah satu kebiasaan para sufi, karena memang tafakkur adalah potensi yang dibawa oleh setiap individu sejak lahir. Dia membagi tafakkur kepada lima bagian:
  1. berfikir mengenai tanda-tanda wujudulloh yang menghasilkan adanya pencapaian ma`rifatulloh.
  2. berfikir mengenai nikmatulloh yang berefek pada rasa cinta kepada Alloh.
  3. berfikir tentang janji Alloh dan ganjarannya yang dapat menimbulkan kedalaman cinta (al-rogbah).
  4. berfikir mengenai ancaman dan siksaan dari Alloh yang dapat menimbulkan perasaan kekaguman mendalam atas keagungan Alloh (al-rohbah).
  5. berfikir mengenai ketiadaan manusia di hadapan alloh yang dapat menimbulkan al-haya (malu) dan al-Nadaamah (penyesalan).

Pada pernyataan lain, Kamaskhonawi mengatakan bahwa berfikir bisa membawa manusia kepada kebaikan. Dan alasannya adalah jika proses berfikir itu adalah berfikir yang benar, yang bertujuan untuk menjauh dari makhluk dan mendekati khalik. Menguji dan mencoba cara terbaik untuk bisa sampai dan mendekatkan diri kepada alloh
Nabi Muhammad memberikan suatu gambaran dalam salah satu hadisnya di bawah ini:
تفكر ساعة خير من عبادة الف سنة
Berfikir selama satu saat sama dengan kualitas ibadah selama seribu tahun. Tetapi maksud yang ada dalam mafhumnya bukan berarti bahwa daripada beribadah lebih baik berfikir, melamun, menghayal dan sebagainya. Melainkan bahwa proses berfikir yang dilakukan oleh seorang muslim tentang sesuatu yang bisa mendorong akan kesadaran teologisnya menjadi lebih tinggi, lebih baik dari pada melakukan ibadah tetapi absurd dan tidak ada nilainya hanya karena tidak memiliki esensi dari ibadah itu sendiri.
Berfikir sebagai suatu upaya pendekatan kepada khalik bisa memberikan manfaat dan faedah yang unlimited. Apalagi bila selama proses berfikir itu, diiringi dengan bimbingan Sang Khalik. Menjadikannya lebih berisi, tidak hampa dan memiliki bobot dan kualitas yang memang luar biasa. Berfikir tentang makhluk dan khalik hanya untuk menumbuhkan kecintaan yang unlimited pula kepada Sang Khalik.
Akhir dari perjalanan, awal dari pencapaian hakikat
Ada seorang ahli ilmu keislaman dan juga dikenal dengan filosof muslim pada periode sebelum abad 21, yang sangat terkenal dengan ke-mu`tazilahannya, dia secara tidak langsung berguru kepada mursyid Thariqot Qadiriyyah Naqsyabandiyyah. Dia sangat mengagungkan kualitas dan esensi yang ada dalam diri mursyid. ini adalah suatu indikator bahwa proses perjalanan ilmu filsafat yang saat sejak dulu dan hingga saat ini digandrungi oleh semua mahasiswa bahkan para ahli, berakhir di stasiun tasawuf. Yang salah satunya adalah melalui pembelajaran dzikrulloh di dalam mazhab Thariqat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah.
Sebagaimana dikatakan terdahulu bahwa apa yang kita fikirkan mengenai eksistensi khalik dan makhluknya, telah ada di dalam satu buku besar al-Quran. Yang secara langsung merupakan hasil meditasi dan kontemplasi Nabi Muhammad Saw. Melalui pembawa wahyu yakni Jibril, Nabi Muhammad menerimanya penuh kerelaan, kepasrahan dan keyakinan terhadap segala kebenaran yang ada dalam wahyu tersebut. Sehingga menghasilkan suatu kesimpulan mengenai eksistensi dan esensi yang ada dalam wujud Zat Alloh SWT.
TQN sebagai salah satu mazhab tasawuf memiliki kemasan metodologi dan acuan tersendiri sebagai bentuk upaya seorang manusia dalam melakukan pencapaian kesadaran teologis yang optimal. Melalui talqin dzikir yang secara langsung menanamkan satu nama-Nya ke dalam lubuk hati sanubari, manusia bisa mendapatkan hasil maksimal dalam segala bentuk peribadatan dan tingkah laku yang dijalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Karena prinsip utama yang ada dalam talqin dzikir TQN adalah selalu bersama dengan Alloh dalam setiap gerak kehidupan.
Dalam pembelajaran tasawuf melalui TQN, murid diberikan piranti untuk bisa mencapai taqarrub secara mandiri. Dalam arti bahwa upaya pencapaian tersebut, secara mayoritas diberikan keleluasaan kepada murid dengan sekehendaknya mengamalkan apa yang telah diberikan. Secara tidak langsung, guru mursyid mengawasinya seberapa jauh amalan yang ia lakukan untuk membuktikan seberapa tinggi keinginannya untuk mendekatkan diri dengan khalik. Dan ini terlihat adanya perbedaan antara setiap murid dalam pencapaiannya itu. Sedangkan fungsi mursyid, selain mengawasi adalah memberikan bimbingan yang intensif melalui ritual-ritual tertentu yang bisa merekonstruksi kualitas keimanannya kepada khalik dan kepasrahannya dalam hal melakukan ritual mandiri murid.
Ritual mandiri di sini adalah dzikir khafi yang mana setiap individu harus bisa secara intensif dan terus menerus tidak terputus ingatannya terhadap khalik di setiap gerak langkahnya. Ini yang menjadikan TQN sebagai faktor penentu kualitas pencapaian tasawuf seorang murid. Ketika dia selalu mengingatkan satu nama-Nya dalam lubuk hati sanubarinya, maka pada saat itulah kualitas keimanannya berada dalam martabat yang tinggi. Karena bisa mendorong terhadap segala perilaku dan kepribadian yang dilandasi oleh kedekatan dengan khalik. Jika terminologi wali adalah manusia yang tidak merasa takut dan tidak merasa sedih dalam hidupnya. Maka seorang murid adalah wali pada saat ia selalu berdekatan dengan khalik. Karena dengan kedekatan tersebut, berarti dia memberikan segalanya secara totalitas kepada sang khalik. Inilah sebenarnya wujud dari apa yang pernah dikatakan para ahli tentang hulul atau wihdatul wujud. Menurut mereka, istilah-istilah tersebut lahir ketika beberapa sufi dahulu merasakan penyatuan dirinya dengan khalik. Sempat menjadi fitnah di kalangan kaum muslimin. Karena kemustahilan penyatuan tersebut.
 Dalam suatu hadis qudsi dikatakan bahwa bila seorang manusia mencoba mendekatkan dirinya kepada khalik, maka khalik pun akan berusaha untuk mendekatinya. Khalik menjadi lisannya, tangannya, kakinya, matanya, telinganya, yang ia gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Makna terdalam dari hadis ini adalah ada dalam pencapaian tinggi tadi yang diupayakan oleh murid TQN yang bisa melahirkan akhlakul karimah. Lisan, tangan, kaki, mata, telinga, digunakan tidak lain adalah dilandasi oleh irodah Alloh, dibimbing dengan perlindungan-Nya dan selalu berorientasi kepada-Nya.




[1] Al-Baqoroh 31
[2] Shad 29

Comments

Popular posts from this blog

Ruh yang berdakwah