Total quality Manajemen pada media dakwah


Total quality Manajemen pada media dakwah

Pendahuluan
Menjelang abad dua satu, dakwah seringkali dikaitkan kepada sebuah program yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi keagamaan yang salah satunya adalah organisasi ummat islam. Dan dakwah pun sudah memasuki sebuah divisi atau bagian dari organisasi yang menangani segala hal yang berkaitan dengan keberlangsungan ajaran islam. Dengan kata lain, dakwah sebagai sebuah divisi disusun sedemikian rupa untuk melayani komunitas ummat islam lebih ke dalam. Karena memang islam tidak begitu berambisi (secara paksa) untuk mengenalkan ajarannya kepada orang non muslim.
Dalam memandang kedua hal ini, dakwah sebagai bagian dari organisasi dan dakwah sebagai suatu kegiatan ke luar (dakwah kepada non muslim), perlu kiranya untuk diadakan proses pengelolaan yang maksimal. Dengan harapan ideal dalam pencapaian hasil yang bisa diraih yang berbentuk transformasi-transformasi nilai dan budaya yang mengarah kepada identitas keislaman secara khusus dan kepada kemaslahatan ummat manusia secara umum. Sehingga dakwah sebagai sebuah proses dipandang perlu adanya input dan output serta outcome yang terkontrol dan terawasi.
Khususnya dalam kaitan dengan dakwah yang menggunakan media massa cetak maupun elektronik, diperlukan adanya proses manajeman mutu demi pencapaian hasil yang maksimal tadi. Dari berbagai aspeknya, proses dakwah diperhatikan dan dilakukan pengelolaan. Termasuk di dalamnya rancangan hingga proses akhir setelahnya. Namun, manajeman yang diberikan mesti berlandaskan teori dan konsep yang ideal dan yang sifatnya holistic serta komprehensif. Tujuannya adalah agar dakwah bisa maksimal karena maksimal serta optimalnya segala potensi yang dikerahkan yang dimiliki oleh pelaku dakwah.

Pembahasan
Media Massa
Dakwah
Makna etimologis Dakwah dapat dilihat dari kata dakwah dalam Al-Quran yang memiliki banyak arti, antra lain : 
-          Menyampaikan dan menjelaskan (lihat QS Fushilat:24, Yusuf : 108 dll)
-          Berdo’a dan berharap (lihat QS Al-A’raf : 55)
-          Mengajak dan mengundang (lihat QS Yusuf : 33)
Para ulama dan pemikir muslim memberi makna dakwah secara terminologis dengan definisi yang variatif seperti  di bawah ini:
Ibnu Taimiyah : "Dakwah ke jalan Allah adalah dakwah untuk beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa nabi Muhammad SAW, yang mencakup keyakinan kepada rukun iman dan rukun Islam.
Al-Ustadz Al bahi-al-Khuli : "Dakwah Islam yaitu menghantarkan umat dari satu tempat/ kondisi ke tempat/ kondisi yang lain (1379: 35).
Rauf Syalabi : "Dakwah Islam adalah gerakan revitalisasi sistem Illahi yang diturunkan Allah kepada Nabi terakhir" (syalabi: 32)
Abu Bakar Dzikri : "Dakwah ialah bangkitnya para ulama Islam untuk mengajarkan Islam kepada umat Islam, agar mereka faham tentang agamanya dan tentang kehidupan, sesuai kemampuan setiap ulama.
Penulis memahami definisi-definisi tersebut diatas secara utuh dan lengkap dengan menyimpulkan, bahwa "Dakwah Islam ialah menyampaikan Islam kepada umat manusia seluruhnya dan mengajak mereka untuk komitmen dengan Islam pada setiap kondisi dan dimana serta kapan saja, dengan metodologi dan sarana tertentu, untuk tujuan tertentu".
tujuan dakwah adalah untuk mengubah masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik, lebih Islami, lebih sejahtera lahiriah maupun batiniah (hafiduddin: 67).
          Objek dakwah [ mad’u ] ialah orang yang menjadi sasaran dakwah, yaitu semua manusia, sebagaimana firman Allah SWT :
           “ Dan Kami tidak mengutus kamu, melainka kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Q.S. As-Saba’ 34: 28 ].
          Arifin (1977: 13-14) menjelaskan, berdasarkan ayat tersebut dapat difahami bahwa objek atau sasaran dakwah secara umum adalah seluruh manusia, dan objek dakwah secara khusus dapat ditinjau  dari berbagai aspek secara khusus sebagai berikut :
          1. Aspek usia ; anak-anak, remaja dan orang tua.
          2. Aspek kelamin ; Laki-laki dan perempuan.
          3. Aspek agama ; Islam dan kafir atau non muslim
          4. Aspek sosiologis ; Masyarakat terasing, pedesaan, kota kecil dan
              kota besar, serta masyarakat marjinal dari kota besar.
          5. Aspek sturktur kelembagaan ; Legislati, ekskutif, dan yudikatif.
          6. Aspek kultur ke-beragamaan ; Priyayi, abangan dan santri.
          7. Aspek ekonomi ; Golongan kaya, menegah, dan miskin.
          8. Aspek mata pencaharian ; Petani, peternak, pedagang, nelayan,
              karyawan, buruh dll.
          9. Aspek khusus ; Golongan masyarakat tuna susila, tuna netra, tuna
              rungu, tuna wisma, tuna karya, dan narapidana.
        10. Komunitas masyarakat seniman, baik seni musik, seni lukis, seni
              pahat, seni tari, artis, aktris dll.
Penutup
Daftar Pustaka
Ibnu Taimiyyah, Al Fatawa al-Kubro 15/158, cet 1, Mathobi’al-Riyadh
Albahi alKulli, Tadzkiroh ad-Du’at, Daarul Qalam, 1379, hal:35
Rauf Syalabi, Ad-Dakwah al Islamiyah Fi 'Ahdiha al-Makky, Manahijuha wa Ghoyatuha, hal : 32.
Abu Bakar Dzikri, ad-Dakwah ila al-Islam, Maktabah Darul Arubah Mesir, hal:8.
Didin Hafiduddin, Dakwah Aktual (Jakarta: Gema Insani Press), hal. 67.
H.M.Arifin, Psikologi Dakwah Suatu Pengantar, Bulan Bintang Jakarta 1977, hal. 13-14.


Comments

Popular posts from this blog

Ruh yang berdakwah